Ajak Guru Penjaskes Lebih Perhatikan Kesehatan Anak

 

Ilmu pengetahuan dapat diakses melalui banyak cara, baik media cetak maupun digital. Namun dalam pelaksanaannya, proses memperoleh ilmu tak boleh lepas dari adanya guru. Sebab dari guru siswa tak hanya belajar tentang ilmu, namun juga bagaimana bertindak dan berperilaku. Hal inilah yang membuat para penggerak di bidang pendidikan terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan guru. Sabtu (21/7) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Malang (UM) mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Implementasi Olahraga Kesehatan dan Pendidikan Jasmani terhadap Upaya Peningkatan Karakter Anak Bangsa”. Kegiatan ini diadakan di Aula Gedung A3 yang dihadiri Prof. Dr. Dr. Oktia Woro KH., M.Kes., Prof. Dr. Syahrial Bakhtiar, M.Pd., dan Paulus Pasurnay sebagai pemateri. “Karakter anak bangsa saat ini menjadi problematikan bersama, untuk itu adanya seminar ini diharapkan peserta dapat lebih mengupayakan yang terbaik bagi anak didiknya,” jelas Dr. Ari Wibowo Kurniawan, S.Pd., M.Pd. selaku ketua pelaksana.


Acara dihadiri oleh 150 peserta dengan 7 pemakalah, 22 diantaranya adalah guru. “Seminar kali ini cukup membahagiakan bagi saya. Sebab peserta yang mendaftar lebih dari 21 wilayah di Indonesia” terang Prof. Dr. M.E. Winarno, M.Pd. yang merupakan Dekan FIK. Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Syahrial Bakhtiar, M.Pd.. Wakil Rektor IV Universitas Negeri Padang (UNP) tersebut mengatakan bahwa jika guru hanya disibukkan dengan pusat ilmu pengetahuan saja maka akan kurang. Dalam hal ini penting bagi guru Penjaskes untuk memperhatikan karakter anak bangsa. Guru Penjaskes seharusnya juga menjadi orang pertama yang sadar akan kesehatan anak di sekolah. Maka dari itu, tugas guru adalah mengharuskan anak-anak melakukan berbagai aktivitas fisik agar kesehatan tetap terjaga. “Knowledge is power, but character is more. Menjadikan orang pintar cukup dengan membaca buku tapi belum tentu orang tersebut berkarakter yang baik,” tambah Guru Besar PJK FIK UNP tersebut.
Paulus Pasurnay yang merupakan Teknokrat Kepelatihan Olahraga Indonesia mengatakan bahwa guru pendidikan jasmani harus memiliki strategi dalam mengajari peserta didik bahwa setiap kegiatan harus dibarengi dengan pembentukan karakter. Prof. Dr. dr. Oktio Woro KH., M.Kes. menambahkan bahwa karakter merupakan keadaan interaksi internal individu dengan lingkungan. Sehingga dalam hal ini juga perlu memerhatikan status kesehatan, yaitu gizi. “Alhamdulillah acaranya luar biasa, menambah pengalaman kami yang masih butuh banyak ilmu ini. Pematerinya juga tidak membosankan sehingga banyak ilmu yang kami peroleh,” cetus Dinda, mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan angkatan 2016, salah satu peserta dalam seminar. Maul

Bagikan informasi ini: