Sekolah Binaan Dosen UM

Seluruh civitas akademika yang ada di perguruan tinggi dituntut tidak hanya mampu melaksanakan tugas-tugas pendidikan dan penelitian, tapi juga
dapat melakukan pengabdian bagi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Inilah yang dinamakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.


Bentuk dari pengabdian masyarakat dapat bermacam-macam, tapi yang paling mendesak saat ini adalah memerluas kesempatan anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan mengingat belum meratanya akses pendidikan di daerah-daerah tertinggal. Semangat inilah yang menjadi inspirasi Bapak Sugeng Rahayu, dosen Teknik Sipil UM untuk mengembangkan pendidikan sampai ke pelosok daerah-daerah tertinggal.
Ceritanya bermula di suatu tempat terpencil di lereng Gunung Kawi (Malang selatan) yang terkenal dengan wisata ritual pesugihan. Banyak pemimpin-pemimpin perusahaan besar di Indonesia yang meminta-minta di Gunung Kawi supaya bisnisnya lancar dan untung besar. Fenomena syirik seperti ini mengusik hati tokoh agama setempat, KH. Munir Kholis untuk melakukan pencerahan terhadap masyarakat Gunung Kawi dengan berniat membangun pesantren yang dapat mengajarkan nilai-nilai dasar agama pada anak-anak di sekitar Gunung Kawi.
Keinginan ini diwujudkan dengan membangun enam ruang kelas. Namun, sebelum bangunan tersebut dapat difungsikan sebagimana yang diinginkan, Kiai Munir (panggilan akrabnya) terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Bangunan tersebut hanya tinggal bangunan yang tidak memberi manfaat apa-apa.
Sekian tahun ditinggal oleh pendirinya, bangunan enam sekolah tersebut belum juga dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Pada tahun 2004, Pak Sugeng berkunjung ke wisata ritual Gunung Kawi. Saat Abah Yono, juru kunci wisata Gunung Kawi mengetahui bahwa Pak sugeng adalah dosen UM, maka Abah Yono menceritakan perihal bangunan sekolah dengan enam kelas yang selama ini nganggur sekaligus menawarkan kepada Pak Sugeng untuk memanfaatkannya sebagai pesantren.
Tanpa berpikir panjang, Pak Sugeng langsung menerima tawaran Abah Yono untuk mengelola bangunan  tersebut. Saat itu, Pak Sugeng membayangkan bagaimana indahnya anak-anak dari puncak Gunung Kawi yang terpencil suatu saat bisa menjadi dokter, insinyur, politisi, dan lain-lain.
Awalnya, Pak Sugeng berpikir bahwa dengan latar belakang masyarakat yang awam tentang pemahaman agama Islam dan belum sama sekali mengenal istilah pesantren, apakah masyarakat sekitar mau dan tertarik untuk menyekolahkan anaknya di sana. Akhirnya, Pak Sugeng mengambil solusi untuk tidak mendirikan pesantren, tetapi sekolah yang bermuatan Islam agar lebih dapat diterima oleh masyarakat setempat.
Tanpa banyak membuang waktu, Pak Sugeng langsung menghubungi Kepala Dinas Pendidikan Malang untuk berkonsultasi tentang niat membuat sekolah tersebut dan dengan senang hati Pak Kamilun (Kepala Dinas Pendidikan waktu itu) mengusahakan kelengkapan administrasinya. Selain itu, Pak Sugeng juga mengutarakan keinginannya kepada Rektor UM, Prof. Dr. Suparno untuk meminta sumbangan pemikiran.
Akhirnya, setahun kemudian, pada tahun 2005 peresmian sekolah baru dengan nama Sekolah Dasar Islam Unggulan Kiai Zakaria dilaksanakan. Nama Kiai Zakaria diambil dari nama seorang penyebar Islam di daerah Gunung Kawi. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Malang. Selain itu, acara peresmian juga dihadiri oleh Prof. Dr. Suparno dan Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito.
Sekolah ini dilabeli sekolah unggulan karena, pertama, kurikulum  sekolah ini mengacu pada kurikulum sekolah laboratorium UM yang sudah terjamin kualifikasinya kerena dikembangkan langsung oleh dosen-dosen UM. Selain itu, tenaga pengajarnya juga banyak diambilkan dari alumni-alumni PGSD UM yang fresh graduate. Kedua, sekolah ini memunyai mata pelajaran muatan lokal yang sangat khas dari kebudayaan lokal, seperti macopat, karawitan, dan tembang Jawa sehingga  siswa tidak hanya menguasai pengetahuan umum tetapi juga dapat mewarisi budaya lokal.
Saat pembukaan pertama, jumlah siswa angkatan pertama yang mendaftar berjumlah dua belas. Angka yang cukup besar bagi sekolah baru yang berada di daerah terpencil. Penerimaan masyarakat setempat juga bagus. Penerimaan siswa terakhir tahun 2009 sudah mencapai 25 orang.
Sekolah-sekolah seperti inilah yang perlu dikembangkan supaya akses pendidikan tidak hanya dimonopoli anak-anak yang tinggal di kota atau daerah yang sudah maju, tetapi anak-anak di daerah terpencil juga mempunyai kesempatan yang sama.?Afm

This entry was posted in school news. Bookmark the permalink.

51 Responses to Sekolah Binaan Dosen UM

  1. These tips seo alexa alexa toolbar after installation is complete

  2. Vietnam Travel best of vietnam

  3. How does Computer Ram make a computer faster and deliver better performance?

  4. Is downloading a copyright content through rapidshare & megaupload is illegal in uk?

  5. Clara Terp says:

    The imgs aren’t working for me, anyone else having this dilema

  6. Which program is better and designing and creating an online magazine? Joomla or WordPress?

  7. Your place is valueble for me. Thanks!…

  8. Boris Job says:

    Fantastic report, appreciate your submitting this, I’m attempting to amount this out