Pameran Jompa-Jampi, Cara Mahasiswa UM Menangkal Hoaks

Berita bohong atau sering dikenal dengan ‘hoaks’ mulai merajalela dan menyebabkan keresahan masyarakat. Cara menangkal hoaks bisa dalam berbagai bentuk dan media. Seperti yang dilakukan seniman-seniman muda Universitas Negeri Malang (UM) yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Minat (Samin) dengan menggelar pameran seni rupa. Pameran tersebut bertajuk “Jompa-Jampi” yang menggambarkan bahaya hoaks yang dikemas dalam kreativitas seni pada (1-3/3). Pameran ini bertempat di Dewan Kesenian Malang (DKM), Jl. Majapahit No. 3, Malang.

Pada acara pembukaan hari pertama, pengunjung disuguhi serangkaian pertunjukkan, seperti performance art , perform Instrumental, dan performakustik. Hari kedua digelar acara Mural Diklat 26, dan pada hari terakhir berlangsung sarasehan Artist Talk sebagai penutup acara. Dalam pameran ini, ada sekitar 25 karya yang dipamerkan di Gedung DKM. Mulai dari seni lukis, seni rupa, dan seni instalasi. “Yang dipajang dalam pameran ini, asli hasil dari anggota baru UKM Samin yang mengikuti diklat angkatan 26 yang merupakan karya individual dan karya kolektif,” ujar Tubagus Nurullah, selaku ketua pelaksana pameran.

Awal mula tema “Jompa-Jampi” dicetuskan, lanjut Tubagus, merupakan persamaan dari kata hoaks dari arti Jawa atau seni yang berarti mantra yang biasa dipakai dukun untuk menipu. “Karena banyak informasi yang belum terbukti kebenarannya yang disebut hoaks. Jadi, kata itu merupakan mantra orang Rusia untuk mengelabuhi seseorang atau senjata untuk menipu. Sedangkan kita hidup di Indonesia yakni di Jawa, maka agar lebih dekat dengan penonton dipilih Jompa-Jompi yang merupakan mantra dukun untuk menipu,” paparnya.

Beragam karya yang disajikan dalam gemerlapnya pameran. Salah satunya karya instalasi komik berjudul “Pahlawan adalah Kebohongan”. Karya itu menggambarkan bahwa pahlawan itu dapat menjadi pembunuh berantai yang bisa lebih hebat dari orang lain atau hanya seorang yang membakar semangat orang lain. Kata pahlawan sebenarnya dibuat hanya untuk sebuah jabatan kebohongan untuk memberikan ketenangan serta agar adanya tokoh yang diagungkan oleh masyarakat.

Pewarta: Karina Okta Bella

Bagikan informasi ini: