MTQMN XV tahun 2017 yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) sejak 28 Juli –4 Agustus 2017 ini dijadikan momen berkumpulnya para wakil rektor/pimpinan bidang kemahasiswaan dari Perguruan Tinggi Negari (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) seluruh Indonesia. Kegiatan yang diikuti oleh 237 orang perwakilan perguruan tinggi seluruh Indonesia ini sepakat untuk berkumpul mengadakan sarasehan bersama pada Sabtu (29/07) di Graha Cakrawala UM sejak pukul 07.00–13.00 WIB. Acara yang berlangsung meriah dan penuh keakraban ini menjadi ajang silaturahmi antarwakil rektor kemahasiswaan agar tetap memiliki visi yang sama.


Direktur Kemahasiswaan Kemenristek Dikti, Dr. Didin Wahidin, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagai seorang pendidik yang dekat dengan mahasiswa, sangatlah penting untuk menciptakan dan mengembangkan kesatuan visi dalam mendidik.
“Saat ini kita sering melihat gradasi moral yang terjadi pada mahasiswa, keadaan mahasiswa menjadi memprihatinkan dengan kurangnya tanggung jawab moral. Mudahnya disusupi ideologi radikal dan antipancasila. Oleh karenanya, kita harus menyamakan visi untuk berjuang bersama menangkal dan membentengi mahasiswa kita dari ideologi-ideologi yang dapat memecah belah persatuan bangsa,” ujarnya.
Lanjutnya, Indonesia ini akan menjadi lebih maju bila setiap generasi muda, dalam hal ini mahasiswa, memiliki tanggung jawab dan kepedulian serta kesadaran untuk mengembangkan negara  ke arah yang lebih baik. Mahasiswa telah menjadi agen perubahan bagi masyarakat Indonesia. “Melalui kegiatan sarasehan ini, saya mengajak seluruh wakil rektor bidang kemahasiswaan untuk dapat membuat format kegiatan mahasiswa yang bersifat kecintaan dan kebanggaan pada negaranya,” terangnya.
Dalam sarasehan ini juga diadakan diskusi dan dengar pendapat mengenai skema dan teknis pelaksanaan MTQMN mendatang. Salah seorang peserta sarasehan, Cipto dari Sumatera Utara, mengusulkan agar semua yang hadir dapat bersepakat bahwa MTQ dapat melibatkan seluruh PTN dan PTS di Indonesia.
“Kita dapat membuat skema/teknis pelaksanaan lomba dengan memulai seleksi lombanya tingkat regional yang menjadi kreasi untuk sampai pada level nasional,” ungkapnya.
Pendapat lain juga disampaikan Wijanarko, peserta dari Universitas Bung Hatta, Sumatera Barat, menyatakan bahwa ajang MTQ ini tidak hanya sekadar lomba atau ajang mencari juara, melainkan juga sebagai proses dalam memberikan semangat dan motivasi bagi mahasiswa untuk dapat berprestasi. “Dengan pelaksanaan MTQMN, kita dapat mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan,” imbuhnya.
Momen berkumpulnya para wakil rektor/pimpinan kemahasiswaan ini juga ditandai dengan deklarasi bersama seluruh peserta sarasehan yang dipimpin oleh Lurah Paguyuban. Deklarasi bela negara sangat penting dilakukan agar seluruh para punggawa memiliki semangat persatuan dan kesatuan, serta visi untuk mengembangkan pendidikan mahasiswa yang berkarakter.Fanisha