Resonansi Tanimbar

Oleh M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim

cerpen resonasiBeberapa pelaut sulit menemukanku dalam peta, tapi mereka tahu keindahanku akan menyeduh ingatan sepanjang masa. Di pulau ini, darah dan burung yang bercengkrama menerbitkan bulir kekaguman. Para teman-temanku di sini manusia baik, hanya mereka sering berperang. Kadang kupikir manusia adalah mahluk Tuhan yang begitu rumit, sampai akhirnya dua manusia dari tanah Eropa itu datang ke pulau ini pada Juli 1882.
“Herry, apa kau yakin barang bawaan kita cukup untuk dibarter dengan kebutuhan sehari-hari?”
“Pasti, Anna. Kita adalah naturalis dari Inggris yang sudah berpengalaman. Manik-manik itu pasti akan membuat mereka terpesona dan rela menukarkan apa saja untuk kita.”
Begitulah percakapan suami-istri Forbes ketika mereka menginjakkan kaki di pulau ini. Mereka terpukau pada keindahannya tapi juga cemas dengan kebrutalan pulau ini. Sudah santer terdengar perompak laut yang terkenal di daerah Timur Laut berasal dari pulau ini. Aku tak bisa membantu banyak ketika mereka sibuk mencari orang untuk membangun pondok tempat tinggal mereka. Mereka berencana tinggal tiga bulan untuk penelitian biologi sambil menunggu kapal SS. Amboina datang lagi.
“Mereka tak tertarik dengan manik-manik kita, Herry. Mereka lebih menyukai pisau Jerman dan kancing baju”, kecemasan Anna terbukti. Mereka tak menduga penduduk Tanimbar sama sekali tak berminat pada manik-manik, berbeda dengan penduduk Ambon yang mereka temui sebelumnya.
“Ini sungguh mengagetkan. Kita terlanjur membawa banyak manik-manik, tetapi hanya punya sedikit persediaan pisau dan kancing,” Herry menelan kecewa.
“Tak masalah, kita tak boleh selamanya bergantung pada Tuan Martin. Lama-lama orang Belanda akan mencurigai kita sebagai mata-mata. Aku yakin Tuan Martin masih mau menampung kita atas nama sesama darah Eropa dan kefasihanku berbahasa Belanda. Dia sebenarnya sentimen dengan Inggris. Kita harus segera membangun pondok tempat tinggal sendiri agar kita lebih leluasa meneliti”, cetus Anna di bawah pepohonan kelapa yang rindang, seratus meter dari pintu rumah Tuan Martin. Pegawai Belanda yang mengawasi pulau ini sebagai daerah jajahan Belanda itu menyambut dan memberi tumpangan pada pasangan Forbes sejak mereka tiba dua hari yang lalu.
Akhirnya para penduduk desa Tanimbar setuju untuk membangun rumah mereka setelah Herry menyerahkan laru atau gin sebagai upah. Selama proses pembangunan rumah di tepi pantai itu, kutemani Herry dan Anna berkeliling pulau. Mereka terpesona dengan aneka cicit burung kakak tua dan cendrawasih sampai mereka terkesiap melihat pasar hewan di pelabuhan, tempat berbagai satwa endemik pulau ini diperdagangkan dengan bebas.
Menahan prihatin, Anna berbisik untuk mengajak Herry menyusuri hutan. Aku tahu mereka sepakat untuk tidak membahas kesialan mereka sejak hari pertama di pulau ini. Herry waspada saat mendengar suara di balik semak-semak yang terdengar mirip kucing berkelahi.
“Suara apa itu?” Anna mulai cemas. Dia takut itu hewan buas.
Ketika mereka mendekat, mereka melihat seekor lori merah yang sangat cantik.    “Terpujilah pulau ini.” Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Anna.
Herry mengangguk setuju. Mereka rasa mereka telah mati dan berada di surga. Cepat-cepat mereka mengambil buku sketsa. Segera Anna menggambar burung itu. Herry memberi catatan dalam buku penelitiannya: seekor burung di tanah surga.
Hari-hari di Tanimbar tak selalu bahagia bagi Herry dan Anna. Aku menemani mereka dalam kesunyian sekaligus kegelisahan. Tiga desa di Tanimbar: Kaleobar, Waitidal dan Lamdesar bekerja sama untuk memerangi Ritabel, desa tempat tinggal Anna dan Herry itu telah dikelilingi oleh tombak-tombak bambu yang ditanam di sekeliling desa.
Aku mengerti mereka pasti bingung dengan tabiat penduduk pulau ini. Herry hampir kehabisan akal untuk membuat para pemuda desa menyelesaikan pondok pesanannya dengan cepat. Herry harus bersabar sampai 19 hari kemudian rumahnya baru berdiri di tepi pantai. Dua bulan kemudian, Anna hampir kesusahan mengatur persediaan benda berharga sebagai modal barter barang dengan penduduk sekitar.
“Kukira aku sudah menemui banyak manusia. Ternyata aku hanya terjebak dengan persepsiku sendiri.”
“Peradaban di sini memang belum semaju Eropa, Sayang.”
“Tidak. Bukan itu maksudku…,”
“Lantas?”
“Mereka selalu berperang, mengabaikan keindahan pulau ini. Berperang untuk membunuh tetangga sendiri. Tapi mereka juga begitu sederhana memandang hidup. Tak perlu mengejar gelar seperti kita.”
“Untuk itulah kita datang ke sini, untuk mencari jawaban keanekaragaman makhluk di bumi ini, Anna.”
Percakapan Anna terhenti saat Herry memeluknya dari belakang sambil menatap senja yang jatuh di ujung samudera. Mereka tak pernah menyangka hidup akan membawa mereka sejauh ini hanya untuk menemukan spesies flora dan fauna baru, tapi mereka tak pernah bisa memahami pikiran manusia.
Aku paham Anna begitu iba pada pulau ini. Aku sering melihat dia hampir meneteskan air mata saat melihat berbagai macam burung surga mulai dari lori sampai cendrawasih ditangkap dan dijual di pulau ini. Belum lagi hewan-hewan langka itu mati sia-sia setelah tak laku dijual.
Anna kadang berkata pada Herry, “Andai aku bisa meminjam sebentar hewan itu sebelum dijual. Aku ingin menggambarnya dulu.”
“Mereka butuh uang untuk makan. Hewan-hewan itu adalah tebusannya.”
“Aku menyesal datang ke pulau ini untuk melihat semua kebiadaban itu,”
“Tenanglah, aku tahu perasaanmu. Naluriku sebagai peneliti juga sangat ingin meneliti hewan-hewan itu. Aku tak pernah melihatnya dimana pun. Kata orang sini, sebagian hewan itu berasal dari Papua dan pulau sekitarnya. Lebih baik kita berkeliling, melihat apa yang tersisa di pulau ini.”
Esoknya mereka hampir pingsan saat melihat potongan tubuh manusia berupa tangan, kepala, dan tulang belikat bergelantungan di pepohonan. Desa Ridol porak-poranda dan terbakar. Menyisakan kehampaan yang ngeri. Desa ini bersekutu dengan desa Ritabel.
“Ini neraka,” Anna berdesis. Setelah mengucapkan itu, Herry menangkap tubuh Anna yang mendadak limbung. Pingsan.
Awalnya, Herry dan Anna penasaran dengan gelombang manusia yang menjauhi desa ini. Seorang dari mereka bilang desa Ridol telah kalah. Kini semua penduduk desa dijadikan budak dan gundik.
Di pondok mereka, tubuh Anna demam sejak kejadian itu. Herry frustasi karena penduduk desa enggan menukar obat dengan barang Herry. Herry sudah kehabisan kancing baju dan pisau. Anna terus menggigil, sedangkan Herry mulai kelaparan.
Herry sangat ingin membeli ikan dari seorang nelayan. Tapi nelayan itu hanya mau dibarter dengan pisau Jerman. Herry tak berdaya, penduduk Tanimbar begitu keras kepala. Nelayan itu menggantung ikan kerapu di atas ambang pintu pondok Herry, seolah dipamerkan. Sampai keesokan harinya ikan itu busuk. Baik aku, Herry dan Anna tak akan berani menyentuh ikan itu sebelum mendapat persetujuan dari sang nelayan. Herry tak mau membayangkan dirinya jadi potongan tubuh yang menggantung di pagar desa karena dianggap melecehkan sang nelayan.
“Ikanmu sudah busuk,” ucap Herry sesopan mungkin pada nelayan itu.
Dengan pongah, nelayan itu mengambil ikan busuk dan berlalat itu lalu membuangnya kembali ke laut. Herry diam menahan gejolak nanap.
Sementara Anna terlelap setelah berjam-jam melawan demam, dia pergi ke hutan. Herry menembak seekor lori dan kakak tua lalu membawanya pulang. Sambil meratap, Herry memanggang hewan indah itu lalu menyantapnya. Saat Anna terbangun, Herry segera menyuapi istrinya dengan telaten. Anna tak banyak bertanya tapi memaksa Herry untuk menawarkan kain belacu dalam kopernya sebagai modal barter.
Sungguh mengejutkan, seorang wanita pribumi langsung membarternya dengan tanaman obat beserta ubi dan jagung. Cukup untuk persediaan selama dua minggu ke depan. Wanita itu sepertinya bosan menenun serat pohon Aloan yang diikat dengan kulit batang daun palem sebagai pakaian sehari-hari penduduk sini. Mendengar bunyi klik-klak dari alat tenun mereka saja, Herry pikir itu sudah sangat melelahkan bagi wanita pribumi.
Ketika Anna sudah sembuh, mereka kembali meneliti berbagai macam spesies baru, antara lain kupu-kupu bersayap mirip sayap burung gereja, reptil endemik seperti kadal panana dan ular patola, serta beberapa spesies burung. Bila sebelumnya mereka melepas spesies burung itu setelah menggambarnya, kali ini mereka dengan berat hati akan membawanya pulang. Mereka memasak burung itu lalu menyantapnya bersama-sama sambil menahan air mata. Mereka tak sabar menunggu SS. Amboina datang seminggu lagi.
Situasi desa semakin kacau ketika sehari sebelum kedatangan SS. Amboina. Usai pamit dengan Tuan Martin, Anna, dan Herry berniat untuk pamit dengan sang tetua desa. Aku tahu Anna hampir menitikkan air mata keharuan. Sang tetua desa terlihat begitu tegar. Bagaimana tidak? Desanya tinggal menunggu jadi abu karena akan diserbu tiga desa musuh. Bertepatan dengan itu malam purnama, penduduk desa Ritabel tengah asyik menarikan Cakalele sambil mengitari Duadillah, patung dewa mereka. Suasana tari perang yang berisi doa-doa pujian itu meruntuhkan bedungan kaca di mata Anna.
Ingin rasanya aku ikut serta bersama Anna dan Herry ketika mereka sudah selesai mengepak koper. Kapal SS. Amboina sudah semakin mendekat pagi itu. Anna dan Herry berpegangan tangan, saling menguatkan. Para penduduk desa melihatnya dari kejauhan.
Sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkanku, izinkanlah kucuri dengar pembicaraan mereka terakhir kali di pulau ini.
“Apa yang kau pelajari tentang bangsa ini, Anna?”
“Indah sekaligus hancur. Aku tak pernah melihat keajaiban ini di Eropa, Herry.”
“Apa kau akan merindukannya?”
“Tidak, tapi aku akan datang ke sini lagi seandainya bangsa ini sudah damai.”
“Sayang sekali, bangsa ini dijajah Belanda, Anna. Mereka juga berperang dengan saudara sendiri. Sulit rasanya membayangkan mereka akan berdamai dengan tanah air mereka sendiri.”
“Aku juga tak yakin, Herry. Tapi jika aku jadi mereka, bagian dari bangsa itu, aku akan melindungi anugerah pulau ini berserta saudaraku dan flora-fauna cantik di dalamnya.”
“Kata-katamu indah sekali, Anna,” Herry merangkul Anna dengan lembut.
“Apa kau akan mencatat semua ini dalam buku harianmu?”
“Tidak semua, tetapi aku yakin aku akan lebih banyak mencatat hal yang paling penting.”
“Apa itu, Herry?”
“Keindahan kepulauan ini, tiada duanya di belahan bumi mana pun.”
Mereka menaiki kapal itu dengan penuh kelegaan, seolah keluar dari penjara. Sehari kemudian, desa Ritabel sudah hancur terbakar. Semua penduduknya dijadikan budak dan gundik oleh desa lain yang ternyata dipimpin oleh kawanan perompak Timur Laut. Hanya sang tetua desa yang masih tinggal, menjelma potongan kepala yang digantung di antara pagar-pagar yang terbakar. Aku sebagai tanah di pulau ini sudah lelah menyaksikan semua peperangan ini.
Bertahun-tahun aku menunggu kehadiran orang seperti Anna dan Herry Forbes, tapi mereka tak pernah kembali. Bahkan sampai negeri ini merdeka dan peperangan di pulau ini sudah tiada lagi. Para penduduk Tanimbar tak lagi jadi perompak dan menjadi nelayan yang mencari ikan dengan katiting atau perahu kecil, mereka terus berganti generasi seiring zaman berlalu.
Aku semakin kesepian, merindukan kicau burung kakaktua dan kadal panana di atasku seperti dulu. Generasi muda di pulau ini mungkin tak akan pernah tahu, dulu dua hewan menakjubkan itu pernah berkeliaran bebas di atasku sebelum populasinya kian menyusut. Sampai kau selesai membaca cerita ini, kau mungkin akan tahu dan mulai membuka peta dimana aku berada. Tapi aku sangat meyakini perkataan Herry dan Anna Forbes padaku sesaat sebelum meninggalkanku pada awal Oktober 1882: suatu hari kau akan dibaca, Tanimbar.
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UM dan juara  2 dalam Kompetisi  Penulisan Rubrik Majalah Komunikasi Tahun 2014 Kategori Cerpen.

Bagikan informasi ini: