Kenalkan Manually Coded English (MCE) pada Anak Tunarungu

Bahasa Inggris memiliki keunikan bahasa tersendiri. Salah satunya adalah penulisan kata dalam bahasa Inggris yang tidak selalu sama dengan pelafalannya. Berawal dari ide tersebut, tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berinisiatif mengembangkannya menjadi metode pengajaran yang unik dan memudahkan penyandang tunarungu. Mereka adalah Risa Safira Ramadani, Nindya Ayu, dan Nur Nilam Ayu dari Jurusan Pendidikan Luar Biasa dan Jurusan Sastra Inggris UM. Ide Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dibina oleh Drs. Abdul huda, M.Pd. ini adalah satu-satunya PKM Penelitian Sosial Humaniora (PKMP-SH) yang lolos dari UM. Penelitian ini berfokus pada cara pelafalan kata ( pronunciation) dalam bahasa Inggris. Nama metode tersebut adalah Manually Coded English (MCE), pembelajaran bahasa Inggris dikombinasikan dengan bahasa Isyarat.

Risa, ketua tim, menceritakan hasil observasinya di sekolah luar biasa bagian tunarungu (SLB-B) Yayasan Pendidikan Tuna Bangsa (YPTB), bahwa anak tunarungu seringkali mengucapkan kalimat sebagaimana tulisannya. “Misalnya good morning, mereka masih mengucapkannya seperti tulisan. Padahal sebetulnya kan \?gu?d\ \?mo?r-ni?\,” katanya sembari memperagakan pengucapannya menggunakan bahasa Isyarat. Anak SMP kelas tujuh dari SLB-B YPTB akhirnya dipilih sebagai subjek penelitian sebagai langkah awal penanganan masalah dan penerapan solusi agar tidak terjadi kesalahan pelafalan. Metode tersebut mendapatkan respons positif dari anak SLB-B YPTB. “Mereka jadi tahu. Oh, ternyata selama ini dia salah,” tutur Risa menceritakan respon yang ia dapat.

Luaran penelitian ini adalah sebuah aplikasi berisi metode MCE. “Sebenarnya guru bisa membenarkan pronunciation mereka. Tapi, kan tidak mungkin guru membetulkan satu per satu anak. Jadi aplikasi ini bisa mempermudah guru juga,” ungkap gadis asal Blitar ini. Aplikasi tersebut juga dapat digunakan secara mandiri oleh anak tunarungu.

Respons positif juga dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendi. “Ya, ini ide kreatif. Saya kira untuk mengatasi berbagai macam kesulitan yang dihadapi oleh para siswa penderita difabel berkebutuhan khusus,” tuturnya saat berkunjung ke UM pada Rabu, 07/08. Dia berharap aplikasi tersebut dapat meningkatkan proses belajar mengajar anak berkebutuhan khusus menjadi semakin baik.

Pewarta: Maria Ulfa/S1 Pendidikan Bahasa Inggris

Bagikan informasi ini: