Ketika Menteri Berhati Baru

Judul    : Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri
Penulis    : Dahlan Iskan
Penerbit    : Elex Media Komputindo
Tahun    : 2012
Tebal    : 343 halaman
Perensesi    : Idham Bintoro Sakti

Ketika seseorang yang berada pada kondisi terpuruk dan merasa sendiri dan diakhiri dengan putus asa, dia adalah manusia yang tak berhati besar. Ungkapan itulah yang seharusnya tidak kita lakukan dalam kehidupan ini. Mengapa? Jauh di luar hadapan kita lahir cerita dengan suasana mengharukan pikiran, hati nurani yang mampu membuat air mata keluar dari sarangrnya. Semua cerita yang heroik tentang mozaik kehidupan tertera dengan bahasa analisis yang  tajam dalam buku Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri yang ditulis oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang pada saat itu menjalani operasi transplantasi hati  akibat kangker di Tianjin Cina.
Buku yang ditulis oleh sang menteri menceritakan kronologi terjadinya penyakit, menjelang, saat, dan sesudah operasi yang dilengkapi dengan cerita inspiratif, pesan moral dan budi pekerti, bisnis, politik, dan tentunya mahalnya kehidupan ini. Buku yang ditulis pada 2007 dan dicetak ulang pada 2012  ini merupakan sebuah kisah yang menakjubkan tentang kemenangan semangat manusia, tentang penghargaan atas kehidupan yang dikisahkan oleh seseorang yang menyelamatkan hidupnya dengan hatinya, pandangan hidupnya, rasa cintanya, agamanya, bukan sebagai orang yang suci, tetapi sebagai manusia biasa seperti kita semua di sisi harkatnya, dengan pahit dan manisnya kehidupan, kesedihan, serta beragam bumbunya.
Awal mula cerita yang mengisahkan ganti hati Dahlan Iskan merupakan penyakit kangker pada bagian liver. Penyakit tersebut diakibatkan oleh virus Hepatitis B  yang menyerangnya akibat terlalu berlebihan dalam bekerja ditambah ketika masa kecilnya dahulu tidak mendapatkan suntik imunisasi. Kedua penyebab itu merupakan akar yang mengharuskannya menjalani operasi transplantasi hati. Ganti hati yang mempertaruhkan hidup, yang menanggung risiko kegagalan, kematian atau lumpuh. Tapi sebuah berkah Dahlan adalah dapat sehat dan kembali seperti sedia kala berkat  donor hati seorang pemuda berusia 21 tahun.
Tak ada yang salah atau siapa yang patut disalahkan. Ganti hati tersebut terjadi karena adanya sirosis di bagian liver akibat virus Hepatitis B. Virus terebut merusak bagian liver. Sirosis tersebut berkembang karena ia sering kelelahan, kelelahan yang disebabkan kegemarannya yang suka bekerja keras untuk membangun harapan yang terlihat bagaimana ia bekerja selama 15 jam sehari,  selama 15 tahun membangun kejayaan Jawa Pos Group yang dulunya bangkrut hingga menjadi perusahaan media terbesar di Indonesia, memimpin berbagai perusahaan daerah dan nasional, serta di masa kecilnya  yang terlahir dari keluarga kurang mampu, yang  tak sempat memperhatikan kesehatan serta tidak  mendapakan suntik Antihepatitis B. Jadilah semangat kerja keras dan kemiskinan masa lalu yang membuat derita berganti hati.
Ganti Hati tidak hanya diciptakan sebagai sarana dan media  berbagi kisah menderita antara penulis dengan pembacanya, tetapi cerita yang  tertera sangat beragam dengan tujuan menginspirasi pembacanya. Dahlan Iskan di masa kecilnya hanya bercita-cita memiliki sepatu dan sepeda, hanya lulusan madarasah tsanawiah yang mesti merantau ke Samarinda untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Sebelum seperti saat ini (CEO Jawa Pos, Dirut PLN, Menteri BUMN) ia merupakan  wartawan surat kabar Tempo yang pernah rela berjalan kaki selama dua jam dengan uang saku Rp75 di sakunya untuk meliput sebuah berita dan tinggal di rumah kontrak berdiding kayu  bersama istrinya ketika masih tinggal di Surabaya. Baginya, itulah kehidupan yang harus dijalani karena baginya kehidupan seperti air yang mengalir, tetapi harus deras hingga ia memiliki moto “kaya bermanfaat, miskin bermartabat” yang berarti ketika seseorang berada pada keadaan miskin, tidak sampai menjual harga diri serta jabatan dan ketika sudah kaya, tidak semena-mena.
Inspirasi dalam buku tersebut membuat pembaca seakan-akan larut dalam suasana yang ditulis. Berbagai kisah menarik dengan gaya bahasa yang enak dibaca menyuguhkan sebuah oasis bacaan berbudi pekerti. Nasihat yang berguna untuk kehidupan seperti seseorang meski tahu kapan harus bekerja keras dan ngotot untuk mencapai kejayaan dan harus tahu  batas  kapan harus berakhir serta pentingnya sikap ukhrowi yang berarti segalanya harus seimbang: beribadah bersungguh-sungguh seperti besok akan mati, bekerja bersungguh- sungguh seperti akan hidup seribu tahun lagi. Ia yakin bahwa takdir bisa dirubah. Harapannya bagi seluruh orang yang pernah dan akan membaca buku ini adalah dapat  mensyukuri nikmatnya kehidupan dengan cara bekerja keras membangun diri.
Namun, tak berakhir di situ. Tulisan yang menceritakan rusaknya organ liver akibat serangan Hepatitis B dan kelelahan akibat terlalu lama bekerja keras bukan beranti membuat paranoid pembacanya. Tentu ia akan menyesal kalau gara-gara membaca buku tersebut akan membuat banyak orang menjadi takut bekerja keras. Mengapa?  Karena bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih dan pantang menyerah. Jika ini menjadi contoh yang jelek, jangan dikaitkan dengan kerja keras, tetapi kaitakan dengan kecerobohan. Misalnya, jangan sampai terkena virus Hepatitis seperti Dahlan Iskan.
Kerja keras membuat Dahlan Iskan menjadi figur yang diteladani banyak orang. Dilahirkan dalam kondisi keluarga yang kurang mampu hingga menjadi bos besar Jawa Pos Group, diangkat menjadi Dirut PLN oleh presiden, hingga yang terakhir, menjabat sebagai Menteri BUMN. Semua didapatkan dengan cara kerja keras, menekuni yang ada, pantang menyerah, dan memperjuangkan yang diinginkanya dengan diiringi rasa syukur.
Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri akan membuat kita semakin sadar mahal dan berharganya hidup ini. Operasi cangkok hati yang berisiko gagal akan membuat kita (pembaca) berintrospeksi diri bahwa hidup ini hanyalah sebentar. Untuk itu, kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.
Penulis adalah mahasiswa Ilmu Keolahragaan dan bergiat di UKM Penulis. Resensi ini juara II kategori pustaka Kompetisi Penulisan Rubrik Majalah Komunikasi 2012.

Bagikan informasi ini: