Mengonstruk Makna Paskah

Salib Baru

oleh Sukamto

skah  merupakan kata yang biasa-biasa saja, namun dapat juga menjadi sesuatu yang luar biasa maknanya. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana seseorang memberi makna atau memaknai Paskah. Bagi umat Kristen, perayaan Paskah merupakan puncak perayaan liturgis sepanjang tahun. Persepsi dan penghayatan atas Paskah mengandung isi yang cukup luas dan dalam. Keluasan dan kedalamannya ditentukan oleh iman dan kepercayaan yang dipunyai. Bagi yang tak percaya, Paskah tidak lebih sebagai angin lalu. Namun, bagi yang percaya,  Paskah menjadi ungkapan iman yang utuh, holistik dan penuh makna. Bagi umat Kristiani, Pesta Paskah menjadi perayaan pokok iman Kristiani, yaitu kebangkitan Yesus Kristus dari alam maut.


Sejak peristiwa tersebut dan berkat kebangkitan tersebut, umat Kristiani mengimani dan menempatkan pengetahuan, penghayatan, pengalaman yang monumental, menempatkan umat Kristiani tiada lagi gentar menghadapi maut. Inti pokok keyakinan ini adalah mereka yakin dan percaya bahwa mereka juga akan bangkit seperti Yesus Kristus. Sebagaimana kata Yesus Kristus, “Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”. Jadi andai kata Yesus Kristus tidak dibangkitkan dari alam maut, maka sia-sialah seluruh pemberitaan Injil dan sia-sia pulalah keyakinan dan kepercayaan umat Kristiani.
Paskah bukanlah peristiwa tunggal, melainkan sebuah proses panjang yang diawali dengan dan atau sejak “Rabu Abu” sampai 40 hari berikutnya masa itu dikenal dengan masa Prapaska sampai Pekan suci. Selama 40 hari itu pula umat Kristiani secara penuh dan total menyiapkan diri untuk mengadakan gladi rohani, membangun iman dan kesediaan jalan mengikuti jejak dan jalan Yesus Kristus. Betapa pentingnya perayaan Pesta Paskah sehingga dirayakan selama seminggu penuh, yang diawali dengan Minggu Palma dan diakhiri dengan perayaan hari Minggu Paskah.
Mengapa  Abu? Merenungi dan memaknai Rabu abu, sama halnya dengan mengosntruk kembali perjalanan iman, abu sekurang-kurangnya diartikan: pertama, sebagai perubahan akibat terbakar oleh api,  kedua adalah abu dapat menjadi pupuk kehidupan. Bagi umat kristiani, Abu menjadi tanda  yang perlu diungkapkan dalam ibadah dan diwujudkan dalam kehidupan. Sambil mendengar dan memahami Sabda Allah inilah orang beriman diajak mengolah kehidupan dalam semangat doa, pantang dan puasa, serta berbuat amal.
Hari minggu Palma, peristiwa penting yang dikenang dan direnungkan pada hari Minggu Palma ini adalah kunjungan istimewa Yesus bersama 12 muridnya. Kisah ini dalam konteks pekan suci merupakan pengantar terhadap kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Sebagaimana Yohanes, Yesus memang sudah menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya di Yerusalem.  Hal yang perlu dicatat, Yesus memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai. Kendaraan ini meneguhkan dan sekaligus menyimbolkan kedamaian. Jadi dengan mengendarai keledai memasuki Yerusalem, Yesus memaklumkan diri sebagai raja Mesias yang membawa kedamaian bagi semua bangsa.
Hari Kamis Putih, peristiwa penting yang dikenangkan dan direnungkan pada hari ini adalah perjamuan teakhir Yesus bersama kedua belas muridnya. Makna yang terkandung adalah pemberian makanan dan minuman, yang bukan hanya makanan dan minuman biasa, melainkan sebagai simbolis memberikan diri-Nya sendiri kepada mereka. Pemberian roti dan anggur kepada para murid melambangkan pemberian tubuh dan darah Kristus kepada mereka.
Hari Jumat Agung, peristiwa penting yang mengenang dan merenungkan penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib. Dalam sajian peristiwa, ini bukan semata-mata penyampaian peristiwa sejarah, melainkan juga interpretasi iman umat Kristiani. Berbagai peristiwa penting di sini adalah doa di Getsmani, penangkapan Yesus, pemeriksaan di hadapan Mahkamah Agama, penyangkalan Petrus, Pengadilan di hadapan Pilatus, penyaliban, dan kematian Yesus yang diakhiri penguburan.
Konstruksi makna Paskah dapat diformulasikan bahwa semua penginjil menegaskan dan meneguhkan bahwa pertama Yesus sama sekali tidak bersalah, sehingga sesungguhnya ia tidak pantas dihukum mati. Kedua, Yesus memang harus mati untuk menebus dosa-dosa manusia. Ketiga, Yesus mati sebagai raja orang Yahudi alias Mesias (sebutan Ibrani)  atau Kristus (sebutan Yunani). Keempat, Yesus menderita batin dan murid-murinya membiarkan. Kelima, kerelaan dan kesabaran Yesus dalam menjalani penderitaan menegaskan sikap-Nya untuk taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Keenam, untuk menjadi murid-murid Yesus harus bersedia menyangkal diri dan memikul salib bersama Dia.
Sabtu dan Minggu Paskah merupakan puncak dari seluruh perayaan Paskah. Peristiwa penting yang dikenang dan direnungkan pada hari ini adalah kebangkitan Yesus Kristus dari orang mati,.Inilah yang menjadi pokok  pemberitaan dan kepercayaan orang-orang Kristen. Menurut penjelasan Santo Thomas Aquinas, penampakan Yesus sesudah kebangkitan-Nya, terutama menyangkut “penglihatan iman” bukan penglihatan dengan mata inderawi, kebangkitan dan penampakkan Yesus hanya dapat dilihat dengan “mata iman”.
Pokok pewartaan dan kepercayaan jemaat Kristen inilah yang dikenang dan direnungkan selama “Pekan Suci”, khsususnya dalam “trihari suci” serta teristimewa pada hari Sabtu dan Minggu Paskah.
Dalam perayaan “Pekan Suci” ini secara khusus diperingati dan dikenang empat peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi umat manusia umumnya dan Kristiani khususnya, yaitu:
(1) Kunjungan istimewa  Yesus ke Yerusalem dirayakan pada hari Minggu Palma;
(2) Perjamuan terakhir Yesus bersama para muridnya dirayakan pada hari Kamis Putih;
(3) Penderitaan dan kematian Yesus dirayakan pada hari Jumat Agung;
(4) Kebangkitan Yesus dari alam maut dirayakan pada hari Sabtu dan Minggu Paskah;
Ketiga yang terakhir itulah yang lazim disebut perayaan “Tri Hari Suci”. Demikianlah sekelumit konstruksi makna Paskah. Semoga berkat melimpah. Amin.

Bandungrejosari
Medio Maret 2018

Penulis adalah dosen Jurusan Ilmu Sejarah dan anggota penyunting Majalah Komunikasi Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: