Bahasa Indonesia Mendunia di Tangan Putra UM

Bahasa Indonesia memiliki peluang besar menjadi bahasa internasional dan penting untuk dipelajari. Hal ini berkaca dari perjuangan Dr. Gatut Susanto, M.Pd.

Pribadi yang humanis dan humble ada pada sosok Gatut Susanto. Gaya komunikasi yang renyah dan hangat menjadi pembawaan Gatut. Senyum dan keteduhan air wajahnya mampu menghipnotis pendengar untuk berlama-lama  mendengar dan bercengkrama dengannya. Hal inilah yang dialami penulis saat menemui beliau usai membimbing belasan mahasiswa di Kantor Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) UM (12/05).
Gatut Susanto dikenal dengan dedikasinya membawa bahasa Indonesia ke kancah internasional. Terbukti dengan beragam penghargaan yang diraih selama belasan tahun terakhir. Salah satu yang paling segar yakni The Prestigious Academic Awards dari Walailak University (WU) Thailand.
Penghargaan akademik tersebut diberikan kepada Gatut Susanto ketika Milad ke-25 Walailak University (29/03). Penghargaan diberikan kepada orang-orang yang berjasa untuk kampus tersebut, salah satunya untuk  Indonesia yang disematkan pada putra UM ini. “Saya sangat terharu ketika mendapatkan upacara khusus dari pihak fakultas berupa kalungan bunga-bunga dan sederet ceremonial penghormatan. Esok harinya diberikan sanjungan-sanjungan oleh pimpinan universitas ketika menghadiri penganugerahan di pihak rektorat hingga saya merasa speechless,” kenang pria berzodiak Taurus tersebut yang telah menekuni dunia BIPA selama 24 tahun tersebut.
Kerja sama menggaungkan bahasa Indonesia ke negeri Gajah Putih bermula dari tali silaturahmi tahun 2009. Gatut Susanto bertandang ke Thailand atas undangan Ketua Jurusan Regional Studies. Nama Gatut didengar dosen-dosen Jurusan Asean Studies berkat cerita-cerita mahasiswa WU yang studi di UM. Singkat cerita para mahasiswa yang telah belajar di BIPA UM merasa diopeni Pak Gatut dan  belajar banyak ketika di Malang. Pria murah senyum tersebut secara tangkas membangun komunikasi dengan pihak Thailand. Pertemuan menjadi langkah awal dalam menjalin kerja sama dengan lembaga tersebut. Alhasil, kerja sama tersebut mengerucutkan beragam proyek bersama untuk tahun 2010. Salah satunya menghasilkan kerja sama pengembangan kamus bahasa Indonesia-Thailand yang tergarap dalam dua bulan. Kamus tersebut masih difungsikan hingga kini dan terus mengalami perkembangan. Selain kamus, kerja sama yang dilahirkan yakni program mahasiswa Jurusan Asean Studies dari  untuk belajar Bahasa Indonesia di UM selama tiga bulan yang diberi nama Program In Country.
Kerja sama tersebut seiring waktu memiliki perkembangan yang baik bagi UM maupun WU. Bisa dilihat dari alumni program In Country yang telah melahirkan tenaga pengajar, dosen, maupun translator ketika pulang ke  Thailand. Tidak dipungkiri, jika bahasa Indonesia penting untuk dipelajari. “Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang diperhitungkan di dunia, termasuk ASEAN. Melihat fakta yang terjadi, 60% penduduk ASEAN adalah warga Indonesia sehingga tidak salah jika belajar bahasa Indonesia memiliki manfaat yang beragam,” tutur Direktur BIPA UM.
Diselenggarakannya penutupan In Country ke-8 (23/05) menunjukkan bahwa manajemen dari tahun ke tahun semakin bagus. Awalnya program berlangsung selama tiga bulan dan kini menjadi enam bulan. Program In Country semakin memiliki variasi dalam penyelenggarannya. Misalnya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Blitar selama tiga minggu. “Program KKN ini, selain memberikan kesempatan mahasiswa Thailand untuk praktik menggunakan bahasa Indonesia dengan masyarakat pengguna bahasa Indonesia di lingkungan yang alamiah, juga merupakan ajang untuk mengenal dan mengalami budaya Indonesia,” terang dosen idola mahasiswa ini.
Program BIPA UM tidak hanya memperkenalkan dan mengajarkan bahasa Indonesia tetapi lebih dari itu, yaitu melakukan soft diplomacy antarbangsa dengan memberikan keteladanan yang berkarakter untuk mahasiswa Thailand. “Awalnya saya ingin selalu pulang ke Thailand tetapi rasanya sekarang masih ingin tetap tinggal di sini dan seperti ungkapan Pak Gatut,­ bawalah pulang yang baik dan tinggalkan yang buruk,” kenang salah satu mahasiswa Thailand saat menyampikan kesan pesan dalam penutupan program In Country.
Kesuksesan Gatut Susanto menginternasionalkan bahasa Indonesia berbuah manis. Bukan hanya bekerja sama dengan Thailand, namun juga memiliki track record bersama American Councils. Alumnus beasiswa Fullbright sekaligus pengajar bahasa Indonesia di Universitas Arizona pada 1997 ini menjelaskan hal tersebut. “Saat ini UM menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya oleh American Councils untuk menyelenggarakan program pembelajaran bahasa Indonesia bagi para mahasiswa Amerika,” kata dosen Bahasa Indonesia kelahiran Blitar tersebut.
Tahun 2010, upaya Gatut Susanto membumikan bahasa Indonesia mulai berkembang manis di negeri Paman Sam. Gatut dipercaya mengelola Critical Language Scholarship (CLS) di bawah naungan BIPA UM. Berkat kiprahnya, Gatut diminta menjadi pembicara guna berbagi pengalaman menyelenggarakan program pembelajaran bahasa asing dalam program workshop CLS di Washington DC, Amerika Serikat (20-22/02)
Selain dipercaya menjadi Institute Director Program CLS, Gatut juga diberi mandat sejak 2013 di Indonesia Overseas Program (IOP) yang merupakan program pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia. Sejak tahun 2015, sosok penggemar kopi ini  juga dipercaya oleh American Councils menjadi committee bersama dengan Public Affair Services Kedutaan Besar Amerika di Jakarta  untuk Young South East Asian Leadership Initiative Professional Fellows Program (YSEALI PFP) dalam bidang pemberdayaan ekonomi (economic empowerment). Program YSEALI PFP adalah program beasiswa bagi para pemuda Indonesia umur 25–35 tahun guna berlatih di Amerika selama enam minggu.
Usaha untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia terus dilakukan oleh tenaga akademisi di Fakultas Sastra UM ini. Ia tidak pernah lelah mencari terobosan. Hasilnya terlihat nyata, di tahun 2018 mendatang, Gatut mulai berkiprah di United Nation Education, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Chair. Di organisasi ini, Gatut akan bermitra dengan 23 universitas di Asia, Eropa, Amerika Latin, dan Afrika akan menangani program-program Language Policies for Multilingualism. “Semoga bahasa Indonesia dapat berkembang di dunia internasional dengan lebih cepat lewat jaringan UNESCO ini,” begitu harapannya di akhir sesi wawancara dengan pewarta majalah Komunikasi.Arni

Bagikan informasi ini: