Jadi Idola Remaja, Dilan Berkarnaval Sastra

foto karnaval sastra

BEM Fakultas Sastra UM mewujudkan salah satu progam kerja andalannya bertajuk Karnaval Sastra (Kanvas) yang dilaksanakan selama tiga hari (14-16/11). Serangkaian acara yang diselenggarakan di Sasana Krida UM tersebut meliputi seminar nasional, talkshow, dan pagelaran seni, drama, tari, dan musik (sendratasik).

Acara ini melibatkan berbagai pihak. Salah satunya talkshow bertema “Rasaku dalam Karyaku” yang tidak kalah menarik dengan mendatangkan penulis novel Dilan, yaitu Pidi Baiq. Tak ketinggalan, hari terakhir diadakan pagelaran sendratasik dengan melibatkan banyak komunitas seni di Kota Malang. “Tujuan diadakan Kanvas untuk menambah pengetahuan baru dan mengajak mahasiswa untuk berkarya, selain itu juga menumbuhkan rasa kekerabatan,” tutur Franciscus Xaverius Langga, Ketua Pelaksana Kanvas.
Acara talkshow yang dibuka oleh Rumah Serem Band sebagai band andalan Fakultas Sastra (FS) dihadiri oleh banyak mahasiswa dan menjadi menarik ketika Pidi Baiq membawakan talkshow dengan ceria, penuh semangat, dan berusaha dekat dengan peserta. Tak tanggung-tanggung, pria yang akrab disapa Ayah Pidi ini menginstruksikan peserta untuk duduk lesehan di  panggung. Pidi memberikan kebebasan untuk bertanya dan sharing mengenai kepenulisan. Pidi pun mengaku banyak bermain komposisi kata dan tanda baca pada tulisannya. Ia pun memaparkan bahwa tak melulu terikat pada teori sastra. Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berpesan agar kita tidak pernah berhenti menulis. “Ibu adalah orang yang merasa tak berguna, ketika kita tidak berkarya.” ujarnya.
Tak hanya mahasiswa sastra, mahasiswa luar sastra pun antusias dengan acara ini. “Karena kami mendatangkan penulis novel yang lagi hits di kalangan remaja. Dengan karya best seller-nya, yaitu Dilan dan Milea,”  ujar Fransiscus. Panitia pun memanjakan peserta dengan menjual tiket VIP sehingga peserta dapat memperoleh buku Milea serta foto bersama Pidi Baiq.  “Kami memilih Pidi Baiq karena ahli dalam kepenulisan sastra dan beliau berkarya dari hati. Apa yang ingin disampaikan menjadi natural dan mudah diterima,” tambah Franciscus.
Acara ini didukung oleh stand-stand wirausaha dan expo buku dengan tujuan meningkatkan minat baca mahasiswa. Cuaca menjadi salah satu hambatan dari acara ini. Meskipun begitu, Sasana Krida tetap dipenuhi pengunjung. “Acaranya menarik, meskipun hujan-hujan saya relakan datang demi acara Kanvas,” ungkap Zahra, mahasiswa Sastra Indonesia.Amey

Bagikan informasi ini: