Buatkan Saja Film Gemar Membaca

oleh Nurul Aini

317_Ilustrasi_Opini-01(1)

Tiap September, kita selalu dihantui isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kita terus saja digiring dalam perdebatan masalah PKI. Kali ini yang jadi pro dan kontra adalah rencana pemutaran kembali film G30S/ PKI.
Saya tidak akan membahas film G30S/PKI. Tapi saya ingin menanggapi pernyataan Presiden Jokowi yang meminta agar film tersebut diproduksi dalam versi yang lebih kekinian agar bisa lebih diterima generasi milenial. Saya kira, daripada memproduksi film G30S/PKI versi baru yang kemungkinan malah akan memperpanjang masalah PKI ini, lebih baik pemerintah merencanakan membuat film propaganda tentang gemar membaca untuk generasi muda.
Pemerintah harusnya lebih risau lantaran sampai saat ini minat baca masyarakat kita masih rendah. Di tengah melubernya arus informasi justru minat baca masyarakat kita masih memprihatinkan. Bagaimana bisa Indonesia menjadi negara yang maju, bila masyarakatnya kurang gemar membaca?


Beberapa studi menyatakan tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Central Connecticut State University pada Maret 2016 menyebutkan bahwa bangsa Indonesia menempati urutan ke-56 dari 60 negara dalam hal minat baca. Studi terkait minat baca yang dilakukan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015 juga masih menempatkan Indonesia di urutan ke-69 dari 76 negara yang disurvei. Pun hasil survei Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), tingkat minat baca bangsa Indonesia menempati posisi kedua terendah dari 61 negara yang disurvei.
Hasil studi tersebut menunjukkan harus ada upaya keras dan cerdas dalam membangun minat dan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia. Nah, di sinilah pentingnya memproduksi  film tentang gemar membaca yang diharapkan bisa mengubah minat baca masyarakat kita. Saya jadi teringat mengenai film kartun Kapten Tsubasa. Singkat cerita, film ini dibuat menjelang perhelatan sepak bola dunia tahun 2002 dengan maksud untuk mengampanyekan sepak bola pada anak-anak di Jepang, dan terbukti ampuh. Sekarang anak-anak di Jepang tumbuh menjadi generasi yang menyukai sepak bola berkat tokoh rekaan tersebut.
Bisakah pemerintah kita mengadopsi cara Jepang itu? Menjadikan film kartun sebagai media kampanye gemar membaca. Pemerintah menggandeng berbagai kalangan seperti pakar pendidikan, sineas, animator dan sebagainya untuk membuat film kartun tentang budaya gemar membaca sejak dini.
Jika film ini digarap, saya yakin akan keberhasilan film ini dalam mengubah minat baca masyarakat kita. Seperti keberhasilan Jepang. Mari kita dorong pemerintah menciptakan film fiksional tentang gemar membaca.
Saya bayangkan nantinya anak-anak menonton film yang tokohnya sukses berkat gemar membaca. Setelah menonton film ini, anak-anak “terbius” oleh si tokoh utama yang hebat dan gemar membaca. Mereka membayangkan bernasib sama dengan tokoh utamanya.
Lalu dalam benak anak muncul keinginan kuat jadi orang yang suka membaca. Tiap hari kemudian ia selalu membaca hingga jadi kebiasaan. Ia selalu kecanduan yang namanya buku. Tanpa membaca sehari saja, ia serasa bingung. Agar kecanduannya terobati, anak minta disediakan perpustakaan mini di rumah. Anak juga akan sering meminta untuk diantarkan ke perpustakaan. Hingga seperti apa yang dikatakan Ernest Hemingway (1899-1961), “Tidak ada teman setia sebagaimana buku”.
Hal itu bukan tidak mungkin terjadi. Sebab film kartun sesungguhnya mampu menggiring perilaku anak. Sebuah penelitian yang dilakukan M. Arsita (2014) tentang pengaruh film kartun terhadap perilaku anak. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa anak-anak cenderung meniru adegan-adegan tokoh dalam film kartun. Jadi, ketika anak-anak sering menonton film yang ceritanya tentang gemar membaca, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tesebut akan mengikuti tayangan film kartun yang dia tonton.
Maka dari itu, membuat film propaganda gemar membaca merupakan pilihan yang masuk akal. Lewat film bisa ditanamkan pada anak-anak, alasan kenapa perlu mengembangkan kebiasaan membaca. Misalnya, dengan membaca kita akan memiliki pengalaman yang lebih kaya dibanding dengan orang-orang yang tidak suka membaca. Kita memperkaya wawasan yang diserap dari bacaan. Kita terus belajar dan menjadikan diri kita lebih berwawasan dalam menjalani hidup.
Membaca membuat kita mengenal pemikiran-pemikiran orang lain, dan cerita-cerita menarik tentang berbagai topik dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita akan meningkatkan kualitas pemikiran. Kita mampu berpikir lebih baik karena kita memiliki cukup sumberdaya pengetahuan untuk melakukan kemampuan analitis, mampu mengatasi masalah dan pengambilan keputusan yang tepat. Tentunya masih banyak lagi bujuk rayu yang bisa diselipkan dalam film kartun untuk memengaruhi anak-anak agar gemar membaca. Sekiranya itu dijalankan, generasi mendatang jadi bangsa pembaca. Yakni bangsa yang masyarakatnya menjadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari kehidupannya. Dengan kata lain, membaca sudah menjadi kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi.
Jika kita sudah menjadi bangsa pembaca, maka kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai isu, seperti isu kebangkitan PKI yang terus dijejalkan pada pikiran kita. Sebab kita mampu memilih dan memilah mana informasi fakta dan kebohongan. Kita juga mampu membedakan kebenaran isi yang dibacanya, dan tidak mudah menyebarluaskan hasil bacaannya sebelum meneliti kebenarannya. Sehingga kita tidak mudah percaya dengan berita atau informasi yang belum diketahui kebenarannya (hoax), apalagi menyebarluaskannya.
Selain itu, bangsa pembaca mampu menggunakan apa yang dibacanya untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Ia memiliki jiwa kreatif dan inovatif berdasarkan pengetahuan atau hasil bacaan yang dimilikinya. Ia dapat secara bijak memanfaatkan pengetahuan hasil bacaannya untuk kehidupan sekitar menjadi lebih baik. Dengan begitu, akan mampu membangun peradaban berdasarkan pengetahuan yang diperoleh lewat membaca. Sejarah membuktikan hanya bangsa pembaca yang bisa jadi bangsa maju dan memiliki peradaban yang dapat dibanggakan.
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan UM

Bagikan informasi ini: