Safari Sedekah Young Generation

Berbagi sebagai lifestyle kalangan muda bumi Malang.
Beradu dengan getirnya fenomena hedonis yang merajalela.

Sepanjang jalan Malang menyusuri pertokoan dan gang-gang sempit padat penduduk. Mutiara Priza penggagas Sedekah Habit Malang (SHM) berbagi seratus nasi kotak setiap minggu. Sasaran dari kotak-kotak tersebut diberikan pada kaum lansia dan duafa di area Malang Raya.
Berawal dari sebuah persahabatan. Menuturi jalanan hikmah bersama kedua teman lamanya. Mengumpulkan uang di dalam tempat yang sama dan tak ada yang mengetahui berapa isi lembaran dan logam rupiah saat itu. Hanya di buka seminggu sekali untuk berbagi pada sesama. Bukan dalam bentuk uang. Tetapi ia ramu menjadi beberapa kotak nasi buatan kak Muti sapaan akrabnya bersama kedua rekannya.
“Saya pribadi sebagai anak muda dengan melihat fenomena yang terjadi selama ini, banyak di kalangan saya yang sangat suka dengan gaya hidup nongkrong, ngafe, dan ngopi. Dari lifestyle tersebut mudah sekali anak muda menghamburkan uangnya sedang dibalik mereka semua banyak yang membutuhkan,” kata alumni mahasiswi Akutansi 2011 itu mendasari alasan berdirinya habit sedekah.
Simpati pada embah-embah yang membutuhkan uluran tangan. Kebanyakan sasarannya lansia yang masih gigih bekerja. “Fenomena yang saya temui bahwa lansia tersebut banyak yang ditelantarkan oleh anak-anaknya yang sudah sukses dan tidak mau mempedulikan,” kata Kak Muti.
Kepuasan tersendiri saat dipercaya oleh donatur untuk mengolah sumbangan dari mereka. “Kami mengusahakan transparansi keuangan dari para donatur dan share di berbagai media sosial,” kata Diana, selaku Humas SHM.
Masih butuh ide kreatif untuk meningkatkan kualitas hidup lansia yang ada di Malang. Sehingga akan ada hasil dan berkelanjutan ketika SHM datang pada mereka. Karena memang berbeda fokus ketika sasarannya anak muda dengan lansia.

Iseng-iseng berbumbu ketulusan yang berbuah manis. Kebiasaan tiga orang yang dinaungi sebuah ikatan persahabatan. Meskipun dalam empat tahun pertama di tahun 2015 harus rela memasak 100 nasi kotak dengan tiga tenaga serta membagikannya sendiri. Saat pembagian nasi kotak tak jarang alih tangan sosial media ikut andil. Awalnya hanya foto di status BBM dan ternyata banyak respon baik dari keluarga juga teman dekat. Berawal dari itulah mulai hilir mudik donasi baik langsung maupun tidak langsung. “Saya berpikir dan berkeinginan lebih baik bila sebagian kecil dari uang tersebut disedekahkan sebagai lifestyle dari anak muda,” kata Kak Muti.
Awalnya kekurangan tenaga dan saat ini banyak event setiap minggunya, juga ada beberapa kendala dengan kesibukan masing-masing setiap volunteer.  Banyak sekali donasi yang mengalir di kegiatan sosial mereka. Hingga kewalahan karena belum adanya relawan yang bersedia membantu secara fisik. Usaha sekuat tenaga hingga banyak yang bergabung mulai siswa SMP, SMA, mahasiswa, maupun pekerja dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Seperti biasa, layaknya sebuah komunitas yang terorganisir. SHM juga terstruktur mulai dari ketua hingga divisi-divisi yang mendukung berjalannya perkumpulan ini. Tak melupakan pula pembawa sejarah komunitas sebagai founder SHM, yakni Mutiara Priza gadis asli kota Malang.
Mengejutkan kaum awam dan ternyata banyak anak muda yang membutuhkan wadah untuk bersedekah. Sebenarnya banyak yang ingin bersedekah, tapi banyak juga yang tidak tahu harus disedekahkan lewat jalan apa. Bersyukurlah dengan adanya Sedekah Habit Malang yang menyasar kaum muda untuk mau berbagi. Mudah dalam caranya, hanya melalui transfer rekening di berbagai cabang. Laju antusiasme donatur cukup membuat ternganga hingga mencapai puluhan juta.
Sedekah Habit Malang telah memiliki cabang regional Surabaya. Berawal dari ketertarikan netizen dengan adanya komunitas ini. Melalui berbagai persyaratan maka dibukalah Sedekah Habit Surabaya. “Harapan ke depan, semoga saya bersama komunitas ini mampu mendirikan panti sosial bagi kaum lansia di Malang,” tutur Kak Muti.
Volunteer saat ini kurang lebih mencapai dua ratus orang dari berbagai kalangan profesi dan latar belakang yang berada di kota Malang. “Pertanggungjawaban serupiah pun kami hitung dari para donatur. Karena kami tak ingin menanggung yang bukan hak kami,” kata Diana. Mendukung financial perjalanan SHM dengan adanya merchandise dalam regulasi sarana dan prasarana seperti banner dan sejenisnya. Jatuh bangun penjualan merchandise yang cukup berprofit selalu ada ujian di baliknya. Haters yang berkomentar sinis bahwa ini sebagian dari sedekah, kenapa harus diperjualbelikan. Hingga saat itu para pioneer SHM berpikir ulang dan berujung dengan merchandise SHM berjalan bak hidup enggan mati tak mau. Pada akhirnya semua kebutuhan sampingan untuk berlangsungnya komunitas ini diambil dari kantong pribadi para volunteer, tak menyentuh lagi sumber dan dari donatur.
Menjadi sebuah kotak di luar misteri bagi sesama. Meneropong luas demi kemaslahatan rakyat Indonesia. “Bahagia ketika bisa berbagi dan bisa bertemu dengan banyak orang meskipun sudah lulus kuliah. InsyaAllah juga membuka peluang rezeki bagi saya pribadi,” kata Kak Muti.Arni

Processed with VSCO

Processed with VSCO

Processed with VSCO

Processed with VSCO

Processed with VSCO

Processed with VSCO

Processed with VSCO

Processed with VSCO

Bagikan informasi ini: