Muhadjir Effendy: dari Komunikasi UM menjadi Mendikbud RI

Senyumnya pernah menghiasi meja redaksi Komunikasi
Penuh arti, menginspirasi setiap yang ia temui
Kuatkan semangat untuk terus berprestasi
Jiwa pendidik sejati tertanam dalam diri pribadi

Dalam kelas, ia tanamkan disiplin tinggi
Agar mahasiswanya raih mimpi yang pasti
Kini, negeri memanggilnya ‘tuk mengabdi
Mengemban amanah jadi Mendikbud RINama Lengkap                 : Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Si.
Tempat, Tanggal Lahir     : Madiun, 29 Juli 1956
Alamat                                     : Jalan Pisang Kipas Dalam
Nomor 2-D Malang 65144

Profesi/Status:
1. Pegawai Negeri Sipil (Dosen)
2. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020
3. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2016-2021)

Tanda Jasa:
Satyalancana Karya Satya XX tahun 2010

Pendidikan:
S-3: Program Doktor Ilmu-Ilmu Sosial, Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Disertasi: “Pemahaman tentang Profesionalisme di Tingkat Elit TNI-AD (Studi Fenomenologi pada Perwira Menengah TNI-AD di Daerah Garnizun Malang)”.
S-2: Program Magister Administrasi Publik (MAP), Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tamat 1996. Thesis: “Analisis Kebijakan Bantuan Dosen Pegawai Negeri Sipil untuk Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia”.
Sarjana Pendidikan Sosial IKIP Malang, tamat 1982.
Sarjana Muda, Fakultas Tarbiyah IAIN Malang, tamat 1978.

Pendidikan Tambahan:
Visiting Program, Regional Security and Defense Policy, National Defense University, Washington D.C., USA, 1993.
Long term course, The Management for Higher Education, Victoria University, British Columbia, Canada, 1991.

Pengalaman Pekerjaan:
Bidang Pendidikan:
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang selama 3 periode  (2000- Februari 2016).
Dosen tetap Universitas Negeri Malang sejak tahun 1986.
Bidang Pers:
Penulis artikel lepas di beberapa media massa, antara lain Jawa Pos, Republika, Surya, Kompas, dan sebagainya
Pendiri dan redaksi surat kabar kampus Universitas Muhammadiyah Malang BESTARI, 1986 hingga sekarang
Kru Majalah Komunikasi UM eks IKIP Malang sejak tahun 1982
Wartawan Semesta, Surabaya, tahun 1979-1980
Wartawan Warta Mahasiswa, Ditjen Dikti, tahun 1978-1982
Redaksi surat kabar kampus Mimbar Universitas Brawijaya Malang, 1978-1980
Wartawan Mingguan Mahasiswa, Surabaya, tahun 1978

Pengalaman Organisasi:
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2015-2020 (Bidang Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan).
Anggota Tim Visi Indonesia Berkemajuan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah: 2014.
Wakil Ketua Pengurus Pusat Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS): 2013–2017.
Penasihat Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia, Malang Raya: 2009–2012.
Anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Jawa Timur: 2014-sekarang.
Anggota Dewan Pembina Ma’arif Institute for Culture and Humanity: 2010–sekarang.
Wakil Ketua Pengurus Pusat Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS): 2013-2017.
Ketua Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB-PII) Jawa Timur: 2012-2016.
Ketua Umum Pengurus Pusat Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS): 2011-2014.
Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Malang Raya: 2011-2014.
Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur: 2010-2015.
Penasihat Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kabupaten Malang: 2010-2015.
Pembina Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Provinsi Jawa Timur: 2010-2014.
Penasihat Ikatan Sarjana Administrasi Pendidikan Jawa Timur: 2010-sekarang.

Kata Mereka tentang Sosok
Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Si.

IMG_2201

Muhadjir Effendy, dosen berbagai perguruan tinggi di Kota Malang ini baru saja menggantikan Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kesuksesannya sudah dirajut sejak muda, mulai dari menulis di majalah kampus hingga beberapa media massa nasional. Siapa yang mengira bahwa yang kini menduduki kursi menteri itu memulai langkahnya dari sini, Majalah Komunikasi. Menjadi wartawan kampus membuatnya mampu mengasah kemampuan berpikir kritis serta mengembangkan imajinasinya.
Majalah Komunikasi pada awalnya berbentuk koran dengan ukuran besar. Pada tahun 1980-an  Muhadjir Effendy mulai menjadi reporter lepas dan  tahun 1990-an menjabat sebagai ketua redaksi. Banyak teman-teman seperjuangan yang hingga saat ini masih menyimpan memori bersama beliau. Diantaranya adalah Dr. Mistaram, M.Pd., Prof. Dr. Ali Imron, M.Pd., M.Si., dan Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Bagaimana profil Muhadjir di mata teman seperjuangannya?

Dr. Mistaram, M.Pd.
Mantan Pimpinan Redaksi Komunikasi dan Dosen FS UM
Pada tahun 1980-an yang menjadi Ketua Redaksi Majalah Komunikasi adalah Pak Syamsul Arifin dan saya baru sebagai reporter lepas. Sekitar tahun 1990-an, Pak Muhadjir Effendy menjadi ketua redaksi, saya sudah menjadi reporter tetap, dan Koran Komunikasi sudah menjadi tabloid. Setelah Pak Muhadjir Effendy menjadi Rektor UMM, maka ketua redaksi diserahkan kepada saya.
Saya dengan beliau sangat dekat, karena isteri saya bekerja di FIP bagian kepegawaian, sehingga saat Pak Muhadjir mau kenaikan pangkat pasti menghadap ke isteri saya. Setelah beliau menikah, saya dengan istri juga bersilaturahmi ke rumah beliau. Saat-saat beliau membimbing rapat Komunikasi sangat sejalan dengan saya, termasuk bagaimana membuat judul yang dapat membuat pembaca tertarik. Beliaulah juga yang mencarikan percetakan untuk diajak kerja sama. Dulu setiap tahun reporter Komunikasi diajak untuk rapat di kawasan Coban Rondo atau di Selorejo agar ada suasana yang berbeda.
Pribadi Pak Muhadjir Effendy sangat tegas, sesekali berkelakar  walau agak kaku. Setahun yang lalu, saat hendak berangkat  ke Jakarta saya bertemu beliau di Bandara Abdulrachman Saleh Malang. Beliau melucu dan kita saling berolok-olok. Hahaha …

Prof. Dr. Ali Imron, M.Pd.
Anggota Penyunting Komunikasi dan Guru Besar FIP UM
Saya masuk redaksi Majalah Komunikasi tahun 1983. Saat itu saya masih mahasiswa semester 5, lalu diperpanjang lagi pada semester 7. Tentu, semuanya berkat kepercayaan yang diberikan oleh Pak Muhadjir. Kala itu, Pak Muhadjir sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Komunikasi, Pemimpin Redaksinya Pak Syamsul Arifin, Pembantu Rektor III.  Awalnya, saya sebagai reporter, kemudian setelah jadi dosen, tahun 1986  baru menjadi anggota dewan redaksi. Pak Muhadjir dekat dengan semua kru Komunikasi. Saat masih menjadi reporter, saya diberikan rekomendasi menjadi wartawan Liberty, sebuah Majalah Wanita yang terbit di Kota Surabaya.
Setiap Majalah Komunikasi akan terbit, pemimpin redaksi selalu mengundang rapat untuk membahas rencana berita yang akan dimuat. Apa yang akan jadi headline atau berita utama, termasuk berita-berita apa saja yang akan ditulis.  Para anggota dan dewan redaksi melaporkan hasil editing artikel di berbagai bidang: pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), sastra, dan budaya. Hasil rapat redaksi itu, kemudian ditindaklanjuti oleh Pak Muhadjir sebagai redaktur. Dalam rapat lapis kedua ini, beliau membagi tugas untuk menggali berita.Ada target waktu untuk penyelesaian tugas masing-masing.
Setelah semua berita terkumpul, Pak Muhadjir yang me-layout koran halaman demi halaman secara manual, belum terkomputerisasi seperti sekarang. Karena Komunikasi kala itu ada delapan halaman ukuran surat kabar Kompas. Berita, reportase, feature (tulisan khas), artikel, cerpen, semua diketik menggunakan mesin ketik. Setelah di-layout, semua naskah dibawa ke percetakan surat kabar Suara Indonesia yang terbit di Kota Malang, tepatnya di Jalan KH. Hasyim Asy’ari. Setelah naskah di-layout barulah Pak Muhadjir beserta kru Majalah Komunikasi lainnya melakukan koreksi kesalahan ketik ulang yang dilakukan oleh petugas percetakan. Lagi-lagi, Pak Muhadjirlah yang mengomando semuanya, sehingga Majalah Komunikasi bisa terbit.
Banyak hal yang tidak bisa dilupakan saat bersama Pak Muhadjir di Redaksi Majalah Komunikasi, seperti berbagi memburu berita, tugas wawancara, dan mengetik bersama-sama di Kantor Komunikasi. Menariknya, ketika berangkat ke percetakan Suara Indonesia di Jalan KH. Hasyim Asy’ari Malang semua berjalan kaki dari kampus IKIP Malang dan itu dilakukan malam hari. Semalam suntuk kami tidak tidur untuk mengoreksi hasil layout koran.
Bagi saya, beliau sangat baik. Beliau termasuk pekerja keras dan ulet. Pak Muhadjir  termasuk orang serius yang suka bercanda. Beliau juga termasuk orang yang sangat taat terhadap pemimpin. Ketokohannya sudah kami rasakan sejak masih menjadi mahasiswa. Hampir semua pekerjaan yang diamanatkan oleh pimpinan selalu dapat diselesaikan dengan baik. Makanya, kala itu kami sudah memprediksi kalau suatu saat beliau menjadi orang besar. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Pak Muhadjir adalah pribadi yang religius. Dimanapun beliau bertugas, saat malam selalu sholat tahajud. Saat layout koran di Suara Indonesia, beliau juga menyempatkan untuk sholat tahajud di musola surat kabar. Termasuk saat mencetak koran Komunikasi di percetakan Surat Kabar Memorandum  Jalan Pahlawan Atas Surabaya, beliau juga selalu tahajud. Yang paling membuat kami terkesan selaku saya menjadi mahasiswa kala itu, Pak Muhadjir sangat dermawan. Saat menjadi Pembina Asrama Mahasiswa UM, honor yang beliau dapat dari koran-koran sering dipakai mentraktir mahasiswa. Makanan dan minuman kala itu, tidak semelimpah sekarang. Tidak hanya itu,  beliau banyak berbagi inspirasi, baik menyangkut kemahasiswaan, kehidupan, keagamaan, tata pergaulan, etika, dan kesantunan. Beliau getol menshare hal-hal positif.
Dr. Waras Kamdi, M.Pd.
Mantan Kru Komunikasi dan Guru Besar FT UM
Yang saya kenal, beliau sangat cerdas, ide-idenya visioner, melampaui pemikiran kebanyakan orang, serta piawai dalam mengelola ide dan menyelesaikan masalah. Gaya jurnalisnya masih kental, karena memang beliau besar juga dari lingkungan jurnalistik. Beliau juga seorang fotografer. Mungkin karena kebiasaannya dengan zoom in zoom out objek di lensa kameranya itu juga beliau memiliki kepekaan yang tajam dalam melihat lanskap kehidupan.
Sosok Mendikbud Muhadjir, mampu melihat dan menemukan potensi-potensi unik di sekitarnya yang tidak banyak ditangkap kepekaan indera orang lain kebanyakan. Banyak orang kemudian terbelalak ketika buah karyanya muncul ke permukaan.
Karena itu, jangan terkaget-kaget jika nanti Pak Muhadjir membuat kebijakan terobosan untuk membenahi pendidikan di negeri ini. Saya yakin, kepiawaian taktis strategis beliau mampu mengurai benang kusut pendidikan kita dan memberikan sIMG_2608olusi banyak paradoks pendidikan di negeri ini.
Ada yang sangat terkesan bagi saya pribadi selama ia mengalami menjadi mahasiswa di bawah binaan Prof. Muhadjir tahun 1980-an. Usai lulus S1 pada 1985, saya meminta doa restu melamar kerja di suatu penerbitan lokal di Jatim (Jawa Timur). Dan, beliau bilang “Ndak, Dik. Awakmu cocok di sini (di IKIP Malang maksudnya)”. Saya ikuti saran beliau dan saya diterima menjadi dosen IKIP Malang  Januari 1986. Andai saya tidak mengikuti saran beliau mungkin saya tidak jadi guru besar di UM.Maulani

 

Bagikan informasi ini: