Rawat Budaya Agar Tak Salah Arah

Tampilan seni dan budaya Banyuwangi begitu memukau penonton yang hadir di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM). Jumat (29/03) Ikawatan Mahasiswa Banyuwangi (Ikawangi) Malang Raya menggelar Festival Seni dan Budaya Banyuwangi sebagai wadah bagi seniman Banyuwangi menunjukkan penampilannya. Acara yang dihadiri oleh ribuan penonton tersebut menyuguhkan beberapa tarian daerah, sinden, dan bintang tamu ternama, seperti Sahiba Syaufa, Vita Alvia, dan De Javas.
Memukau. Seratus Penari Gandrung menutup acara Banyuwangi Festival

Tarian nusantara khas Banyuwangi yang ditampilkan antara lain tari rodat, tari sorote lintang, tari sri ganyong, tari diyu, tari jaripah, tari aji kembang, tari barong, dan yang paling fenomental adalah penampilan seratus penari gandrung yang menjadi penutup acara di malam hari. Tak ketinggalan, anak-anak kecil pun ikut tampil menarikan tari capung semebyar yang juga merupakan salah satu tarian Banyuwangi.
Mengusung tema “Amuke Satriya Minak Jinggo”, Festival Seni dan Budaya Banyuwangi diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat para pemuda, khususnya Ikawangi. Mengingat, lambat laun generasi muda kurang memerhatikan seni dan budaya. “Kita ingin mengembalikan semangatnya lagi, menumbuhkan kembali rasa cinta bangga dan semangatnya untuk seni dan budaya,” ujar Nanang Tri Wahyudi, ketua pelaksana festival. Sejatinya, Festival Seni dan Budaya Banyuwangi bertujuan untuk mengenalkan budaya dan seni ke seluruh Indonesia, khususnya warga Malang.
Selain menampilkan seni dan budaya Banyuwangi, Ikawangi Malang Raya juga mengundang organisasi lain untuk turut mempersembahkan penampilan budaya, salah satunya adalah jaranan trenggalek. komunitas Gamelan dan Tari (Gatra) UM juga turut memeriahkan acara. Di luar gedung, pengunjung juga bisa menengok berbagai kreasi seni khas Banyuwangi.
Acara yang terselenggara berkat kerja Ikawangi Malang Raya dengan UM, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Pemerintah Kota Malang, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Malang ini dihadirkan dalam rangak memeringati Hari Jadi Ikawangi Malang Raya yang ketiga pada 12 Februari. Hingga saat ini, Ikawangi Malang Raya menaungi Ikawangi di tujuh kampus di Kota Malang, meliputi Ikawangi UM, Ikawangi Universitas Brawijaya (UB), Ikawangi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (Uinma), Ikawangi Universitas Islam Malang (Unisma), Ikawangi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ikawangi Politeknik Negeri Malang (Polinema), dan Ikawangi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Malang.
Banyuwangi Festival merupakan inovasi atraksi yang mengemas tradisi menjadi kunjungan wisata dan menjadi hal unik bagi mancanegara. Festival tahun 2019 ini merupakan gebyar kedua yang diadakan oleh Ikawangi. Sebelumnya, pada tahun 2016, Ikawangi Malang Raya telah menggelar gebyar pertama dengan nama Kampung Budaya Bumi Nusantara yang mengundang organisasi daerah (orda) seluruh nusantara. Acara tiga tahun silam di Taman Krida Budaya tersebut sekaligus menjadi momen dideklarasikannya Ikawangi Malang Raya.
“Seni dan budaya adalah suatu sejarah, jangan pernah meninggalkan sejarah agar tidak salah arah,” pesan Nanang. Meskipun festival pada tahun ini mendapati sedikit kendala yang menyebabkan tidak dapat terlaksananya agenda pada hari pertama, Kamis (28/03). Namun, Festival Seni dan Budaya Banyuwangi yang telah dipersiapkan sejak tiga bulan sebelumnya ini sukses menarik minat pengunjung, terutama dengan tari gandrungnya. Sendratasik gandrung merupakan kesenian sakral menari dan menyanyi yang dipelajari sejak kecil oleh penarinya hingga akhirnya dapat diwisuda melalui ritual meras gandrung. Dalam festival ini, turut hadir temu misti, maestro tari gandrung yang merupakan generasi ketiga dari gandrung pertama di zaman belanda. Diah

Bagikan informasi ini: