Meniti Jejak Sejarah Andalusia yang (Bukan) Sekadar Dongeng Klasik

Judul Buku      : Jejak Sejarah Andalusia

Penulis             : Achmad Farid

Penerbit           : Penerbit Checklist

Cetakan           : 2018

Tebal               : 242 halaman

Andalusia. Apakah itu nama kota? Ataukah nama negara? Barangkali sedikit sekali yang mengenal Andalusia sebagai titik awal kemajuan peradaban Eropa pada abad 7. Berdasarkan catatan dari Oxford Dictionary of Islam, Andalusia merujuk kepada wilayah yang berada di Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor antara tahun 711—1492 M. Andalusia merupakan setitik torehan tinta emas dalam lautan sejarah peradaban Islam di dunia. Itulah yang ingin ‘dikisahkan’ Achmad Farid melalui bukunya Jejak Sejarah Andalusia —tentang sebuah peradaban gemilang yang nyaris menghilang dari catatan sejarah.

Ada yang mengatakan sejarah bersifat subjektif, karena diceritakan berdasarkan perspektif pengisahnya. Demikian pula dengan kisah peradaban Andalusia, dari awal masa penaklukan, masa kejayaan, hingga masa keruntuhannya, ada beragam versi sejarah. Melalui bukunya, Achmad Farid menguraikan salah satu versi sejarah Andalusia berupa runtutan peristiwa besar terangkum dalam 7 bab. Sebelum memasuki pembahasan bab pertama, Farid menyampaikan sedikit keluh kesah tentang masih sedikitnya bahan bacaan yang membahas tentang Andalusia, setidaknya tidak sebanyak bahasan tentang Muhammad Al-Fatih dan Konstantinopel. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, kecemerlangan peradaban Andalusia di bawah kepemimpinan Islam tidak kalah berjayanya dengan kisah Kekhalifahan Utsmani yang tenar.

Achmad Farid membuka halaman pertama bab I dengan sebuah kutipan yang menarik. Umat tanpa sejarah tidak memiliki masa depan. Siapa saja yang tidak mau mengambil pelajaran dari sejarah, ia pasti akan digilas sejarah. Dari kutipan tersebut, seolah penulis ingin menyampaikan betapa urgensi mempelajari sejarah. Manusia bisa hidup hari ini berkat serangkaian peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau. Oleh karena itu, buta terhadap sejarah akan membuat manusia terus mengulang kesalahan yang sama sebagaimana masa lampau. Terlepas dari perbedaan sudut pandang penceritaan sejarah, ada banyak poin berharga yang bisa didapatkan dengan mempelajari sejarah.

Penulis mencoba menguraikan runtutan peristiwa besar yang membentuk peradaban Andalusia seobjektif mungkin dengan menyertakan rujukan yang kredibel di bagian catatan kaki. Pada bab I, penulis mengawali pembahasan dengan mengisahkan kondisi dan situasi sosial masyarakat Andalusia sebelum adanya penaklukan oleh pasukan Muslim. Selain itu ditambahkan pula penjelasan yang relevan terkait keadaan geografis dan topografi Andalusia yang menggambarkan posisi wilayah tersebut terhadap kerajaan lain di sekitarnya. Achmad Farid bahkan menyinggung tentang kebesaran negeri tetangga, Yunani, yang konon tersohor akan pengetahuan dan filsafat, serta ketajaman mereka dalam memahami rahasia alam. Bangsa Yunani disebut telah meramalkan bahwa kelak Andalusia akan diserbu oleh bangsa lain yang membawanya pada kejayaan. Penulis menyertakan beberapa catatan kaki yang menjadi rujukannya dalam menyampaikan bagian ini agar tidak terkesan berbau dongeng klasik.

Bab-bab selanjutnya dalam buku Jejak Sejarah Andalusia ini menjabarkan kronologi penaklukan Andalusia mulai dari ‘mendaratnya’ pasukan Thariq bin Ziyad di Selat Gibraltar (versi lain menyebut Bukit Gibraltar sehingga muncul nama Jabal at-Thariq yang berarti ‘gunung/bukit Thariq’). Selanjutnya dijelaskan secara runtut proses penaklukan yang gemilang oleh pasukan Muslim hingga tahun 714 M wilayah Andalusia dipimpin secara penuh oleh gubernur yang berafiliasi dengan Kekhalifahan Umayyah di Damaskus. Penulis menggambarkan peristiwa penaklukan itu dengan bahasa yang dramatis dan penuh metafora, sehingga lebih seperti membawa suasana fiktif pada kejadian nyata. Jika pembaca tidak jeli, maka akan sulit membedakan mana fakta dan mana fiktif dari cerita penulis.

Penulis mengisahkan proses pembangunan di awal berdirinya pemerintahan kaum Muslim di Andalusia hingga perkembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan yang berdampak pada cikal bakal munculnya pengetahuan dunia modern. Kehidupan masyarakat Andalusia yang sebelumnya terpolarisasi ke dalam strata dan kelas sosial, berubah menjadi semua berhak mendapatkan perlakuan yang sama tanpa ada pembedaan berdasarkan kekayaan. Toleransi antarumat beragama juga tinggi, karena selain umat Islam, hidup pula umat Katolik, Kristen, dan Yahudi yang hidup dalam satu kesatuan Andalusia. Hal ini menunjukkan meskipun di bawah tambuk pemerintahan Islam, tidak ada paksaan dalam bentuk apapun agar semua masyarakat menganut agama Islam. Masing-masing diizinkan jika ingin berpegang teguh pada keyakinan yang dianutnya.

Penulis juga mengisahkan bagaimana perekonomian masyarakat yang maju pesat berkat posisi Andalusia yang strategis untuk perdagangan lintas kerajaan. Dalam bidang ilmu pengetahuan Andalusia banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan tersohor, seperti Ibnu Hazm, seorang geneologis, sejarawan, filosof dari Kordoba; Maslama al-Majriti yang disebut sebagai imam Matematika; Abu al-Qasim Khalaf bin al-Abbas atau al-Zahrawi yang harum namanya di dunia kedokteran; dan masih banyak lagi ilmuwan lain. Kordoba (sekarang bernama Cordova) menjadi pusat peradaban Eropa yang menjadi kiblat perkembangan ilmu pengetahuan dan pusat pendidikan masa itu. Kordoba juga terkenal dengan bangunan-bangunannya yang memiliki arsitektur menakjubkan sehingga dijadikan rujukan dalam perkembangan dunia arsitektur modern. Kota-kota penting lain seperti Sevilla, Granada, dan sebagainya juga mengalami kemajuan yang pesat dalam hal perekonomian dan kebudayaan.

Itu hanya sebagian kecil gambaran kemahsyuran peradaban Andalusia selama kurang lebih 8 abad yang dikisahkan dalam buku Jejak Sejarah Andalusia. Memasuki bab-bab akhir, penulis menyampaikan ringkasan penyebab runtuhnya peradaban agung Andalusia. Di antara yang sering disinggung penulis tentang kemunduran peradaban adalah karena munculnya sifat tamak dan serakah duniawi kepada diri para penguasa. Mereka melalaikan amanah rakyat di pundak dan malah sibuk mengenyangkan perut masing-masing. Selain itu, penulis juga menyinggung tentang mulai ditinggalkannya nilai-nilai Islam dari kehidupan masyarakat, terutama para pemimpin. Mereka menjadi gemar berkubang dalam kemaksiatan hingga lalai mengurusi pemerintahan.

Achmad Faris berupaya menyajikan ulasan kisah sejarah dari banyak sumber yang dicantumkan pada catatan kaki. Sayangnya pada halaman akhir buku tidak dicantumkan daftar pustaka dari kumpulan catatan kaki tersebut, sehingga pembaca harus membaca ulang jika ingin menelusuri rujukan yang digunakan penulis. Pada beberapa bagian, penulis terlalu banyak memberikan perumpamaan dan metafora yang sebenarnya tidak terlalu penting, sehingga mengganggu fokus pembaca yang ingin berkonsentrasi pada alur tiap peristiwa.

Secara umum, penulis sudah berusaha mendudukkan sudut pandang seobjektif mungkin, meskipun pada akhirnya buku Jejak Sejarah Andalusia ini mengandung perspektif penulisnya yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam. Dengan gaya bahasa yang indah dan banyak petuah menarik, buku ini telah menyajikan sejarah peradaban Andalusia tanpa membuat pembaca bosan. Buku ini bukanlah tulisan ilmiah, sehingga hanya memberikan gambaran kasar atas peristiwa yang terjadi. Namun bisa sebagai pijakan awal untuk memahami sejarah perkembangan Islam di Eropa, khususnya di Andalusia.

Bagikan informasi ini: