Link
KATEGORI
- Adobe Reader (1)
- agama (22)
- Arsip PDF (4)
- Cerita Mereka (7)
- Cover Story (9)
- forum guru (16)
- Forum Kita (24)
- Gagasan (2)
- Highlights (7)
- iklan (68)
- Image (1)
- info (104)
- interaktif (6)
- Karikatur (1)
- kata bijak (11)
- Komunikasi Digital Magazine (1)
- Lain-lain (7)
- Laporan Khusus (38)
- Laporan Utama (24)
- Lensa Kom (9)
- Lowongan (1)
- opini (42)
- pernik (25)
- Profil (45)
- Pustaka (43)
- rancak budaya (67)
- saintek (19)
- Salam Redaksi (25)
- Sampul (5)
- school news (9)
- seputar kampus (206)
- Surat Pembaca (22)
- Ucapan Selamat (2)
- up to date (25)
- wisata (24)
Pencarian
Arsip
- May 2013 (1)
- April 2013 (35)
- March 2013 (41)
- January 2013 (19)
- December 2012 (14)
- October 2012 (39)
- August 2012 (39)
- June 2012 (35)
- May 2012 (128)
- November 2011 (26)
- October 2011 (4)
- August 2011 (44)
- June 2011 (40)
- May 2011 (2)
- April 2011 (41)
- March 2011 (38)
- December 2010 (40)
- November 2010 (36)
- August 2010 (3)
- July 2010 (35)
- May 2010 (43)
- March 2010 (50)
- February 2010 (1)
- January 2010 (1)
- December 2009 (70)
- November 2009 (2)
- October 2009 (1)
- September 2009 (30)
- July 2009 (28)
- June 2009 (2)
- May 2009 (33)
Form Login
Komentar Terkini
- aris: mantap informasinya…
- mirha cute: youuuuuuupzzzzzzzzzzzz muancappppppppppp
- Chat: Thanx Admin…
- nisa: aku suka sajak, tapi aku kadang bingung sendiri memaknainya. hehe.
- wahyu lestari ningrum: mohon informasinya untuk KKT 2013 trima kasih
Monthly Archives: June 2012
janur gunung
maafkan aku, yang tak paham dengan sakit gigimu. maafkan aku, yang senantiasa sembunyikan malam dari siangmu. aku bahkan tak tahu jika cintamu cukup sederhana, seperti rasa tak doyanmu akan sayur pare. malang, 27 mei 2012 Penulis adalah alumnus Sastra Jerman
Posted in rancak budaya
1 Comment
pring
pada perkawinan kita di musim kemarau itu, aku hanya bisa menghadiahimu hatiku yang (sepertinya hanya) sebelah. sayang, aku bukanlah malaikat yang mengitari malam kala bulan penuh. aku bukanlah kemerisik bambu di jalan tembus belakang rumahmu. malang, 27 mei 2012
Posted in rancak budaya
Leave a comment
jenaka
bahkan tiap malam aku merenda jejaring lelaba sebagai bekal rumah kita, nanti. sementara di hari yang lain aku membuka ladang untukmu menanam bunga, nanti. kemudian rajamu mengundangku makan malam di dangau tempat kita dulu berkicau, tadi. mataku sempat meluputkan ketika … Continue reading
Posted in rancak budaya
Leave a comment
waktu kita yang sakit
takkah engkau lihat matahari di batas timur di hari minggu ini, di mana orang berbondongbondong? takkah engkau mendengar berita kematian tetangga melalui corong masjid sore kemarin? takkah engkau ingat tesismu meraungraung di meja kecil di kamar kita menunggu kedatanganmu? takkah … Continue reading
Posted in rancak budaya
Leave a comment
pagar depan rumah, suatu sore
sudah berterjalterjal dan berdakidaki setiap langkah perjalanan kita, sayang. engkau pun selalu mengeluh, tulang punggungmu mulai terserang encok. dan barangkali besok aku mengalami menopause, di balik pagar ini, di balik pagar rumah ini. sudah ribuan ton beras yang kutanak untukmu, … Continue reading
Posted in rancak budaya
Leave a comment