pring

pada perkawinan kita di musim kemarau itu,
aku hanya bisa menghadiahimu hatiku yang
(sepertinya hanya) sebelah.
sayang, aku bukanlah malaikat yang mengitari malam
kala bulan penuh.
aku bukanlah kemerisik bambu
di jalan tembus belakang rumahmu.
malang, 27 mei 2012

This entry was posted in rancak budaya. Bookmark the permalink.

Comments are closed.