Pemanfaatan Permainan Tradisional dalam Pembelajaran

Oleh: Fauziah Rachmawati

Keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh tingginya pendidikan seorang pendidik. Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang berhasilnya pembelajaran. Keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan yang ada di lingkungan sekitar. Permainan tradisional daerah juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.
Dalam kajian sosial-budaya, permainan tradisional merupakan salah satu warisan budaya. Dan, warisan budaya memiliki keperluan untuk dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya. Unsur ini merupakan sebuah sarana sosialisasi yang efektif dari nilai-nilai yang dipandang penting oleh suatu masyarakat. Nilai-nilai ini kemudian dapat menjadi pedoman hidup, pedoman berperilaku dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat. Mainan tradisional juga dekat dengan alam dan memberikan kontribusi bagi pengembangan pribadi anak.
Jika diperhatikan lebih jauh, anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan permainan elektronik di komputer atau video game ketimbang permainan lokal dan dari departemen terkait masih kurang memperhatikan bagi pelestarian budaya lokal ini. Padahal permainan tradisional baik untuk bermain (play) atau bertanding (game) memiliki nilai-nilai budaya kepribadian pembangunan bangsa yang telah menjadi sarana berkehidupan bermasyarakat secara turun-temurun.
Berpangkal dari kondisi tersebut, perlu kiranya pengkajian yang lebih mendalam tentang manfaat yang dapat diperoleh melalui permainan tradisional baik secara kognitif, psikologis, maupun sosial.
Permainan tradisional yang cukup beragam itu perlu digali dan dikembangkan karena mengandung nilai-nilai seperti kejujuran, sportivitas, kegigihan dan kegotong royongan.
Permainan tradisional juga dapat mengembangkan kreativitas anak, kognitif, afektif maupun motoriknya. Contoh permainan tradisional yaitu gobag sodor, engklek, gasingan, yoyo, egrang, dakon, dan pasaran.
Dalam permainan tradisional terdapat aspek-aspek yang ditonjolkan. Gobag sodor misalnya menonjolkan kerja sama dan kompetisi (keterampilan sosial), dakonan menonjolkan kemampuan untuk dapat mengembangkan keterampilan kognitif dan melalui engklek dapat mengembangkan keterampilan motorik dan keseimbangan. Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.
Pasaran atau jual beli merupakan salah satu permainan tradisonal yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, terutama pembelajaran model tematik. Permainan ini selain mudah dilaksanakan juga tidak mahal. Rata-rata anak yang tinggal di daerah pedesaan mengenal permainan ini. Dengan menggunakan pembelajaran tematik, permainan ini dapat mencakup berbagai bidang studi pelajaran. Pelajaran yang dapat diterapkan dalam permainan ini adalah Matematika (berhitung), Bahasa Indonesia (percakapan, tawar menawar), IPS (hakikat jual beli), PKn (sopan santun dalam berjual beli), Agama (kejujuran), Penjaskes (motorik), Seni Budaya dan Keterampilan (ketrampilan membungkus dan melipat benda), dan berbagai manfaat lain.
Permainan tradisional mempunyai makna simbolis di balik gerakan, ucapan, maupun alat-alat yang digunakan. Pesan-pesan tersebut bermanfaat bagi perkembangan kognitif, emosi dan sosial anak sebagai persiapan/sarana belajar menuju kehidupan di masa dewasa. Pesatnya perkembangan permainan elektronik membuat posisi permainan tradisional nyaris tak dikenal. Memperhatikan hal tersebut perlu usaha-usaha dari berbagai pihak untuk mengkaji dan melestarikan keberadaannya melalui pembelajaran ulang pada generasi sekarang melalui proses modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi sekarang.
Operasional pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisional pasaran dapat dilakukan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar. Misalnya tanah sebagai pengganti pasir sebagai pengganti beras, kerikil kecil sebagai pengganti gula, minyak goreng dapat menggunakan air dicampuri daun bunga sepatu. Peralatan tulis siswa seperti pensil, bolpoint, penghapus, buku tulis, buku pelajaran, tas. Pada permainan ini anak-anak juga dilatih untuk bersosialisasi dengan melakukan tawar-menawar. Melatih kesabaran dengan membudayakan antri waktu melakukan jual beli.
Semua hal ini senantiasa dilakukan agar anak-anak sejak usia dini dapat mengenal dan mencintai permainan tradisional, sehingga permainan tradisional tidak tergerus oleh zaman.

?    Penulis adalah Mahasiswa S-1 PGSD Universitas Negeri Malang. Guru SDN Sumberpucung 07.

This entry was posted in forum guru. Bookmark the permalink.

34 Responses to Pemanfaatan Permainan Tradisional dalam Pembelajaran

  1. wilis eka says:

    asSalamu’alaikum….
    boleh minta saran untuk membelajarkan PKn dengan metode permainan dan contoh metode permainan yang tepat untuk kelas rendah?

  2. arini says:

    saya sedang bikin skripsi tentang pengaplikasian permainan tradisional untuk menunjang kosa kata dalam pembelajaran bahasa arab..
    saya sangat sepakat dengan yang anda tulis…

  3. Prima says:

    Saya tambah bermotivasi sehubungan dengan apa yang anda tulis.Saya sekarang baru buat skripsi tentang Pengembangan Model Pembelajaran Permainan Tradisional Gobag Sodor Pada Kelas Tinggi.
    Saya juga Mahasiswa Jur PGPJSD S1,jadi saya minta saran atau masukan dari anda yang berhubungan tentang Pengembangan permainan tersebut.Saran dan masukan dari anda sangat berarti buat saya dan tema-teman seprofesi saya.Terima kasih…(PGPJSD S1 07)

  4. a2578860 says:

    I’ve said that least 2578860 times. SCK was here

  5. Fools ask questions that wise men cannot answer.

  6. I’d always want to be update on new content on this site , saved to fav! .

  7. Polo bikinis says:

    Your location is valueble for me. Many thanks!?-

  8. Respect to web site author , some excellent selective details .

  9. this web site is my intake , real wonderful design and perfect written content .

  10. Deep doubts deep wisdom small doubts little wisdom.

  11. A handstaff of holly a buailtin of hazela single sheaf and a clean floor.

  12. Rebuke should have a grain more of salt than of sugar.