PABTI FMIPA Hadirkan TV Mahasiswa

Oleh Rustanto Rahardi

Mengapresiasi pidato Bapak Rektor UM Prof. Dr. H. Suparno pada upacara Hari Pendidikan Nasional 2012 yang lalu, bahwa UM dengan brand name “The Learning University” selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Tentu saja perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang baik dan positif, seperti perubahan manajemen profesional aset yang potensial menjadi aset pengembangan korporasi UM.
Banyak aset UM yang bisa dikelola untuk menambah sumber pendapatan, di antaranya gedung Cakrawala Budaya yang baru-baru ini disewa untuk acara konser artis terkenal dengan biaya tiket yang  begitu mahal. Saya katakan begitu mahal sesuai dengan ukuran seorang PNS, apalagi ukuran mahasiswa UM yang notabene anak-anak dari golongan menengah ke bawah.
Tentu saja dengan adanya even semacam itu akan membawa nama UM menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas, sebab kru konser maupun penontonnya tentu banyak yang datang dari luar Kota Malang.
Adanya usaha-usaha semacam itu akan berdampak secara tidak langsung membawa nama UM sejajar dengan perguruan tinggi yang sudah memiliki nama besar seperti ITB Bandung dan UI yang selanjutnya akan berdampak positif pula terhadap kualitas lulusan UM di mata masyarakat. Dengan mahalnya harga tiket, ada sedikit kekhawatiran terhadap perilaku mahasiswa kita. Jika mereka yang dari golongan bawah sangat tertarik untuk ikut menyaksikan konser tersebut kemudian mereka tidak dapat menahan nafsu lantas menghabiskan uang yang pas-pasan bahkan hutang sana sini, tentu ini menjadikan perubahan negatif bagi mahasiswa tersebut. Jika demikian, apakah ini dapat dikatakan bagian dari hasil belajar di UM?

Ranah kognitif, afektif, dan psikomotor
Segala sesuatu memiliki sisi negatif dan positif. Oleh karena itu, kita sebagai tenaga pendidik perlu memberikan hasil belajar yang berdampak positif dan meminimalisasi dampak negatif. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika dalam dirinya telah terjadi perubahan. Jadi hasil belajar me­rupakan pencapai­an tujuan belajar dan hasil belajar adalah produk dari proses belajar.
Menurut Bloom (1979) hasil belajar dikelompok­kan ke dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ketiga ranah ini apabila diterapkan pada pembelajaran tentunya akan memberikan dampak yang baik dan positif. Mari kita telaah apa sebenarnya ranah-ranah tersebut dan bagaimana aplikasinya.
Ranah kognitif berkaitan erat dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.  Umumnya hasil pembelajaran ranah ini berbentuk skor tes.
Pengukuran hasil belajar berdasarkan ranah ini saja tidak cukup, karena belum dapat mengubah perilaku atau karakter dari pembelajar. Sebagai contoh, dalam pembelajaran Matematika, apabila pendidik mengajarkan Matematika hanya berdasar prosedur saja tentu tidak mempunyai makna apa-apa. Seperti soal penjumlahan: Hitung  2 + 3 = … . Anak SD kelas 1 sudah banyak yang bisa menjawab bahwa jawabannya adalah 5, akan tetapi apa makna semua itu, apa sih makna dari 2, makna dari 3, dan makna hasilnya 5, bagaimana konsepnya?
Masalah ini bukan persoalan sederhana yang bisa dianggap selesai dengan memberikan nilai pada soal yang diberikan tanpa memperhatikan dampak perilaku pembelajar.  Jika pembelajaran tidak disertai dengan kebermaknaan, jangan salahkan jika prestasi Matematika secara umum di negeri tercinta Indonesia ini jeblok hasilnya. Pembelajaran yang hanya bersifat prosedural saja tanpa melalui pemahaman secara konseptual tidak akan mampu mengubah perilaku pembelajar menjadi lebih baik. Artinya, apabila pembelajar memahami bahwa belajar memerlukan pemahaman konsep, maka dalam perilaku hidupnya juga akan berdampak bahwa segala tindakannya harus punya landasan yang jelas dan baik.
Ranah afektif berhubungan dengan pengelolaan  emosi dan rasa seperti sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral (perilaku). Memandang ranah ini hanya diperankan oleh pendidik agama adalah pandangan yang sangat sempit. Sebab jika dalam pembelajaran agama hanya diberikan teori-teori saja, tentu kurang mampu mengubah perilaku pembelajar menjadi lebih baik. Akan tetapi jika teori itu sekaligus diterapkan atau dicontohkan oleh pendidik agama itu sendiri tentu akan mengakibatkan dampak positif pada perilaku pembelajar. Ranah ini juga dapat diperankan oleh pendidik matematika, karena dalam matematika dikenal dengan aturan-aturan yang logis dan teratur, runtut, dan juga konsisten. Aturan seperti inilah yang jika diperhatikan oleh pendidik dalam menerapkannya pada anak didiknya akan berkolerasi positif terhadap keteraturan perilaku anak didiknya.
Ranah  psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Semakin banyak dan canggih fasilitasnya, pembelajar akan semakin terampil untuk berkarya.
Kembali pada pembicaraan awal, yaitu tujuan dari brand name UM yang disertai dengan pembangunan fasilitas-fasilitas umum. Sebagaimana saya uraikan di atas bahwa fasilitas-fasilitas itu dapat berpengaruh terhadap perilaku pembelajar dalam hal ini adalah mahasiswa UM sendiri. Pengaruh negatif dapat kita minimalkan asal kita dapat menerapkan proses perkuliahan dengan menerapkan ketiga ranah tersebut. Melihat peluang itu dan kebutuhan masyarakat,  Jurusan Matematika ingin berpartisipasi langsung dengan membangun pendidikan vokasi andalan yang bernama Pendidikan Aplikasi Bisnis dan Teknologi Informasi (PABTI) FMIPA.
Melalui SK Rektor No. 0184a/kep/H32/OT/2008, keberadaan PABTI FMIPA menjadi jelas dan mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun. Setiap program studi (prodi) dilengkapi dengan mata kuliah kewirausahaan dan bahasa  Inggris. Bukan berarti dua mata kuliah ini adalah andalan di masing-masing prodi, tetapi hanya sebagai penunjang agar lulusannya nanti benar-benar siap kerja.
Keberadaan fasilitas UM juga dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa skill mahasiswa PABTI dapat bersaing di masyarakat. Salah satu buktinya adalah mahasiswa PABTI yang bernama M. Hariaji Prihandoko telah memenangkan juara I lomba Design Advertising Competition 2012 yang di­selenggarakan oleh BEM FMIPA UM. Mem­erhatikan perlunya informasi yang memadai di lngkungan UM dan membangun ketiga ranah hasil pembelajaran, maka PABTI mempunyai gagasan untuk membangun televisi (TV) kampus dengan nama PABTI TV. Semua even yang terjadi di kampus UM dapat diliput kemudian disiarkan melalui PABTI TV. Pihak-pihak sponsor juga dapat berpartisipasi dengan memasang iklan pada acara-acara TV tersebut sehingga PABTI TV mempunyai dana sendiri untuk produksi dan bahkan memberikan masukan pendapatan bagi UM.
Manfaat keberadaan TV bagi mahasiswa diantaranya adalah untuk menayangkan karya mahasiswa yang tentunya akan menimbulkan kebanggaan tersendiri. Selain itu, PABTI TV bisa menjadi ajang latihan broadcasting bagi mahasiswa. sehingga mahasiswa mampu meliput peristiwa dengan teknik liputan yang menarik. Mahasiswa juga mampu meliput orang dengan berbagai karakter atau jabatan.Mahasiswa yang liputannya ditayangkan akan mendapatkan imbalan.
Saat ini PABTI sudah memulai untuk merealisasikan gagasan tersebut dengan membangun embrio PABTI TV di mana tayangan baru seputar hasil karya mahasiswa PABTI dan pengumuman-pengumuman dari lembaga. Gagasan ini sangat mendukung ketiga ranah hasil pembelajaran dan merupakan wujud kepedulian pada maha­siswa maupun lulusannya.
Perjalanan menggapai cita-cita ini memang masih panjang, namun tidak ada salahnya  memulai lebih dahulu dari yang kecil, mengingat biaya peralatan, transmisi dan perangkat lainnya tidaklah murah. Saya sendiri belum tahu berapa persisnya biaya keseluruhan untuk membangun TV. Kami berangkat dari kepedulian terhadap masa depan kampus UM yang bisa bersaing dengan kampus-kampus lainnya. The Learning University harus berpihak pada kepentingan mahasiswa dan lulusannya.
Penulis adalah dosen Matematika

This entry was posted in Forum Kita. Bookmark the permalink.

Comments are closed.