pagar depan rumah, suatu sore

sudah berterjalterjal dan berdakidaki setiap langkah perjalanan kita, sayang.
engkau pun selalu mengeluh, tulang punggungmu mulai terserang encok.
dan barangkali besok aku mengalami menopause,
di balik pagar ini, di balik pagar rumah ini.
sudah ribuan ton beras yang kutanak untukmu, kekasihku.
engkau pun mulai bosan dengan osengoseng bayam bikinanku.
dan pasti, esok pun aku masih membawa bayam lagi dari tukang sayur,
di balik pagar ini, di balik pagar rumah ini.
suamiku, bukankah sore sudah datang lagi?
bergegaslah dari balik pagar,
sudah kusiapkan air hangat di kamar mandi.
malang, 20 april 2012

This entry was posted in rancak budaya. Bookmark the permalink.

Comments are closed.