Beribu Maaf Untuk Ibu

header

oleh Maria Ulfa

Judul buku    : Unspoken Words
Penulis        : Alicia Lidwina
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit    : 2018
Tebal        : 312 halaman

“…buku yang wajib dibaca semua orang, terutama yang jarang meluangkan waktu bersama orang tua, khususnya ibu,” begitulah testimoni salah satu pembaca di halaman pertama. Benar saja, di halaman persembahan, Alicia memang mengkhususkan buku ini untuk mereka yang menyimpan beribu maaf, juga untuk mereka yang tidak sempat mengucapkannya.
Unspoken Words mengisahkan tentang Kemuning yang memimpikan ibunya setelah sepuluh tahun ibunya meninggal. Jika hubungan keduanya baik-baik saja mungkin cerita ini tak akan membuat pembaca terenyuh, sayangnya tidak demikian. Dibesarkan oleh single parent, membuat Ning -panggilan  untuk Kemuning- harus berbesar hati hidup pas-pasan. Tak banyak kasih sayang yang Ning dapatkan ketika ia masih kecil, lantaran ibunya harus sibuk bekerja. Ditambah lingkungan ia bersekolah dipenuhi dengan anak-anak berstrata tinggi. Ning kecil mulai merasakan tersisihkan. Alicia dengan baik mengambarkan kesepian yang dirasakan Ning. Perasaan itu perlahan mengubah sifatnya.
Disuguhkan dengan narasi sudut pandang orang pertama, Ning berkisah jika hubungannya dengan bunda mulai tak akrab sejak SMP. Ibunya yang tak pandai memasak, memaksa membawakan Ning bekal ke sekolah. Walaupun, acap kali bekal itu malah dibuang oleh Ning. Komunikasi antara keduanya pun sangat minim. Hal itu terus berlanjut. Ibunya tidak menyukai calon suami Ning bernama Samudra yang perokok. Bunda hanya ingin memastikan kamu bahagia, rupanya hal tersebut dianggap Ning sebagai pertanda tidak merestui pernikahannya. Meski begitu Ning tetap menikah dengan Samudra.
Jarak yang tercipta diantara mereka berdua terus melebar. Klimaksnya saat Ning meluapkan amarahnya pada bunda yang kerap mencampuri urusan rumah tangganya dan Samudra. Mereka tak berkomunikasi lagi setelahnya. Tak lama setelahnya, bunda Ning meninggal. Kemuning yang semula membenci bundanya menyesal dan merasa kehilangan.
Berlatar tahun 1991 hingga 2017, buku ini beralur maju-mundur sehingga pembaca tak merasa bosan membacanya. Berkali-kali Ning memimpikan ibunya. Ia dan Samudra pun mencari tahu mengapa bundanya datang ke dalam mimpi Ning setelah sekian lama. Pembaca pun dibuat bertanya-tanya, apa pesan yang ingin disampaikan bunda kepada Ning?
Pemilihan sudut pandang ‘aku’ menguntungkan Alicia dalam menuliskan perasaan tokoh dengan gamblang. Pembaca pun bisa larut ke dalam latar suasana cerita. Seperti perasaan sesal Ning setelah ibunya telah pergi selamanya, begitu pun perasaan bundanya yang tak sempat mengajari putrinya mencari kebahagiannya sendiri. Namun, jika dicermati lebih lanjut untuk 312 halaman Unspoken Words terasa terlalu panjang. Mengingat premis ceritanya sederhana dan minim konfik antar tokoh. Berbeda dengan karyanya sebelumnya, 3 (Tiga) yang kaya akan pergolakan antar tokoh. Beberapa tokoh dalam Unspoken Words  terasa seperti tempelan. Meski sama-sama bertema keluarga, buku ini memang memiliki cita rasa tersendiri.
Dalam balutan sampul berwarna sendu, kisah dalam buku ini memang kelabu. Pembaca akan dibuat terseduh-seduh saat membacanya. Buku ini juga mengajarkan pembaca untuk memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.
Penulis adalah mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang

 

Bagikan informasi ini: