Mengenal Lebih Dekat Maskot UM : Cakrawala

Maskot UM, Tak Terbatas bagai Cakrawala

Hadir sebagai sosok baru, Cakrawala siap menjadi bagian identitas Universitas Negeri Malang (UM). Resmi dirilis pada Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII UM, Cakrawala lahir menyapa publik Graha Cakrawala pada Kamis (17/10). Menyematkan unsur topeng Malangan, Cakrawala difilosofikan sebagai manusia berkemampuan belajar dan daya kreativitas tinggi. Ide maskot tercetus sebagai salah satu jawaban terhadap hal baru yang diinginkan bisa menjadi ciri khas UM. Cakrawala didesain oleh Annisa Larasati, pemenang sayembara Lomba Desain Maskot UM. Sejumlah cerita tertuang dibalik penciptaan maskot Cakrawala ini. Seperti apa kisah seru dan menariknya, semua akan dirangkum dalam Liputan Utama berikut.

Kemunculan Maskot “Cakrawala”

Berlatar belakang peringatan Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII UM Tahun 2019 yang ingin membuat sesuatu bercirikan UM. Diantaranya dengan menggelar Lomba Desain Maskot UM. Maskot UM digadang berfungsi sebagai penggambaran kreativitas dan keberadaan UM yang penuh inovasi dan prestasi. Tak hanya itu, perwujudan maskot sekaligus sebagai upaya promosi dan penanda brand awareness bagi UM. Dampaknya, khalayak umum akan lebih mengenal UM dan mengetahui ciri khas apa yang dimiliki oleh UM selain sebagai pusat pembelajaran.

Sayembara Lomba Desain Maskot UM

Annisa, desainer Cakrawala

Cakrawala didapat dari hasil sayembara Lomba Desain Makot UM dengan peserta seuruh Civitas UM. Tidak dikhususkan untuk jurusan tertentu, siapa pun asal warga UM berhak mengikuti kontes ini. “Di UM memang banyak sekali ahli, apalagi dengan adanya Jurusan Seni dan Desain (Sedesa), tentu tidak diragukan lagi kemampuannya. Namun kami selaku panitia berpandangan bahwa tidak hanya terbatas pada satu dua orang ahli saja, namun lebih memberikan kesempatan kepada semua warga UM baik Dosen, Tenaga Kependidikan, maupun mahasiswa untuk ikut menyumbangkan pikiran, kreativitas, dan inovasi mereka dalam lomba maskot ini”, ujar Ifa Nursanti, S. AP, Kasubag Humas UM.

Cerita Pembuatan Maskot Cakrawala

Annisa Larasati, sosok desainer dibalik pembuatan maskot baru UM “Cakrawala”. Saat mengikuti Lomba Desain Maskot UM, ia tengah dalam rangka menyelesaikan studinya. Uniknya, wanita berkacamata ini juga mengangkat tema pembuatan maskot UM pada karya skripsinya. Berawal dari saran dosen selama bimbingan, ia lebih diarahkan kepada kesukaannya yaitu maskot. Akhirnya skripsi yang ia kerjakan membahas tentang maskot UM “Cakrawala”. Annisa berkeinginan membuat maskot yang berbeda sesuai dengan bidangnya, cukup mudah untuk dikerjakan serta yang tidak realis. Sempat bingung menentukan konsep awal pembuatan maskot, dara kelahiran Malang ini berhasil mencetuskan karakter baru terinspirasi dari budaya Panji “topeng malangan”.

“Awalnya bingung untuk konsep maskotnya itu dalam bentuk apa, kalau hewan sudah menjadi ciri khas Malang yaitu singa. Akhirnya saya menemukan ide untuk membuat bentuk lain dengan wujud menyerupai manusia tetapi merupakan karakter baru yang saya ciptakan,” ungkap Annisa. Bereferensi lambang UM yang berbentuk tanaman, akhirnya ia mencari cara sampai akhirnya menemukan ide tentang topeng malangan. Di dalam topeng malangan sendiri terdapat banyak benda-benda yang menghiasi sang penari. Dicoba olehnya menggabungkan kedua hal tersebut. Berbuah hasil, ia mengonsultasikannya kepada dosen pembimbingnya. Pembuatan maskot dibantu oleh dosen pembimbing yang tidak lain tidak bukan juga sebagai juri kompetisi lomba maskot UM dalam serangkaian acara Lustrum XIII.

Pesaing Lomba Desain Maskot UM

“Saya baru tahu kalau pesertanya juga ada yang dari dosen, dan sempat kepikiran bahwa hasil desain maskotnya tidak akan memenangkan lomba, yang penting mengikuti dengan sepenuh hati dan semangat,” terang perempuan murah senyum ini.

“Pertama kali mengikuti lomba membuat maskot dan pertama kalinya juga menang. Saya tidak pernah mengikuti lomba-lomba sebelumnya, saya lebih berfokus menggeluti yang sesuai dengan hobi saya. Pertama kali mengikuti lomba yang berhadiah uang dan itupun juga dorongan dari dosen pembimbing untuk mengikuti lomba ini. Awalnya juga coba-coba tapi kalau menang ya Alhamdulillah, kalau tidak menang juga nggakpapa,” lanjutnya.

Sebelum mengikuti lomba maskot UM, Annisa sudah sering memenangkan kompetisi lomba maskot namun masih taraf sekolah, ia juga sempat drop tidak ingin mengikuti kompetisi lagi karena ia dikira sebagai salah satu orang dalam yang mengikuti komunitas menggambar. Tetapi dengan dorongan dari dosen dan orang tua akhirnya ia percaya diri untuk mengikuti lomba maskot, serta sekalian menyelesaikan skripsinya.

Alasan memilih topeng malangan sebagai tema maskot

“Saya tidak kepikiran yang lain selain topeng malangan, karena saya terlalu fokus dengan brand UM. Bagaimana caranya untuk memvisualisasikannya dengan tetap mempertahankan elemen yang ada di lambang UM,” jelas Annisa. Topeng malangan dipakai karena mengandung banyak unsur seperti simpang, kace, dan irah-irahan, hal itu yang membuat Annisa akhirnya memakai topeng malangan sebagai tema maskot yang ia buat. Annisa mengungkapkan bahwa topeng malangan mengandung unsur budaya lokal, ia menginginkan ada unsur kota Malang yang simpel tetapi juga enak dipakai.

Tanggapan dari teman terdekat, dosen, keluarga saat mengetahui menjadi pemenang lomba maskot

“Sempat tidak percaya diri karena tidak mempunyai teman dekat, karena teman sudah pada lulus. Saya masih belum bisa lulus karena masih yudisium disertai dengan lomba maskot yang menjadi permasalahan untuk saya dapat lulus. Dengan status yang masih mahasiswi, saya masih bisa mengikuti lomba maskot yang diadakan UM,” terang perempuan asli Sawaojajar ini.

Waktu pembuatan maskot

“Saya tidak bisa memperkirakan, karena saya suka, akhirnya saya bikin sebanyak-banyaknya. Kira-kira satu bulan lebih termasuk revisi dari dosen sampai saat pe-launchingan maskot di acara puncak lustrum ke XIII UM lalu, dan hingga saat ini masih berlanjut untuk penyempurnaan dan pembuatan produk-produk merchandise yang bertemakan maskot UM ‘Cakrawala’,” kata mahasiswi Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ini. Merchandise yang didesain sudah mulai diproduksi dan dipasarkan.

Perbedaan maskot akademik dan maskot hero/pendekar

Perbedaan hanya terletak di baju yang dipakai maskot, awalnya Annisa tidak kepikiran untuk membuat maskot hero atau pendekar. Dikarenakan pihak atasan lebih menyukai maskot yang memakai jas almamater UM atau maskot akademik karena terlihat lebih formal. Sementara itu, dosen lain tidak ingin hanya maskot yang memakai jas saja, tetapi ingin membuat eksperimen lain dan akhirnya dibuatlah maskot pendekar. Maskot pendekar terbesit dari ide atau masukan yang berasal dari juri lomba maskot. Membutuhkan waktu satu minggu untuk membuat maskot pendekar karena perlu memikirkan untuk pembuatan baju maskotnya. Di sisi pembuatan merchandise, saat ini dipilih maskot yang mengenakan jas almamater UM.

Memilih nama “Cakrawala” untuk maskot

Nama Cakrawala adalah nama yang dipilih oleh pemenang Lomba Maskot. Diambil dari nama Gedung Graha Cakrawala yang memiliki harapan yaitu dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang pengembangannya tidak terbatas bagai cakrawala.

Nama maskot sempat tidak terpikiran, tetapi setelah mendapat masukan dari beberapa pihak termasuk almarhumah Aminarti Siti Wahyuni, Kabag Kerjasama dan Humas UM sebelumnya, maka dipilihlah ‘Cakrawala’ sebagai nama maskot UM. Gedung Graha Cakrawala sendiri menjadikan UM dikenal oleh banyak orang dan merupakan landmark yang sudah tertanam di UM. Cakrawala sendiri bermakna dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan target tidak terbatas dan cita-cita setinggi langit yang berangkat dari wawasan seluas cakrawala.

Dampak yang dirasakan setelah menjadi pemenang lomba maskot

“Saya merasa bahagia dan senang walaupun saya merasa masih kurang maksimal karena kuliah pas-pasan tidak seperti mereka yang memiliki keahlian. Walaupun saya masih memiliki kekurangan saya sudah bisa membuat UM bangga dengan maskot buatan saya. Wahhh, saya merasa menjadi bagian dari UM dan juga Alhamdulillah pertama kali juga di keluarga, saya merasa senang berhasil berkontribusi untuk UM,” ungkap Annisa saat ditemui di Graha Rektorat.

Hak Paten dan Hak Cipta maskot UM

Saat ini tim Branding UM sedang proses hak paten yang nanti akan dibantu oleh Lembaga Penelitian Dan Pengandian Kepada Masyarakat (LP2M). Hak paten dan hak cipta dibuat untuk UM tetapi tertulis atas nama Annisa dan tim pengembangan atau juri. Peran tim pengembang sebagai pihak yang merevisi dan sebagai juru bicara untuk pimpinan. Annisa mempresentasikan hasil maskot ke juri, dan juri mempresentsikan maskot kepada pimpinan. “Saya sebagi pembuat utama maskot dan tim pengembang sebagai penyumbang ide seperti pembuatan stiker whatsapp,” imbuhnya.

Makna dibalik maskot UM “Cakrawala”

Mengandung makna berkemampuan belajar dan daya kreativitas yang tinggi, Cakrawala diharapankan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan target tidak terbatas dan cita-cita setinggi langit yang berangkat dari wawasan seluas cakrawala.

Mengangkat kembali makna dari brand UM, kembali lagi kepada penggambaran maskot seperti bintang dan pohon kalpataru yang memiliki arti. Sebenarnya tidak ada makna khusus yang terkandung di dalam maskot, Annisa hanya mengulang kembali makna yang ada di brand UM dan bisa mengangkat citra UM sendiri. Semua tergambar dalam maskot UM yang bertemakan topeng malangan dengan berbagai hiasan yang melekat pada tubuhnya. Sempat menjadi masalah karena bentuk maskot yang terlalu feminin karena topeng malangan identik dengan penari perempuan yang memakai topeng, namun masalah ini sudah terselesaikan. Meskipun banyak kendala juga yang dihadapi selama proses pembuatan tetapi dengan tetap berpegang teguh pada kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, akhirnya maskot dapat tercipta dengan sempurna.

Proses seleksi lomba maskot UM

Proses seleksi pertama diawali dengan mengirim karya dalam satu amplop yang berisi satu lembar konsep desain dan satu lembar karya desain berupa proyeksi merchandise. Annisa sempat bingung dengan ketentuan awal di mana harus menggambarkan konsep di dalam satu lembar tersebut cukup atau tidak, tetapi akhirnya ia mampu menyelesaikannya dan mengirim berkas ke humas. Tahap kedua, masuk sepuluh besar dengan melakukan presentasi desain maskot. Dalam tahap kedua ini sepuluh finalis belum ditentukan siapa pemenangnya, tetapi semua pihak harus melakukan presentasi desain maskot yang dibuatnya. Setelah melakukan presentasi, desain maskot peserta lomba harus direvisi, lalu baru dipublikasi siapa pemenangnya. Hal itu diketahui pada saat acara puncak lustrum yang menjadi pemenang lomba maskot UM.

Annisa terpikirkan kampus UM yang berlokasi di Blitar, kalau di Malang memakai singa, maka di Blitar mau memakai maskot apa? Karena Blitar ikonnya bukanlah singa. Annisa menginginkan di manapun UM berada maskot tetap sama dan tidak sampai terpecah, satu sudah cukup dan bisa mewakili semuanya. Pertama, sebisa mungkin menghindari membuat maskot yang bertemakan singa, serta mendapatkan masukan untuk tidak membuat maskot yang geologis. Kedua, ingin mengangkat budaya lokal topeng malangan. Disertai pula oleh dosen UM yang kebanyakan juga ingin mengangkat budaya lokal. Sejak Annisa awal kuliah, UM sudah banyak membahas tentang topeng malangan sehingga membuatnya tidak terpikirkan hal lain untuk membuat maskot selain bertemakan topeng malangan.

“Riset untuk pembuatan maskot membutuhkan waktu yang cukup lama. Saya juga cukup takut dengan kontroversi yang akan terjadi yaitu tentang skripsi saya yang juga memakai maskot UM, jadi saya merasa sedikit ada rasa curang. Para pesaing yang mengikuti lomba maskot juga melakukan riset yang cukup singkat, tetapi saya yang sudah melakukan riset terlebih dahulu bersamaan dengan skripsi merasa kurang enak. Bahkan saya juga diskusi dengan juri lomba maskot yang sekaligus juga sebagai dosen pembimbing saya,” terang peramu maskot ini. “Selama ini saya orangnya juga tertutup, jadi saya kurang mengetahui siapa yang menjadi lawan saya. Pokoknya saya fokus dengan hasil pembuatan maskot saya dengan banyak berdiskusi dengan dosen pembimbing dan memikirkan kapan skripsi saya ini kelar, hehehe,” tambahnya disertai bercanda.

Sempat tidak percaya diri dengan hasil maskot buatannya yang terbilang cukup simpel dan sederhana, dibandingkan dengan maskot yang sebelumnya sudah menjadi kontroversi yaitu singa dan burung kuntul, serta pesaing maskot lain yang dibuat cukup realis. Tetapi maskot ini ternyata sangat representatif sekali dengan UM. Ditinjau dari tingkat desain yang sudah mewakili banyak komponen yang ada di UM, mengandung unsur budaya lokal. Cukup juga memiliki arti filosofis yang terkandung di dalam maskot UM.

Sempat terlontar celetukan dari berbagai pihak, menanyakan alasan maskotnya tidak bercelana. Awalnya sang desainer ingin membuat maskot yang simpel dan tidak ribet, tidak ingin untuk membuat bajunya juga karena ini adalah maskot yang bukan manusia. Tetapi banyak dosen yang menanyakan, dengan masukan dan pertimbangan akhirnya maskot dipilihkan untuk memakai jas almamater kebanggan UM. Awal mulanya sang desainer mengambil referensi dasarnya dari maskot jepang olimpiade. Ia melihat bahwa maskot yang ada di Indonesia bukan gaya sang desainer, di mana terlihat sekali desain khasnya serta mirip sekali dengan bentuk aslinya. Sedangkan kalau maskot jepang tidak menyerupai persis, ada beberapa unsur yang hilang. Seperti maskot UM Cakrawala yang dibuat, ia memiliki unsur yang hilang yaitu tidak mempunyai hidung dan jari tangannya hanya empat. Di situlah letak keunikan maskot jepang, tidak terlihat mirip sekali dengan aslinya.

Rahasia kemenangan

Rahasia kemenangan dari Annisa adalah selalu mengutamakan konsep ketimbang desain. Ia memang ingin mengutamakan konsepnya dan juri berkata bahwa konsep yang dibuat Annisa terbilang bagus dan masih jarang yang membuat.  “Style utama maskot Cakrawalaku adalah imut, ya itulah style ku ‘imut’. Sedangkan kalau yang lain bisa membuat maskot yang gahar, horor, dan lain-lain,” terang mahasiswi yang sedang menyelesaikan skripsinya ini. “Saya sebenarnya kurang percaya diri dengan hasil maskot buatan saya, namun setelah mengikuti lomba ini saya berpikiran untuk membuat portofolio saya sendiri yang sekarang masih proses pembuatan. Saya berfokus pada bidang yang saya geluti yaitu ilustrasi maskot serta ingin memperkenalkan maskot melalui instagram dan website.

Tanggapan civitas akademika saat pertama kali maskot dilaunching di acara puncak Lustrum UM

Civitas akademika atau keluarga besar UM memberi tanggapan yang positif tentang adanya Maskot UM, terbukti banyak sekali warga UM yang menanyakan kemana harus membeli dan bagaimana caranya mendapatkan maskot ‘Cakrawala’ ini.

Upaya yang dilakukan untuk mengenalkan maskot “Cakrawala”

Humas sudah menyertakan atau menggunakan desain maskot dalam kegiatan promosi seperti tumbler, kaos, jaket, memberikan kepada tamu sebagai suvenir, memberikan kepada lembaga ketika kita melakukan kerjasama di luar maupun di dalam UM.

Peran WR IV di pembuatan dan pengenalan maskot “Cakrawala”

Wakil Rektor IV khususnya sangat komit tentang Maskot, terbukti tim branding harus selalu membuat perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan dalam proses produksi dalam bentuk suvenir.

Ketentuan khusus untuk civitas akademika yang ingin menggunakan maskot sebagai media promosi, pembuatan cinderamata, dll

Semua bentuk desain branding UM akan dilakukan oleh Tim Branding UM yang terdiri dari Dosen Fakultas Sastra, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Keolahragaan. Sedangkan produksi akan dilakukan oleh Pusat Bisnis UM. Sedangkan penjualan bisa melalui Koperasi Pegawai Republik Indonesi (KPRI) UM, Plaza Akademik, dan atau Koperasi Mahasiswa (Kopma). Irkhamin/Tanzilla

Bagikan informasi ini: