Ramadan, Empati, dan Kepekaan Sosial

Oleh Yusuf Hanafi

Ramadhan, Empati, dan Kepekaan Sosial (29 Mei 2015)  (1)Insting manusia itu cenderung tamak dan kikir. Dengan watak dasar ini, manusia lebih memikirkan apa yang dapat ia peroleh ketimbang memikirkan apa yang dapat ia berikan. Karenanya, dibutuhkan nyali yang besar untuk menyisihkan dan mendermakan sebagian rezeki yang diperolehnya itu.
Jika kita cermati perilaku balita, ia cenderung tidak mau berbagi dengan bayi lain saat memiliki permen atau makanan ringan (snack), misalnya. Ironisnya, ia justru berusaha merebut makanan atau mainan temannya yang kebetulan menarik selera dan minatnya. Inilah fakta dari insting dan watak dasar manusia.
Secara khusus, Rasulullah SAW memberikan perhatian terhadap penyakit kekikiran dan ketamakan ini, dan mengingatkan kaum Muslimin akan bahayanya. Beliau berpesan, “Waspadalah terhadap penyakit rakus! Karena sesungguhnya kerakusan itu telah terbukti membinasakan generasi sebelummu. Penyakit tersebut telah membuat mereka menumpahkan darah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT” (H.R. Muslim).
Agar insting dan watak dasar tersebut tidak berlanjut hingga dewasa kelak (karena betapapun manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak akan lepas dari ketergantungan pada pihak lain), agama menyediakan instrumen untuk melatih sekaligus mengembangkan watak kedermawanan. Instrumen tersebut adalah paket perintah berpuasa dan berzakat yang disyariatkan di bulan Ramadhan.
Melalui perintah puasa, Allah SWT menumbuhkan kepekaan dan empati terhadap sesama yang kehidupan sehari-harinya serba kekurangan lewat pengalaman rasa lapar dan dahaga. Namun, kepekaan dan empati ini masih bersifat “pasif”. Melalui zakat, kepekaan pasif itu diubah oleh Allah menjadi kepekaan dan empati “aktif” dimana seorang Muslim diperintahkan untuk melakukan aksi berderma dan bersedekah secara nyata.

Peran strategis ajaran empati
Empati—atau merasakan apa yang dirasakan orang lain—merupakan sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam Islam. Malah penulis meyakini bahwa perjalanan hidup Rasulullah itu didesain Allah SWT sedemikian rupa agar beliau merasakan segala bentuk lika-liku dan ragam terjalnya kehidupan. Seperti diketahui, Nabi dilahirkan dalam keadaan papa. Dia lahir setelah ayahnya meninggal. Muhammad SAW kemudian menjadi bayi yatim dan miskin. Padahal, dia adalah keturunan Bani Hasyim, salah satu klan bangsawan Quraisy. Sebagai bangsawan, dia pasti tergolong keluarga kaya.
Nabi lantas menjadi anak asuh paman-pamannya. Muhammad kecil dilatih menjadi penggembala domba. Saat itu, ia mulai menjadi pekerja. Lalu diajari pamannya berdagang dengan menjadi pengantar dagangan konglomerat Makkah. Sampai kemudian dia dipercaya menperjualbelikan barang dagangan orang-orang kaya di sana. Karena Nabi Muhammad SAW remaja berhasil menjadi salesman dan marketer yang andal, reputasinya diakui di mana-mana. Saat itulah, seorang konglomerat wanita Arab bernama Khadijah terpikat olehnya.
Rasulullah akhirnya menjadi suami dari seorang janda kaya-raya. Pada saat itu, berarti Muhammad menjadi orang berharta dan bisa merasakan hidup sebagai orang berkecukupan. Jadi, sebelum menjadi Rasul dan pemimpin umat, dia telah merasakan berbagai bentuk kehidupan. Mulai merasakan bagaimana jadi orang miskin dan anak yatim, pekerja kasar, pedagang, sampai dengan menjadi orang kaya. Karena itu, ketika menjadi pemimpin umat, beliau bisa berempati dengan berbagai golongan dan jenis manusia yang dipimpinnya.
Kepekaan empati Rasulullah itu juga digambarkan dalam Q.S. At-Taubah:128 berikut, ‘’Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari golonganmu sendiri, berat terasa olehnya apa yang telah membuat derita kamu, sangat menginginkan kebaikan bagi kamu, kepada orang-orang mukmin dia amat belas kasih lagi penyayang.” Ayat itu menegaskan tentang sifat Muhammad yang sangat peka terhadap apa yang dirasakan seluruh golongan umatnya.
Semua pengalaman hidup serta tahap yang dilalui para rasul, khususnya Rasulullah Muhammad SAW itu bukan hanya melahirkan kepekaan dan empati. Bisa jadi tahap itu didesain Allah untuk memberi kematangan proses kepemimpinan kepada Rasulullah. Teori modern telah menemukan bahwa seseorang yang mengalami mobilitas vertikal secara tiba-tiba, mereka akan mengalami disorientasi sosial. Seperti seseorang yang mendadak kaya tanpa harus berpayah-payah atau mendadak terhormat karena menjadi anggota dewan, misalnya. Tentu akan menjadi masalah kalau seorang pemimpin mengalami hal ini. Mereka bisa berbuat aneh-aneh dan merugikan umat yang dipimpinnya.
Apakah setiap orang—terutama para pemimpin atau calon pemimpin—harus melalui tahap seperti yang telah dilalui Nabi? Jawabannya, tentu saja tidak. Karena itu, diperlukan instrumen atau alat untuk bisa mengembangkan empati. Nah, salah satu instrumen itu adalah puasa. Dalam konteks ini sungguh pas jika kita mencermati pernyataan Nabi Yusuf AS, seorang nabi yang kelak diamanati menjadi bendaharawan kerajaan berkat kejujurannya, ketika ditanya perihal ritual puasa yang selalu ditradisikannya, “Aku khawatir, jika selalu kenyang, aku akan lupa pada orang yang kelaparan.”

Fungsi sosial zakat
Beralih kepada perintah berzakat di bulan Ramadhan, zakat selain berfungsi untuk menyucikan harta, juga berfungsi untuk menjamin terciptanya rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat. Zakat selain untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dengan distribusi kekayaan, juga untuk meminimalisir ragam aksi kejahatan yang diakibatkan oleh kemiskinan dan kesenjangan sosial.
Hampir semua kriminalitas itu disebabkan desakan kebutuhan dan wabah kemiskinan. Seandainya kesenjangan itu bisa teratasi secara sempurna melalui perintah berzakat, niscaya orang-orang kaya dan orang-orang miskin itu dapat hidup saling berdampingan secara harmonis tanpa rasa iri dan dengki. Orang-orang kaya peduli dan berempati terhadap orang-orang miskin, dan orang-orang miskin pun menjaga dirinya agar tidak mengusik harta orang-orang kaya, karena kebutuhan mereka diperhatikan dan disantuni.
Inilah wujud solidaritas hakiki kaum Muslim seperti diilustrasikan oleh Allah SWT dalam Alquran, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (Q.S. al-Hujurat: 10). Namun, ada beberapa hal yang perlu dicatat dalam aktivitas berzakat ini.
Pertama, hendaknya mendermakan harta yang masih baik, bukan yang telah berstatus “sisa” apalagi “sampah”. Allah SWT berfirman, “Kalian tidak akan meraih kebajikan, sampai bersedia menafkahkan harta yang kalian cintai” (Q.S. Ali Imran: 92). Mendermakan harta atau barang yang telah berstatus “sisa” atau “sampah” itu bukannya semakin memupuk solidaritas dan soliditas sosial (sebagaimana misi dari berzakat), tetapi justru memicu kecemburuan bahkan disintegrasi sosial—karena yang menerima pemberian malah terhina dan terlecehkan status sosialnya.
Kedua, hendaknya bersedekah tanpa menunggu yang bersangkutan meminta-minta. Karena itu menjadi pertanda sensitivitas sosialnya yang baik di mana hatinya terketuk oleh kesadaran dirinya sendiri, tanpa perlu diingatkan oleh rintihan kaum peminta-minta.
Ketiga, hendaknya menyerahkan sedekahnya itu secara sembunyi-sembunyi, dan bukan malah sebaliknya mempublikasikannya agar mendapat pujian dan sanjungan dari orang lain. Rasul SAW pernah menjanjikan naungan Arsy di hari kiamat saat situasi yang demikian berat di Padang Mahsyar kepada tujuh orang yang salah satunya istimewa. Salah satunya adalah, “Seseorang yang bersedekah secara sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak menyadari dan mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Akhirnya, sungguh melalui syariat puasa dan zakat ini, Allah SWT telah menyediakan instrumen yang tepat untuk pengembangan kepedulian dan empati sosial pada diri para hambanya. Karenanya, bulan Ramadhan yang mubarak ini merupakan momentum emas bagi seluruh umat Islam untuk mengasah sekaligus mempertajam sensitivitas sosialnya sekaligus mengikis penyakit tamak dan kikir dari dalam dirinya. Jika kelak ditakdirkan oleh Allah SAW untuk memikul amanat kepemimpinan, ia akan menjadi pemimpin yang berpihak kepada kaum dhu’afa (lemah) dan mustadh’afun (yang dilemahkan). Amin.

Penulis adalah dosen Jurusan Sastra Arab dan anggota penyunting Komunikasi

Bagikan informasi ini: