Mekar Bunga Kamboja Berwarna Merah Muda

 

Rough Sket Ilustrasi Kambojaoleh Luthfi Nur Kholidiya

Kau mestinya terpana. Mekar bunga kamboja yang serentak itu terlalu menawan meski tengah bertugas memayungi pemakaman. Bahkan hingga detik ini aku masih teringat, saat dirimu tertatih-tatih membawakan rantang berisi makan siang untuk bapakku yang usai menggali liang lahat, kau sama sekali tidak menampakkan rasa suka.
Kau sama sekali tidak terpana.


“Kenapa aku harus suka?” balasmu ketus saat kutanya tentang bunga-bunga kamboja yang bermekaran.
“Bukan! Bukan karena aromanya.” Lagi-lagi kau menyangkal. Semua kemungkinan alasan yang kukira menjadi penyebab tak satu pun kau iyakan.
“Sudahlah, kau tak perlu menduga-duga.”
Ahh, kau pasti tak tahu. Kala itu aku tengah menebak-nebak. Memikirkan apa saja yang mungkin kau sukai. Hal yang jelas tak pernah kulakukan, bahkan terbesit pun tidak. Kau tahu? Jika saja aku tak mengetahui rahasiamu, mungkin aku tak akan tersiksa hingga detik ini.
Dulu, saat kau masih menjadi salah satu penari gandrung terbaik, aku hanya mampu mengagumimu. Memuji seluruh keelokan yang ada pada dirimu. Bukan dengan lisan. Bukan! Aku marapalnya hanya dalam hati. Lantas menyiksa kepalaku dengan rupa ayumu yang masih menggunakan Omprok.
“Kau tahu? Filosofi Omprok ini begitu dalam,” ucapmu antusias sambil menyambar selendang, bergegas naik ke panggung, “nanti kuberitahu.”
Ucapanmu yang setengah berteriak padaku membuat gerombolan pemuda yang tadinya asyik menyesap kopi hitam serempak menoleh. Bergantian menatapku dan dirimu yang sambil lalu.
“Kamu kenal Windari?” seorang pemuda dari mereka mengintrogasi, gerombolan pemuda itu melempar tatapan tanya dan mengintimidasi yang membuatku begidik ngeri. Aku tak bisa melakukan apapun, kecuali melesatkan anggukan bertubi-tubi.
Kau tahu Windari? Sejak saat itu, aku tak berani berada dekat denganmu.
Bukan Windari! Bukan karena aku takut dengan ancaman gerombolan pemuda itu. Kenyataannya sama sekali berbeda dengan apa yang kamu pikirkan Windari. Sekalipun aku menjelaskan, kau masih tak akan mengerti.
Tapi, kau tak peduli. Entah aku menggubrismu atau tidak, kau tetap melanjutkan ceritamu. Menunaikan janji untuk memberitahuku tentang gandrungmu. Hal yang selalu kau banggakan.
“Ada tokoh Antasena, Yan. Omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak itu menjadi lebih artistik dengan ornamen tokoh pewayangan Jawa itu.”
Ocehanmu tanpa spasi, Windari. Meski raut mukaku sama sekali menunjukkan ketidaktertarikan, kau masih berapi-api dengan cerita Omprok, benda yang selalu kau kenakan ketika menari gandrung. Mahkota yang sempurna membuat mukamu persis seperti telur. Menambah ayumu, Windari.
Ahh, Windari, kenapa kebanggaan itu cepat sekali sirna?
Tidak lama usai kau riang bercerita tentang omprokmu, kau serupa kena kutukan. Kau tahu, Windari? Satu kampung membicarakanmu. Tak luput juga gerombolan pemuda yang tergila-gila padamu. Bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada mukamu, Windari?
Paras ayu yang membuat pemuda satu kampung tergila-gila padamu mengeriput. Entah dari mana asalnya keriput itu, tapi kau malah berlaku tenang. Bahkan saat aku terbirit-birit berlari ke rumahmu, meninggalkan bapak yang tengah membersihkan area pemakaman, kau melemparkan senyum simpul padaku.
Kau tahu, Windari?
Entah mengapa, aku merasa itu adalah senyumanmu yang paling tulus selama ini. Melihatku yang mematung di depan daun pintu yang menganga, kau menghampiriku. Sekali lagi tersenyum manis.
“Apa kau berlari terseok-seok ke mari tanpa sandal dengan sapu lidi di tanganmu seperti itu?” telunjuk kananmu mengarah pada tanganku yang gemetar memegang sapu, sementara tangan kirimu berupaya menutup mulut. Menahan agar tawamu tidak pecah.
“Baiklah-baiklah,” kau berusaha menghentikan hasrat ingin tertawa, “apa aku harus menjadi keriput begini agar kau mau melihatku?”
Sungguh Windari! Aku tidak memiliki jawaban atas hal itu. Bahkan dalam hati sekalipun. Tapi … ahh, entahlah. Bukan itu yang terpenting sekarang. Apa kau tidak ingin memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi?
Namun, bukannya menjelaskan padaku, kau menarikku keluar. Pergi ke tempat yang semula kutinggalkan hanya demi mengetahui keadaanmu. Bapak yang sedang mencabuti rumput liar terkesiap. Sedikit kaget. Tapi kau hanya melempar senyum. Bertanya kabar bapak dan emak di rumah.
Angin semilir kala itu terekam jelas di ingatanku, Windari. Kau memetik bunga kamboja putih yang tengah mekar di dekat makam bapakmu usai menuntunku duduk di salah satu batu besar. Auramu tak menunjukkan setitik kesedihan. Sebaliknya, kau teramat bahagia, Windari. Itulah yang tidak kumengerti. Apa yang sebenarnya tengah terjadi padamu?
“Yan, apa kau tak jenuh hanya melihat bunga kamboja berwarna putih?”
Mendengar pertanyaanmu hanya membuatku mengerutkan dahi. Tapi, kau hanya membalas raut mukaku dengan tawa. Memang benar di pemakaman ini semua bunga kamboja berwarna putih, tapi apa perlu harus dipermasalahkan? Toh, nyatanya itu hanya bunga kamboja di pemakaman. Bukan untuk dinikmati sebagai hiasan, Windari. Terkadang, pemikiranmu membuatku semakin pening.
“Meskipun hanya di pemakaman, tidak bolehkah ada warna lain di sini?” tanyamu seolah mendengar jelas isi kepalaku, “apa kau tak ingin menanam bunga kamboja berwarna merah muda di sini?”
Kau tidak perlu mendengar jawabanku. Kau selalu tahu itu.
Bagimu, bahasa diamku adalah jawaban terbaik yang menjadi setiap pertanyaanmu. Kau selalu begitu, Windari. Tapi, aku menyukainya.
“Aku masih menari, Yan,” ucapmu tiba-tiba, “meski bukan lagi sebagai penari yang ditonton. Aku senang, Yan. Aku senang meski hanya mengajari menari gandrung.”
Kau membalas senyumku, Windari. Kau terlihat amat bahagia.
“Mulanya aku juga khawatir, Yan. Aku tidak menjadi diriku lagi. Itu hal yang paling aku takuti. Tapi, sekarang aku tak perlu khawatir lagi, Yan. Aku masih bisa mengajar menari, maka identitasku tidak akan hilang kan, Yan?”
Aku mengangguk. Menanggapimu dengan anggukan kurasa cukup. Mengiyakan apa yang kau yakini, Windari.
Windari. Lihatlah, Windari. Di hadapanku kini, bunga kamboja berwarna merah muda sedang mekar, Windari. Ahh, sudikah kau kembali? Aku sudah menanamnya. Ini adalah satu-satunya bunga kamboja berwarna merah muda di pemakaman ini, Windari.
Aku menanamnya untukmu. Mewujudkan permintaanmu.
Tak bisakah kau kembali, Windari?
Angin yang berkesiur ringan mengantarkanku lagi pada ingatan itu. Saat siang yang amat terik tiba-tiba dibungkus hujan lebat. Bukannya berteduh, kau malah berlari ke tengah jalan raya. Menerjang hujan dan padatnya lalu lintas.
Kau tahu Windari? Jika aku diberi kesempatan kembali pada saat itu, aku akan menahanmu. Berlama-lama menikmati riasan yang luntur dari wajahmu. Kau tidak keriput. Windari, kau masih cantik seperti dulu.
Aku tahu, Windari. Kau tak bisa melupakan kematian bapakmu. Terlindas truk gandeng saat mengejarmu yang ingin kabur dengan lelaki bajingan yang mengelabuimu. Tapi haruskah rasa bersalahmu dibayar dengan kau menyelamatkan bapak tua? Kenapa kau harus membayar lukamu dengan mengorbankan diri Windari?
Ahh, seharusnya aku segera menabur kembang di atas makammu bukan? Bagaimana? Kau suka dengan bunga kamboja ini? Warnanya merah muda dan dia sudah mekar.
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia dan Juara III
Kompetisi Penulisan Cerpen
Majalah Komunikasi  2017

Bagikan informasi ini: