Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII UM: Jaga Tradisi, Bernas Inovasi, Lambungkan Prestasi

Milenial, merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang sedang terjadi saat ini untuk menyongsong revolusi industri 4.0. Semua hal dapat diakses dengan mudah melalui media internet dimanapun dan kapanpun. Berkaitan dengan hal ini, Universitas Negeri Malang (UM) yang telah memasuki tahun ke-65 telah siap untuk mengikuti perkembangan zaman di era milenial. Seperti pada serangkaian acara yang akan digelar UM untuk menyambut Dies Natalis yang ke-65. Acara Dies Natalis kali ini bertepatan dengan acara lima tahunan yaitu Lustrum. Tahun ini merupakan Lustrum UM yang ke-13 dengan mengangkat tema “Jaga Tradisi, Bernas Inovasi, Lambungkan Prestasi”. Adanya tema tersebut pada tahun ini bertujuan untuk menunjukkan keunggulan yang dimilki oleh UM baik di bidang kependidikan maupun non-kependidikan kepada khalayak umum dengan tidak meninggalkan unsur keaslian atau kultur UM yang dulu dikenal sebagai Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Banyak hal berbeda dan menarik yang diangkat pada lustrum kali ini untuk membedakan lustrum dan dies natalis yang sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana perbedaan dan hal menarik yang akan diusung pada Lustrum ke-13 dan Dies Natalis ke-65 tahun 2019 kali ini, Berikut ulasannya.

Makna dibalik Tema dan Logo Lustrum

Adanya kegiatan yang akan diusung pada peringatan Lustrum ke-13 dan Dies Natalis ke-65 ini, maka diangkat suatu tema yang telah disepakati bersama yaitu “ Jaga Tradisi, Bernas Inovasi, Lambungkan Prestasi”. Pemilihan tema kali ini dinilai sangat mewakili tujuan UM sebagai The Learning University. “Sejak awal sudah direncanakan ada enam pilihan topik yang akan diangkat menjadi sebuah tema lustrum, akhirnya oleh rapat pimpinan terpilihlah tiga frasa yang digunakan saat ini yaitu tema ini”, terang Hendra Susanto selaku Ketua Pelaksana Acara. Pada setiap frasa terdapat makna yang tersirat di dalamnya, yang pertama adalah “Jaga Tradisi”. “Jaga Tradisi” memiliki makna dimana UM yang dulunya dikenal sebagai Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang tetap dijadikan sebagai kultur dan dibawa hingga kini yang telah bertransformasi menjadi UM sejak tahun 1999. Meski telah menjadi Universitas, UM diharapkan untuk tetap memajukan IKIP sebagai versi yang lain. Apabila dulunya UM hanya berfokus pada bidang pendidikan, kini lebih seimbang, yaitu juga berfokus pada bidang pendidikan dan research. Dari hal inilah sehingga muncul kata-kata yang diangkat menjadi tema yaitu “Jaga Tradisi”.

Frasa kedua yaitu “Bernas Inovasi”, hal ini merupakan cikal bakal munculnya Pusat Unggulan Iptek (PUI) yang harus dikejar oleh UM. Inovasi yang harus dikembangkan oleh UM tidak hanya satu jalan yaitu pada pendidikan, melainkan pada non-kependidikan juga harus senantiasa dikembangkan. PUI yang dimiliki pada setiap universitas harus mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh universitas lain. Salah satu hal yang baru-baru ini diciptakan adalah Renewable Energy. Adanya PUI adalah sebagai partner atau sinergisitas dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M), sebab di dalamnya terdapat research, paten, prototype dan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). “Universitas tidak hanya harus berfokus pada kependidikan tetapi juga non-kependidikan yang berisikan inovasi, seperti kurikulum yang saat ini telah berubah yaitu Learning Based Curriculum atau kurikulum berbasis kehidupan”, tutur Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UM ini. Kurikulum berbasis kehidupan memiliki ruh, di mana kependidikan dan research harus berjalan secara beriringan. Kulminasi dari diterapkannya kurikulum ini adalah research dan publikasi harus semakin diperbanyak, serta rangking UM bisa naik di pemeringkatan nasional maupun internasional.

“Lambungkan Prestasi”, frasa terakhir ini sebagai hasil atau capaian prestasi dari pendidikan, research, dan publikasi yang memiliki landasan kokoh. Salah satu cara menaikkan peringkat UM adalah meningkatkan jumlah research dan publikasi dengan menggandeng partner luar negeri. Saat ini pihak UM telah mewajibkan kepada para peneliti untuk melakukan penelitian dengan ber-partner bersama orang asing yaitu visiting profesor. Harapan dilakukan kebijakan ini adalah untuk menaikkan publikasi UM.  Adanya publikasi yang naik, maka prestasi UM pun juga naik.

Tema yang diusung ini merupakan hasil dari adanya rapat pimpinan (rapim) yang telah dilakukan di bawah koordinator Wakil Rektor IV Bapak Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Tim pelaksana lustrum tahun 2019 ditugaskan kepada FMIPA dengan ketua pelaksana Hendra Susanto, S.Pd., M.Kes., Ph.D. Tim pelaksana ini ditunjuk secara bergantian pada setiap tahunnya, seperti pada tahun sebelumnya yang menjadi tim pelaksana adalah Fakultas Sastra, tahun sekarang FMIPA, dan tahun selanjutnya rencananya adalah Fakultas Ekonomi. “Tahun depan tidak ada serangkaian acara lustrum, hanya Dies Natalis ke 66, mengingat lustrum hanya dilakukan selama lima tahun sekali.”, ungkap Hendra.

Selain adanya makna mendalam dibalik tema Lustrum UM ke-13 dan Dies Natalis ke-65, pihak UM juga telah memiliki logo Lustrum. Logo Lustrum ke-13 dan Dies Natalis ke-65 ini telah di launching bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei 2019 silam. Logo yang telah di launching  di Stadion Cakrawala UM ini juga memiliki filosofi tersendiri. Filosofi logo lustrum ini sebenarnya merupakan sebuah transformasi digital. Warna yang ada pada logo yaitu warna hijau, kuning, dan biru merupakan warna yang dilandasi pada The Learning University, di mana ketiga warna dasar tersebut tidak boleh di ubah atau merupakan harga mati dari UM. “Rektor menyarankan, warna branding UM tidak boleh keluar dari warna logo tersebut. Apabila dicermati dengan baik, terlihat bahwa pada angka logo lustrum terdapat bentuk paruh yang berarti angka 1 dan 3 yang memfilosofikan lustrum ke-13. Apabila kedua angka ini digabungkan maka akan menjadi terlihat seperti angka 6, kemudian di belakangnya terdapat angka 5 yang melambangkan adanya Dies Natalis ke-65. “Arti dari transformasi dari logo ini menyimbolkan kedua acara yang akan diusung oleh UM, yaitu Lustrum ke-13 dan Dies Natalis ke-65. Sedangkan filosofi warna tetap mengacu kepada The Learning University yang menjadi warna paten milik UM”, jelas  Hendra Susanto, S.Pd., M.Kes., Ph.D saat ditemui di ruang kerjanya.

Rangkaian Acara Lustrum ke-13 dan Dies Natalis ke-65

Guna memeriahkan acara akbar ini, pihak UM telah menyusun serangkaian acara yang akan diselenggarakan. Acara yang pertama merupakan acara yang sudah dikerjakan terlebih dahulu adalah kegiatan dari bidang launching branding. Salah satu tugasnya adalah mengkoordinasi pembuatan logo lustrum dan launching logo. Program ini sudah dikerjakan terlebih dulu dan telah selesai sejak peringatan Hardiknas 2 Mei 2019. Selain itu, acara kedua  dimulai pada pekan Mei sampai bulan Agustus minggu kedua pada bidang seni olahraga atau non-akademik bersama tim launching branding, yaitu akan melakukan launching lomba maskot dan desain batik UM. “Kedepannya kita akan mempunyai beberapa maskot dan desain batik, hal tersebut mengadopsi seperti filosofinya garuda Indonesia yang sudah diorientasikan. Harapannya  pada bulan Agustus nanti sudah muncul pemenang lomba maskot UM dan desain batik”, ungkap dosen jurusan Biologi FMIPA ini. Produksi yang dihasilkan pada pertengahan Agustus sampai akhir September akan dilaunching pada acara puncak upacara lustrum, yaitu pada Jumat pagi 18 Oktober 2019. Semua rapim dan undangan dari luar UM akan diberikan batik sebagai seragam, maskot, dan goodie bag sebagai oleh-oleh. Acara ketiga, pada bulan Oktober minggu kedua kegiatan paling banyak adalah pada bidang olahraga. Ada beberapa macam kegiatan seperti jalan sehat, gowes UM Mania, senam aerobik, badminton, tenis meja, tenis lapangan, dan voli. Pada bidang seni budaya akan difokuskan dari tanggal 14 sampai 17 Oktober 2019 yaitu kegiatan berupa talkshow akademik dengan pemateri dari Chief Executive Officer (CEO) Grab atau wakil direktur Grab dan Direktur Bukalapak.com, serta talent show duta kampus yang menjadi satu paket perayaan pada malam hari yang sama, senin 14 Oktober 2019.

Bukan hanya acara tersebut, melainkan pada pagi hari 15 Oktober 2019 akan diadakan seminar akademik tentang laboratorium manajemen. Seminar ini diperlukan sebab kedepannya UM akan mempunyai research center seperti yang sudah ada di Biologi FMIPA yaitu lab center Bio technology dan UM halal center. Laboratorium manajemen ini merupakan cara untuk mengetahui bagaimana memanajemen sebuah lab. Ada pula berbagai rangkaian acara yang lain yaitu International Food Festival, International Art & Culture Festival, Fashion Show, Workshop rias seni, Ormawa of The Year, serta grandfinal duta kampus. Pada puncak acara nanti akan ada Performing Art Festival dan Loading Art Concerto yang akan dikoordinator oleh Bapak Agus Sunandar. Pada acara ini juga akan terdapat model fashion show dengan konsep yang sudah ditentukan. “Kalau ingin masuk dan mengikuti acara ini dikenakan biaya masuk berupa Harga Tiket Masuk (HTM) karena rencananya juga akan diundang seorang bintang tamu yaitu Via Vallen. Acara ini dibuka untuk semua mahasiswa UM dan kalangan umum”, imbuh pria yang lahir 38 tahun silam ini. Selain itu, hasil lomba desain batik yang sudah dilaksanakan sebelumnya juga akan dipamerkan pada acara tersebut. Pada hari Jumat 18 Oktober 2019 merupakan acara puncak yaitu Upacara Lustrum Orasi Ilmiah, di mana sampai saat ini masih diusahakan mendatangkan seorang speaker yaitu bapak Ilham Habibie. Tokoh tersebut merupakan tokoh hasil dari rapim, yaitu tokoh Indonesia yang mempunyai research pada bidang apapun dan di dedikasikan untuk Indonesia. Pada malam harinya terdapat acara Gebyar Lustrum yang direncanakan akan mengundang Kyai Kanjeng yang kemudian dipadu dan akulturasikan dengan orkestra dari UM. Semua rangkaian ini merupakan rangkaian dari bidang non-akademik yang dilaksanakan dan disebut sebagai Pekan Lustrum. Pada kegiatan terakhir yaitu berupa launching branding, tim launching branding sendiri mempunyai keunikan dan diminta oleh rapim untuk membuat beberapa terobosan yang menjadi paten UM berupa brand color. di mana ada warna yang tidak boleh di ubah dari segi apapun. Tim pelaksana launching branding berasal dari Fakultas Sastra seperti dosen Desain Komunikasi dan Visual (DKV) bersama mahasiswa dan beberapa tim dari bapak Agus Sunandar. Selain itu ada buku guideline yang akan dipublikasikan seperti halnya Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (PPKI) yang didalamnya berisi berbagai panduan dalam pembuatan logo, batik, dan aturan-aturan yang lainnya. Pihak UM juga akan melakukan perbanyakan tim untuk pembuatan videotron seperti yang sudah terpasang di depan masjid UM. “Tujuan adanya lustrum ini adalah agar acara ini menjadi momentum bagi UM agar lebih selaras kedepannya.“, harap pria dengan senyum ramahnya ketika di wawancara oleh tim komunikasi. Lokasi utama pelaksanaan serangkaian kegiatan lustrum ini berada di Graha Cakrawala serta mengundang khalayak umum untuk ikut memeriahkan puncak acara Lustrum ke-13 dan Dies Natalis ke-65 UM.

Humas UM : “Kesiapan pendukung acara Lustrum sudah 1000%“

Pada tahun ini lustrum mengambil tema sedikit milenial karena suatu tuntutan era ke depan yang sudah mudah dalam mengakses segala sesuatu. Maka dari itu, kali ini ingin dibuat suatu kegiatan yang membedakan dari tahun sebelumnya seperti launching maskot. Di mana UM belum mempunyai maskot sampai sekarang, padahal kampus lain sudah memiliki maskotnya sendiri. Hal ini nantinya akan menjadi salah satu ikon milenial kampus dan branding luar negeri. Pada bidang seni, pihak UM menginginkan sesuatu yang berbeda, tidak hanya berupa pameran, tetapi memadukan berbagai macam seni lainnya. Pameran ini merupakan rencana gabungan dari semua invensi, inovasi mahasiswa dan dosen yang akan diberikan stan dan dipasang selama satu pekan lustrum berlangsung. Harapan pertama adanya pameran ini adalah untuk mengenalkan UM pada khalayak umum, bahwa tidak hanya pameran tetapi juga kegiatan di dalamnya semua dipadu padankan menjadi suatu kultur di UM. Kedua, menarik orang asing atau foreigner di mana di UM sudah ada komunitasnya, apabila UM dapat mengaviliasi kerja sama network bersama orang asing maka UM harus membuka diri. Acara ini diharapkan tidak seperti tahun sebelumnya, tetapi mencoba sesuatu yang lebih fresh, agar lebih terkenang bagi mahasiswa maupun dosen. Selain itu, terdapat hal yang menarik dalam perlombaan, yaitu bahwa tim lomba terdiri dari gabungan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk mewakili setiap fakultasnya. Hal lain yang menarik juga, di setiap fakultas diwajibkan membuat Photospot bertemakan lustrum UM minimal dua sampai 3 yang nantinya akan dilombakan di instragam, kemudian akan dinilai oleh orang dari bidang seni dan budaya. “ Jadi acara ini dibikin lebih gaul dikit, biar tidak kaku”, ungkap Hendra.

Berkaitan dengan hal tersebut, tim Hubungan Masyarakat (Humas) UM juga telah melakukan berbagai persiapan yang matang guna melangsungkan acara akbar ini. Tim Humas mengaku bahwa saat ini masih memilih-milih terkait bintang tamu yang akan didatangkan. „Acara Lustrum ini kan 5 tahun sekali, jadi harus bisa menampilkan sesuatu yang berbeda“, tutur Aminarti Siti Wahyuni, selaku Sekretaris Acara. Selain itu, berbagai kegiatan yang diadakan oleh seluruh unit kerja UM harus masuk dalam koridor lustrum yaitu harus mencantumkan logo lustrum. Misalnya pada tanggal 24-26 Mei 2019 ada pameran perubahan iklim kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, namun harus menyertakan logo lustrum. Tim acara Lustrum dan Dies Natalis juga telah mempersiapkan rangkaian kegiatan akademik berupa orasi ilmiah, penganugerahan doktor dan profesor baru, pemeringkatan unit kerja, the learning university award. The Learning University Award ini merupakan acara yang telah dilakukan dua kali dalam Dies Natalis UM, namun pada tahun ini berbeda dikarenakan indikator penilaiannya lebih berbobot, misalnya terkait berapa jumlah penelitian yang telah dilakukan, jumlah yang terindeks skopus,dll. „Kesiapan dari segi pendukung acara dinilai sudah siap 1000%, namun untuk pengisi acara dan bintang tamu ada beberapa yang belum confirm.“ , jelasnya.

Pihak humas juga membuka perekrutan Liasion Officer (L.O.) yang dilakukan terbuka secara online kepada 50 mahasiswa yang ingin berpartisipasi menjadi panitia Lustrum. Pembukaan dibuka hingga tanggal 30 Mei 2019 yang nantinya akan dilanjutkan dengan seleksi administrasi dan wawancara pada bulan Juni 2019. Para mahasiswa yang terpilih menjadi L.O nantinya akan berkerja bersama demi terselenggaranya acara ini dengan ruangan kerja yang berada di Graha Rektorat Lantai 1. Selain itu, para L.O akan bekerja mulai bulan Juni hingga Oktober 2019. „Mudah-mudahan acara yang kita suguhkan itu cocok dengan generasi saat ini, yaitu generasi milineal. Misalnya mendatangkan CEO Grab, Bedah Film Bayu Skak. Kalau dulu pameran pendidikan itu selalu akademik, sekarang juga berbau seni, acara lebih semarak dan tidak garing. Acara ini juga ditujukan bagi seluruh khalayak masyarakat, terutama siswa-siswi SMA.”, harap wanita yang akrab disapa Yuni ini.

Tanggapan Civitas Akademika

Adanya berbagai inovasi yang akan dilakukan dalam acara Lustrum ke-13 dan Dies Natalis ke-65 ini menuai berbagai tanggapan dari civitas akademika. Salah satunya Iis Nanda Pratiwi, ia menyatakan bahwa dengan adanya inovasi yang akan dilakukan oleh pihak UM dalam acara Lustrum UM ke-13 dan Dies Natalis ke-65 dinilai sangat keren. “Tema yang diangkat kekinian sekali, sesuai dengan jamannya. Jaman yang benar-benar menuntut sumber daya manusia yang berkualitas, berprestasi, dan mampu untuk terus berinovasi”, tambah mahasiswi yang pernah mengikuti beasiswa ke Tiongkok ini. Inovasi tersebut yang dibutuhkan oleh seluruh mahasiswa UM, hal tersebut dikarenakan mahasiswa UM merupakan calon pendidik yang nantinya akan mendidik generasi penerus bangsa Indonesia. “Jangan jago kandang saja atau menjadi katak dalam tempurung, gaulnya tidak ada. Lebih mengenalkan UM ke khalayak umum agar lebih dikenal, sehingga tidak salah persepsi menafsirkan UM”, harap Hendra Susanto. Ia juga menambahkan bahwa perwujudan tiga frasa yang telah dibuat sesuai tema, akademik dan seni budaya harus jalan beriringan.Fanisha/Tanzilla

Bagikan informasi ini: