Warna-warni Cinta dalam Cerpen Penulis Muda UM

Judul    : Ketawang Puspawarna;

Antologi 20 Cerpen Terbaik Mahasiswa UKMP Universitas Negeri Malang 2008
Penulis    : 20 Mahasiswa UKMP UM
Penerbit     : Babel Publishing
Tebal    : 141 halaman
Cetakan I    : April 2009
Peresensi    : Royyan Julian
Kemunculan cerita pendek seiring menggeliatnya sastra majalah pada era Pujangga Baru dinilai sebagai merosotnya perkembangan sastra Indonesia pada masa itu. Cerita pendek (cerpen) dinilai sebagai karya yang tidak dapat mewakili karya sastra. Namun, dengan berjalannya waktu, kini, cerpen dapat dikatakan sebuah karya sastra yang sejajar dengan karya sastra-karya sastra lain seperti puisi atau novel. Cerpen menjadi genre karya yang dapat membawa penulisnya menjadi seseorang yang dapat diakui kredibilitasnya sebagai sastrawan yang juga mumpuni sebagaimana penulis-penulis sastra lainnya. Sebut saja Danarto, Joni Ariadinata, dan Ratna Indraswari Ibrahim.
Dalam menciptakan sebuah cerpen, penulisnya tidak membutuhkan waktu banyak, sehingga banyak orang yang lebih suka menulis cerpen daripada menulis novel. Selain itu, menciptakan sebuah cerpen tidaklah serumit menulis puisi. Hal inilah yang barangkali dirasakan oleh mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang, sehingga menerbitkan sebuah antologi cerpen yang berjudul Ketawang Puspawarna. Kesibukan mereka sebagai mahasiswa penulis yang juga tentu sibuk dengan kuliahnya, membuat mereka lebih memilih menciptakan sebuah tulisan yang sederhana seperti cerpen dengan tidak menghilangkan esensi mereka sebagai penulis. Dengan diterbitkannya antologi cerpen terbaik ini menunjukkan bahwa mahasiswa UKMP UM semakin eksis. Dikatakan semakin eksis karena setiap tahunnya mereka memang menghasilkan karya-karya yang diterbitkan secara indie. Ketawang Puspawarna adalah buku pertama mereka yang dapat dipasarkan secara luas. Seakali lagi, Ketawang Puspawarna adalah bukti nyata bahwa eksistensi mereka sebagai penulis muda yang produktif ikut serta memajukan dunia tulis-menulis (khususnya sastra) Indonesia dan semakin membuktikan bahwa mahasiswa UM adalah mahasiswa yang berprestasi.
Ketawang Puspawarna adalah sebuah buku pelangi yang di dalamnya terdapat banyak warna. Antologi ini tidak hanya berbicara dalam satu tema cerpen tetapi berbagai macam tema disuguhkan sekaligus dalam buku ini, sehingga antologi dua puluh cerpen mahasiswa UKMP UM ini dapat dikatakan unik. Meski tema-tema yang dibicarakan dalam antologi ini sudah ada dan seringkali banyak ditulis dalam cerpen atau pun karya sastra, tetapi tema-tema tersebut disajikan dengan kemasan yang berbeda. Di sinilah letak kreativitas mereka sebagai penulis muda yang berbakat. Cerpen-cerpen dalam buku ini ditulis dalam tema-tema yang sudah banyak ditulis, namun ide dan gerak-gerik rangkaian alur di dalamnya menjadikan cerpen-cerpen ini begitu istimewa dan sastrawi. Mengutip komentar Ratna Indraswari Ibrahim tentang buku ini, “Sebuah apresiasi dari kaum muda di tengah budaya yang sangat hedonisme. Saya mengacungkan jempol untuk mereka yang masih mau bergulat dengan sastra yang sublim, meteforis dan sendirian.”
Dalam buku yang diterbitkan oleh Babel Publishing ini, tema cinta masih menaungi sub-subtema lainnya dengan pengemasan yang berbeda dengan tema-tema cinta yang banyak ditulis oleh penulis-penulis muda yang cenderung kering. Cinta, dalam cerpen-cerpen buku ini ditulis dengan tidak mengabaikan makna dan nilai. Cerpen “Ketawang Puspawarna”—yang dijadikan judul antologi dan pernah dimuat di Malang Pos—sendiri berbicara masalah cinta yang dihiasi dengan unsur-unsurn kearifan lokal, sehingga memerkaya cerpen ini.
Selain itu, cerpen “Tetangga” sangat menarik, sebab alur dalam cerpen ini ditulis dengan cara mencuri ide cerita dalam sinetron-sinetron yang akhir-akhir ini semakin menjamur di Indonesia dengan mengemasnya ke dalam karya sastra. Sebuah penggalian ide kreatif yang barangkali tak pernah dipikirkan oleh penulis-penulis muda, yakni dengan cara mengeksplor sesuatu yang telah menjadi stereotype yang negatif—macam sinetron. Di sisi lain, cerpen-cerpen dalam buku ini juga berbicara masalah seks, tetapi seks yang disajikan tidak digembargemborkan dan tidak sevulgar apa yang ditulis oleh para sastrawangi Indonesia. Seks, dalam cerpen-cerpen di sini, ditulis dengan halus, sehingga tidak memunculkan cap buruk bagi penulisnya sebagai insan akademis.
Keberagaman tema dalam antologi cerpen ini juga bisa dilihat dari cerpen “Lelaki yang Mengandung Bidadari” dan “Heliam”. Kedua cerpen tersebut absurd bila ditilik dari ide ceritanya. Gaya penceritaan yang riil tidak lagi menjadi sekat. Penulisnya mencoba menerobos realitas dan membumbung tinggi ke atas cakrawala absurditas, sebagaimana cerpen-cerpen yang banyak ditulis dalam sastra koran. Antologi Ketawang Puspawarna juga menggambarkan perjalanan sastra Indonesia yang akhir-akhir ini banyak melahirkan science fiction. Cerpen “Keluhan di Ujung Maut” ditulis dengan bahasa sains, tetapi tidak terjebak ke dalam bahasa sains yang cenderung hanya dijadikan embel-embel tanpa ikut terlibat dalam konflik cerita. Lebih dalam lagi, Ketawang Puspawarna adalah antologi yang bahkan masuk dalam tataran karya yang berbicara tentang falsafah. “Tuhan Tidak Ada” adalah cerpen yang mencoba menelusuri iman dengan cara menerobos dogma-dogma yang selama ini diajarkan oleh lembaga (baca: agama). Cerpen ini sangat tabu bila ditulis pada zaman Orde Baru, karena akan dianggap berbau SARA dan terlalu berani membicarakan apa yang “tidak seharusnya dibicarakan”.
Satu yang dapat ditarik dari buku ini adalah “cinta warna-warni”. Cinta yang dipaparkan dalam banyak sudut pandang. Sangat penting dibaca oleh siapa pun yang merasa sebagai pencari cinta yang tak terbatas. Cinta yang tidak hanya berbicara masalah tetek bengek.

?Peresensi adalah mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2008 yang aktif di Balai Penulis Muda UKMP UM.

This entry was posted in Pustaka. Bookmark the permalink.

23 Responses to Warna-warni Cinta dalam Cerpen Penulis Muda UM

  1. Kadir says:

    bagus, saya sangat sepakat…
    Bangun terus tradisi menulis….

    Numpang ngiklan yah…..

    Telah terbit buku baru,

    MEREKYASA MASA DEPAN: Sebuah Refleksi Untuk Aksi…
    Karya: Syamsudin Kadir/085 320 230 299

    Kata Pengantar Tokoh
    Oleh: Fahri Hamzah, SE, ME
    (Deklarator dan Ketua Umum KAMMI Pusat 1998)

    Anak muda asal Nusa Tenggara yang munuliskan langit pemikirannya dalam buku ini adalah monumen kecil yang tertanam antara tahan-tahun masa transisi kita. Sepuluh tahun usia reformasi sudah berlalu, kini bangsa Indonesia memasuki sepuluh tahun kedua. Tantangan yang dihadapinya pun semakin kompleks, dan karena itu tidak lagi bisa dijawab secara oposisi binner. Gerakan mahasiswa harus turut terjun menyelesaikan problem bangsa dengan narasi besar yang dibawa sejak kelahirannya.

    KAMMI yang dilahirkan sejak awal reformasi telah mengukir sejarah dalam posisinya yang tegas. Kini mengawali kisah sejarah dekade kedua usianya, KAMMI harus terus menyempurnakan diri dengan narasi yang radikal tetapi mudah di cerna. Bangsa ini tidak saja kehilangan orang-orang besar, tetapi juga pikiran besar. Mungkin itu maksudnya, gagasan energik dalam buku ini, penulisnya mengajak KAMMI dan bahkan bangsa ini untuk memulai menemukan formulasi kebangkitannya. Saya menganggap buku ini adalah sebuah “Pustaka ide formulasi baru bagi gerakan mahasiswa untuk (posisi dan peran) Indonesia di masa depan. Karena itu, buku ini adalah hanya layak dibaca oleh mereka yang percaya dengan apa yang mesti mereka peroleh di masa depan”.

  2. Kadir says:

    Contoh tulisan dalam buku ini…

    REFLEKSI ATAS SIKAP KEBANGSAAN KITA

    Gejala-gejalanya sudah meremang di sekujur tubuh negeri kepulauan ini. Pesimisme dan apatisme bukan saja terekspresikan dalam bentuk ungkapan lisan dan perilaku fisik, tapi sudah menjadi senandung mental kebanyakan anak negeri ini; dan mungkin diri kita termasuk di dalamnya. Semuanya memperlihatkan rona muka anak bangsa yang gelisah, mencari pegangan kuat di mana kita bisa mengendalikan perahu layar kita yang diombang-ambingkan oleh ombak besar adab pragmatis, tepatnya kapitalis liberal. Kegelisahan itu tampak sebagai upaya-upaya parsial yang mengalami kesulitan titik temu, karena semua modus titik temu sudah diambil alih dan dikuasai oleh kekuatan dominan. ”Ia tinggal sebagai serpihan”, kata Rendra. Sebagian menarik, tapi sebagian yang lain menggelikan dan mengecewakan. Hasilnya, perilaku, sikap, cara berpikir dan bahkan mentalitas kebanyakan anak bangsa begitu kacau, gamang dan bahkan mengecewakan. Kondisi tersebut terjadi di semua lini.
    Dengan kesadaran yang belum sempurna, harapannya, kita sebagai anak bangsa bisa sadar dan bangkit. Menghimpun serpihan-serpihan pengertian, menyusun satu benteng peringatan dari kenyataan yang kita lihat. Gagasan ini tentu bisa jadi dipahami sebagai gagasan yang tersusun dari pecahan-pecahan ide yang tidak solutif dan cendrung sektoral. Sehingga membuat kita bertanya, apakah ini menyusun jawaban dan solusi atas banyak pertanyaan, tepatnya masalah kebangsaan, atau hanya kerumunan ’gila’ yang tidak punya makna apapun untuk semua anak bangsa dalam obsesi menata ulang Indonesia atau bahkan peradaban dunia?

    Realitas Paradok ke-Indonesia-an Kita
    Dunia memang mungkin menyedihkan. Mungkin lantaran itu, begitu oksigen pertama kita hirup, rasa nyeri, sesal dan nestapa kontan menyerbu, sehingga kita meneriakinya dalam tangisan seduh tanpa henti; walaupun dalam konteks di masa kini mungkin hanya dengan tangisan hati nurani. Tak cukup dengan itu, dari detik pertama kita ada, bahkan sejak berada dalam janin, ternyata kita sudah menyerah: mau tidak mau menerima tawaran, semacam paksaan dunia. Sesuatu yang tampak given, pemberian, walau sebenarnya adalah choices, tawaran atau pilihan.
    Dunia adalah tawaran yang dengan begitu kerasnya mendesak kita, sehingga kita tidak lagi berpeluang untuk menolaknya. Betapapun itu mungkin dalam kuasa atau genggaman kita. Maka demikianlah kebudayaan dan peradaban dunia semacam ‘globalisasi kapitalisme’ berjalan, meminta semua kita untuk ikut serta, pada saat di mana kita menolaknya. Inilah bentuk otoriterianisme, juga penaklukan atau kolonialisme pertama yang paling purba dalam sejarah manusia. Begitulah dunia mengajak kita untuk berdebat dengan sebuah zaman yang penuh intrik. Bukan saja adat-istiadat, tradisi dan segala pernik serta dimensinya, memenjara dan menelikung sekujur hidup kita, mulai dari ranjang bayi kita yang pertama (bahkan disinyalir) hingga ranjang di lahat nanti; tapi juga aturan budaya moderen, dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, hukum kemudian meminta kita untuk menjadi makhluk yang ’tak lagi bisa memilih’; menyerah tanpa perlawanan. Menjadi manusia yang kalah dan menyerah secara total, kita menjadi korban. Kita menjadi manusia jinak dan dijinakkan oleh trend dunia global yang membisu.
    Tak perlu kita menghitungnya satu persatu. Karena semuanya ada dalam setiap hidup kita yang sedang berjalan. Pertanyaan-pertanyaan mudah dan retoris seperti di awal, dapat menyerbu kita. Tanpa ada satu kata pun dapat kita produksi sebagai jawabannya. Dapatkah, misalnya, kita menolak untuk berbusana dengan gaya atau mode global yang kumuh dan terus terperbarui dengan nilai-nilai impor? Dapatkah kita menghindar untuk tidak berbelanja di tempat-tempat para -meminjam istilah M.H. Ainun Najib– ”penjual pantat”? Atau bisakah kita menjauhkan diri dari TV yang menjual tubuh atau adegan yang tidak perlu dipertontonkan? Sungguh, kini menjadi nyata apa yang disinggung oleh M.H. Ainun Najib ketika menanggapi spekulasi masyarakat mengenai goyang ’Inul’ dan beberapa artis beberapa tahun yang lalu, ”sulit membedakan mana dubur dan mana muka”.
    Pernyataan ini tidak bermaksud mengajak anak-anak negeri tercinta ini untuk berpikir jorok dan kembali hidup sebagimana pada zaman purba yang penuh keterbatasan. Tapi ini sebagai koreksi total budaya impor yang sudah tak keburu urus. Dan begitulah kenyataannya. Sebagai bangsa kita telah ditaklukan, dan kita seakan-akan tidak punya pilihan lain. Budaya-budaya impor seakan telah berubah posisi, dari sekedar sebagai ’perusak moral’ ke ’perusak peradaban’. Lihat saja di berbagai negara atau bahkan kota besar negeri ini, bagaimana ’budaya-budaya telanjang’ sudah merajalela, dan sepertinya sudah tidak dianggap sebagai pelanggaran asusila lagi. Semuanya dikemas dalam baju ’HAM’. Entahlah, siapa yang salah; tapi sekarang bahkan di sini, di negeri ini, kita hidup bersama kondisi-kondisi itu. Bukan karena apa-apa sebetulnya, tapi karena memang kita diatur oleh sistem nilai yang membuat kita menutup diri dengan nilai khas kebanyakan anak negeri tercinta ini. Bahkan umat islam, misalnya, hanya menjadi penduduk mayoritas dalam angka, tapi selalu mengambil posisi minoritas dalam proses-proses merumuskan penyelesaian masalah bangsanya.
    Di sisi lain, tepatnya urusan perut, kini menjadi lumrah, jika sebagai bangsa kita juga sebagai pemamah sempurna barang-barang dengan gaya konsumtif, terpesona infotainment dan kadang kita tidak memahaminya. Kita telah jinak dengan ’sampah-sampah’ itu. Sebagai anak bangsa kita masih malu dengan produk-produk ’saudara-saudara’ kita sendiri; saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia. Yang jika dilihat tentu masih memiliki nilai dan tidak kalah saing secara kualitas.
    Pada tingkat lebih tinggi, apakah elit bangsa kita dapat menghindar dari logika global tentang sebuah pemerintahan: yang perlu memiliki satuan militer dengan kelengkapan dan senjata yang sama dan super mahal tapi tidak daya guna, padahal di luar ’meja kekuasaan’ masih banyak perut lapar yang tak terurus? Kemudian masuk ke dalam satu sistem pasar dan ekonomi yang terintegrasi sedemikian rupa secara global dengan mekanisme ribawi yang menjerumuskan? Lalu dengan bangga mengupayakan demokrasi dan pasar bebas, dengan kelengkapan-kelengkapan kenegaraan dengan logika politik yang serba impor?
    Menjadi manusia, menjadi negara, menjadi sebuah bangsa adalah ketertundukan dan kemenyerahan kita pada atribut dan aturan logis yang menyertainya, betapapun dia asing dan kadang tidak logis bagi komprehensi dunia ke-Indonesia-an kita. Kita adalah makhluk yang jinak untuk menerima itu semua tanpa kuasa bahkan untuk sekedar menolak atau mengubahnya.
    Semua hal yang memilukan itu disebabkan oleh kerancauan atau bahkan oleh ketidaktahuan kita tentang di bagian mana seharusnya kita menerima, mempertanyakan atau menolak hal-hal yang seakan-akan given, pemberian. Selain itu, kita juga kerap melakukan kekeliruan dalam menyikapi berbagai kondisi yang menyebalkan, seperti pertama; Kita rancau dalam mengidentivikasi subjek atau bahkan substansi masalah. Kita berteriak-teriak memprotes kenaikan tarif tol, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), korupsi, birokrasi macet dan lain-lain. Tapi kita menerima dengan ikhlas sistem yang melahirkan itu semua: kapitalisme, demokrasi yang pragmatis dan tidak dimaknai secara substansial. Kedua; Kita pun rancau dalam mengenali sumber dari sebuah masalah. Ketika kita ribut tentang dana pendidikan, IPM, harga buku yang mahal, kebebasan berekspresi; di sisi lain kita justru membela dan meminta-minta pemerintah memperlakukan aturan HAM yang semu, kebebasan dengan berbagai instrumennya, hak intelektual dan seterusnya. Ketiga; Kita pun rancau dalam membedakan domain dari sebuah masalah, ekonomi maupun politiknya. Kerapkali misalnya kita anti monopoli, perjanjian tak sehat serta meminta perlindungan atas usaha kecil-menengah dan tradisional. Tetapi kita tetap saja beli sedan toyota dan seterusnya. Kita adalah pemburu, tak berpeluru. “Salah tembak lagi”, kata Radhar Panca Dahana dalam bukunya Resis Book seri Ideologi.
    Segala kerancauan di atas umumnya terjadi karena kita secara tidak sadar menetapkan satu pihak walaupun banyak pihak yang menjadi sasaran atau kepentingan politik kolektif kita, yaitu kekuasaan; tepatnya pemerintah. Ini memang berlatar historis, dan tentu tanpa bermaksud melakukan pembelaan terhadap penguasa yang sedang berkuasa; namun yang menjadi hal penting untuk dikoreksi adalah kegelapan cara pandang kita yang tertipu bahkan terjinakkan oleh cara pandang yang dilansir oleh kepentingan di luar pemerintah, yaitu –meminjam istilah Samuel P. Huntington- modal dan kapital. Artinya, kita sering menentang paradigma pemerintah, tapi pada saat yang sama kita manja menggunakan paradigma modal dan kapital. Di sisi lain, slogan politik seperti membela rakyat dengan ekonomi kerakyatan hanya berhenti pada iklan dan tidak sampai pada agenda. Sehingga semuanya hanya menjadi serpihan yang tak berujung pada keutuhan kepentingan rakyat banyak.
    Selain itu, dalam konteks kepemimpinan nasional, kita pun harus terus mencari. Kita terus mencari ’Bapak Bangsa’ yang pandangan mata dan gerakan bibirnya akan membuat jiwa-jiwa muda ’berani berkubang darah dan mati berkalang tanah’. Kita masih menunggu pemimpin adil yang mampu membawa kita keluar dari berbagai keterpurukan. Kita menanti jiwa-jiwa pahlawan, yang jiwa dan raganya tak malu berkorban demi keutuhan negara dan kesejahteraan rakyat banyak. Kita tentu masih rindu dengan manusia-manusia yang mampu membawa kita untuk menerjemahkan misi istimewa bangsa ini: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini semua adalah agenda idealis kita untuk masa depan bangsa ini, terutama Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia.
    Dalam konteks yang lebih sederhana, merekayasa bentuk masa depan Indonesia berarti mengkonkretkan sejumlah kebutuhan sebagai berikut:
    Pertama, model-model represi ideologis dan mobilitas politik yang keliru mesti dikikis habis. Pengalaman pemecahbelahan negara bangsa Uni Soviet, Yugoslavia dan Chekoslovakia mengajarkan kepada kita bahwa bangunan ke-Indonesia-an akan menjadi rapuh jika diisi oleh manusia-manusia yang terkekang dan tertindas di bawah represi ideologis dan mobilitas politik yang menindas.
    Kedua, menjaga masa depan ke-Indonesia-an adalah mengatasi krisis keadilan dan pemerataan. Kegagalan negara-negara liberal dalam mengkongkretisasi proyek keadilan sosial ternyata terbukti sangat efektif untuk meruntuhkan bangunan negara bangsa. Begitu juga di beberapa negara komunis. Artinya, berbicara tentang masa depan Indonesia atau bahkan dunia adalah implementasi nilai-nilai keadilan dan pemerataan.
    Ketiga, megelola civil society secara proporsional dengan rumus kendali: pemberian otonomi secara proporsional dan pemberian kendali secara arif. Otonomi dalam konteks ini adalah pemberian ruang yang luas bagi keterlibatan anak bangsa dalam berkontribusi. Tentu yang mesti dipahami dalam konteks ini adalah adanya sistem yang mengatur.
    Keempat, memenej keragaman sikap primordial, agar tidak tersulut menjadi api separatis. Keragaman bukanlah indikasi kehancuran dan perpecahan, karena lebih bijak jika diposisikan sebagai syarat bagi adanya kerjasama dan kekompakan dalam satu tim besar: tim masa depan atau tim impian.
    Kelima, menjaga keutuhan peran kepemimpinan berdasarkan konstitusi dan mengelola secara matang kesinambungan regenerasi kepemimpinan bangsa. Dalam konteks menata masa depan, yang mesti menjadi ide besarnya adalah ‘integrasi dan regenerasi generasi’. Mengenai pertangungjawaban generasi tua atas berbagai amanah yang diembankan di atas pundak mereka dan pengembangan potensi generasi muda untuk masa depan. Karena generasi mudalah yang memiliki tanggungjawab mengenai apa yang terjadi di masa depan. Artinya, ruang regenerasi mesti dibuka lebar, agar potensi energik generasi muda itu terkelola dengan baik.
    Kelima hal itulah yang menjadi agenda krusial kita dalam menemukan keutuhan masa depan bangsa ini, baik dalam ranah lokal dan nasional maupun ranah global.

    Renungan Akhir
    Tentu kita berharap gagasan provokatif ini tidak berefek pada munculnya ‘budaya bertengkar’ di antara kita sebagai anak bangsa dalam ‘mencaci maki’ sebuah realita. Karena kita semua memiliki tekad yang sama untuk sebuah agenda jangka panjang, membangun kesadaran masa kini yang bersumber pada bacaan terhadap sejarah masa lampau dengan setingan masa depan yang tercerahkan.
    Lalu, siapakah yang memiliki peluang besar untuk berada pada posisi itu? Dalam konteks Indonesia, apakah generasi muda siap berada pada posisi dan mengambil peran itu? Sejarahlah yang akan menjawabnya. Yang jelas, Ali Syari’ati, Sosiolog kondang dari Iran mengingatkan bahwa ”pada setiap zaman ada sekelompok orang yang tidak bisa dimasukkan pada kelompok massa karena pengetahuannya yang tinggi, akan tetapi tidak juga bisa digabungkan kepada kelompok elit karena keusilannya menampilkan gagasan-gagasan kontroversial yang sering membuat merah kuping banyak kalangan. Mereka menyimpang dari mainstream, melenceng dari zeitgeist, dari nada zamnnya. Mereka itulah kelompok para pemikir yang tercerahkan, raushanfekr”. Kata Ali Syariati, ”jika kita mau melihat masa depan suatu masyarakat, maka kita harus melihat pada karakteristik kelompok yang ’menyimpang’ ini. Merekalah yang bakal membentuk masa depan”.
    Sebagai penutup, ada baiknya jika kita merenungi kembali apa yang disampaikan oleh M. Natsir dalam tulisannya ‘Revolusi Indonesia’ pada buku Capita Selecta (1954) berikut ini:

    ”Saat kita mencari-cari jalan.
    Kita harus menjawab pertanyaan
    ‘Hendak kita isi dengan apa Negara ini?
    Bagaimana mengisi kemerdekaan itu?’
    Pertanyaan-pertanyaan demikian harus kita jawab,
    untuk kepentingan generasi yang di belakang,
    para pemuda dan pemudi yang akan menggantikan kita”.

  3. Kadir says:

    Contoh tulisan dalam buku saya…

    GLOBALISASI ISLAM:
    MENUJU PERADABAN BARU DUNIA

    Perkembangan peran-peran gerakan islam dalam perbaikan masyarakat, negara bahkan dunia semakin menuai hasil, terutama dalam pembentukan pandangan publik yang islami. Tesis ini memang seakan tidak populer, terlebih jika tidak ditopang oleh contoh nyata dalam realita kebangsaan dan dunia secara global. Atau dalam istilah lain, tesis ini hanyalah mimpi yang tidak realistis, tepatnya belum realistis.
    Pembahasan ini tidak bermaksud merumitkan diri kita dalam berdialog dan mendiskusikan defenisi gerakan islam, tapi ingin mencoba memahami sebuah tema penting yang kini sering didialogkan oleh banyak kalangan, yaitu globalisasi. Berbicara tentang globalisasi dan gerakan islam, yang terlintas dalam benak kita adalah pertama bisa jadi kesan pertentangan dan pertarungan, ada hitam dan ada putih. Tidak ada wilayah abu-abu. Untuk itu, globalisasi dan varian-variannya masih menjadi tema yang terus didialogkan oleh berbagai kalangan. Karena itu juga, pembahasan berikut bisa menjadi ide sekaligus sebagai prespektif dialog yang mesti kita lanjutkan.
    Dalam konteks peradaban Barat, bisa dikatakan bahwa globalisasi merupakan lanjutan dari Perang Dingin, atau globalisasi bisa dianggap sebagai sebuah periode sejarah. Selanjutnya dari sisi globalisasi sebagai fenomena ekonomi. Di mana globalisasi disifati sebagai rangkaian fenomena ekonomi. Ia mencakup liberalisasi, privatisasi dan lain-lain. Lalu apa yang salah dengan globalisasi? Cara terbaik untuk memahami defenisi Globalisasi –dalam hal ini konteksnya Kapitalisme- ialah dengan menelaah buku karya Frances Fukuyama, The End of History and The Last Man The End of History and The Last Man, yang terjemahan Bahasa Indonesianya sudah diterbitkan oleh Penerbit Qolam.
    Akhir Perang Dingin merepresentasikan hasil dari pertarungan ideologis yang dimulai sejak usainya Perang Dunia II. Hal itu menandai difusi dan asimilasi kemampuan teknologi, finansial dan institusi Barat, khususnya Amerika. Dalam defenisi ini, globalisasi secara normatif adalah sesuatu yang baik, yang mempresentasikan kemenangan modernisasi dan demokrasi yang didefenisikan sebagai ‘pembangunan ekonomi industri yang melibatkan karakteristik keterlibatan aparat negara yang terbatas, konsep perwakilan dalam pemerintahan dan konsep kebebasan dalam kehidupan.’ Dalam hal ini orientalis, tokoh dan ilmuwan ‘Barat’ menyebutnya dengan istilah Universalitas Barat.
    Pada perbincangan global, globalisasi sering diidentikkan dengan sebuah pemikiran ideologi kapitaslisme yang komprehenship dan meliputi segenap aspek kehidupan, meskipun aspek yang menonjol adalah ekonomi. Globalisasi sering dipahami sebagai serangan total peradaban kapitalisme yang melanda seluruh pelosok dunia –termasuk dunia islam– dan merupakan serangan yang sangat ganas dan mematikan dengan senjata kapitalisme untuk melumpuhkan seluruh bangsa di dunia, termasuk kaum muslimin.
    Sebagai ideologi, kapitalisme memiliki azas dan metode. Azas atau bisa disebut juga sebagai landasan dari kapitalisme adalah sekulerisme, yaitu sebuah pemahaman yang memisahkan antara agama dari kehidupan, tepatnya kehidupan publik. Artinya, kapitalisme percaya bahwa Tuhan itu ada dan menciptakan dan menurunkan wahyu, tetapi itu hanya untuk mengurusi agenda-agenda keagamaan. Dan karenanya, ia tidak bisa dibawa ke dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya atau aspek-aspek publik lainnya. Ini juga bermakna bahwa agama hanya mengatur urusan antara manusia dengan Tuhannya, cukup di situ dan ‘haram’ untuk mengurusi yang lain. Jika pemaknaan globalisasi dipahami seperti ini, maka berdasarkan pandangan dan doktrin-doktrin islamnya umat islam sepakat bahwa globalisasi mesti tidak dijadikan sebagai paradigma atau identitas umat.
    Terlepas dari adanya dinamika diskusi dan keragaman pendapat seputar globalisasi, dalam konteks diskusi dan dialog, sebenarnya sangat sulit untuk menempatkan globalisasi dalam satu kerangka intelektual yang homogen, sebab ia didiskusikan dan didialogkan oleh banyak orang dengan latar belakang yang heterogen.

    Obsesi Islam Merebut Identitas Global
    Islam adalah agama global dan universal. Tujuannya adalah menghadirkan risalah peradaban islam yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spirit, akhlak maupun materi. Di dalamnya, ada aspek duniawi dan ukhrowi yang saling melengkapi. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh dan integral. Universalitas atau globalitas islam menyeru semua manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan deferensiasi lainnya. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam al-Qur’an,

    ”Al-Qur’an itu hanyalah peringatan bagi seluruh alam”. (Qs. at Takwir:27)

    Semenjak abad VII H., nabi Muhamad SAW. sudah menerapkan konsep globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya ketika beliau mengirim utusannya membawa surat-surat beliau kepada para raja dan para pemimpin di berbagai negara tetangga. Di antara para raja dan pemimpin itu adalah Raja Romawi dan Kisra Persia. Dengan demikian, ketika beliau wafat maka seluruh bangsa Arab sudah mampu meneruskan globalisasi yang telah dirintis oleh beliau. Perlu dipahami bahwa globalisasi islam berangkat dari kesatuan antara tataran konseptual dan tataran aktual, dan ini merupakan salah satu keistimewaan islam. Bahkan menurut Fathi Yakan, globalisasi islam memiliki keistimewaaan-keistimewaan, yaitu: Memiliki keseimbangan antara hak dan kewajiban; Membangun suatu masyarakat yang adil dan memiliki kekuatan; Memiliki landasan atau konsep kesetaraan manusia tanpa diskriminasi, baik status sosial, etnis, kekayaan, warna kulit dan sejenisnya; Menjadikan musyawarah sebagai landasan sistem politik; Menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi masyarakat untuk mengembangkan bakat-bakat kemanusiaan dan lain-lain

    Demi kepentingan cita dan kreasi-kreasi jangka panjang yang lebih substansial, umat islam harus memahami globalisasi tidak dalam kerangka kekuasaan yang berpusat pada satu pihak. Sebagaimana globalisasi tidak harus diapahmi sebagai hegemoni ekonomi dan kekuatan militer semata. Adalah terlalu optimis jika umat islam melihat dunia sebagai satu kesatuan. Atas nama masa depan yang lebih baik dan pemaknaan secara substansial atas nilai-nilai islam dalam cita idealis menyusun peta baru dunia, kita sebagai umat islam juga punya alasan untuk bisa menikmati globalisasi, tentu sesuai dengan defenisi yang tidak bertabrakan dengan framework kita.

    Globalisasi Islam: Sebuah Kesadaran Sejarah
    Globalisasi yang kita pahami adalah globalisasi islam. Dalam kerangka filosofis keumatan, kita harus memahami bahwa islam adalah aturan universal yang bisa menjangkau dunia. Ia bisa melampaui ruang dan waktu, dan tak terbatasi. Globalisasi islam adalah proses mengglobalkan nilai-nilai universalitas, seperti toleransi, kebersamaan, keadilan, kesatuan, musyawarah dan lain-lain. Yang terpenting untuk dipahami bahwa bagi umat islam standarnya bukanlah berpijak pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, politik dan keserakahan budaya. Karena pijakannya yaitu wahyu, dan orientasinya adalah sebuah upaya totalitas dalam kebaikan, ketegasan untuk menegasikan kemungkaran demi cita-cita luhur penghambaan kepada Allah semata. Inilah yang kita istilahkan dengan cita-cita peradaban. Dalam hal ini teori Kuntowijoyo berada pada posisinya yang tepat. Kuntowijoyo mengistilahkannya dengan liberasi dan humanisasi yang dibingkai oleh nilai-nilai transendensi. Hal ini bisa dicermati pada isyarat Allah dalam Qs. Ali Imran ayat 110,

    ”’kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”.

    Ayat tersebut memberi isyarat kepada kita mengenai arti kesadaran sejarah bagi umat islam, yaitu yang diistilahkan oleh Kuntowijoyo sebagai aktivisme sejarah. Artinya, umat islam mesti terlibat dalam pergulatan sejarah.
    Jadi, pelakunya adalah ’umat’, dan tingkah lakunya adalah ’menyuruh kepada yang ma’ruf’, ’mencegah dari yang mungkar’, dan ’beriman kepada Allah’. Menurut Kuntowijoyo, dalam konteks masa kini, ’menyuruh kepada yang ma’ruf’ akan berarti humanisasi dalam budaya, mobilitas dalam kehidupan sosial, pembangunan dalam ekonomi dan rekulturasi dalam politik.
    ’Mencegah dari yang mungkar’ berarti berusaha memberantas kejahatan. Misalnya, pelarangan penjualan narkotika, pemberantasan korupsi dan lain-lain. Itu juga berarti liberasi dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Theology of Liberation dalam islam dapat diambil dari ayat ini. Liberasi adalah pendekatan revolusioner, yang dalam konteks Indonesia masa kini biaya sosialnya terlalu mahal, sehingga jalan ini sulit ditempuh. Karena itu, umat islam hanya mengambil substansinya, yaitu usaha yang sungguh-sungguh. Revolusi biasanya berarti kekerasan, pembunuhan dan perusakkan. Dalam islam ada larangan berbuat kerusakan, sehingga revolusi negatif mesti dihindari.
    ’Beriman kepada Allah’ berarti transendensi. Dalam dunia yang penuh kejolak materialisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme seperti saat ini, kedudukan transendensi menjadi penting. Umat islam mempunyai kepentingan untuk memasukkan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam level nasional bahkan sampai pada level global. Kesadaran sejarah seperti ini berarti keterlibatan secara aktif dalam rekayasa sosial global, berarti juga kesadaran kenabian atau kesadaran profetik.

    Antara Tabrakan dan Dialog Peradaban
    Meski runtuhnya gedung WTC (World Trade Centre) di Manhattan pada tanggal 11 September 2001 sudah berselang beberapa waktu, namun pelbagai efeknya hingga kini masih terasa. Tragedi yang menelan banyak korban ini, menguatkan teori benturan peradaban yang diusung oleh dua tesis kesohor, yaitu The Clash of Civilizations and The Remaking of The World Order karya Samuel P. Huntington, dan The End of History and The Last Man karya Francis Fukuyama, di mana keduanya masih pasang surut.
    Secara garis besar, kedua penulis tesis tersebut sama-sama menekankan kedigdayaan peradaban Barat di atas peradaban lain. Hanya saja, Samuel P. Huntington selain menekankan hal tersebut, dia juga optimis akan kemenangan mutlak peradaban Barat dalam perang kebudayaan. Sedang Francis Fukuyama menegaskan, bahwa kapitalisme –identitas primer peradaban Barat modern– akan mengalahkan ideologi lain, seperti Marxisme sebagai rival utamanya. Dia juga optimis, bahwa pada akhirnya, kapitalisme –dengan pasar dan perdagangan bebas sebagai propagandanya– akan menjelma menjadi agama manusia selamanya.
    Sayyid Yasin, seorang sosiolog Mesir, menyuguhkan buah karyanya Hiwâr al Hadhârât; al-Gharb al-Kawnî wa al-Syarq al-Mutafarrid. Buku ini merupakan respon terhadap perkembangan wacana dialog peradaban yang memeras keringat para filsuf, sejarahwan, dan sosiolog sejak tahun 90-an, yang merupakan respon positif guna mencari solusi menanggulangi problem antar peradaban. Di dalam buku ini, penulis berusaha menarik dialog peradaban dari sekedar wacana menjadi tindakan riil, berupa universalitas politik dan budaya.
    Buku tersebut dibagi ke dalam dua sub-tema. Pertama, peradaban; antara dialog dan benturan, yang mencakup tiga hal, yaitu menelisik akar dialog antarperadaban, problem Barat sentris dan orisinalitas budaya, serta situasi pasca-tragedi 11 September 2001. Kedua, dialog Palestina-Israel sebagai sampel ideal dialog peradaban, di mana keduanya berada pada dua pilihan; damai atau perang.
    Sebagai sosiolog, Sayyid Yasin memfokuskan analisanya pada aspek krusial sehubungan dengan perkembangan yang turut mewarnai paradigma belakangan ini. Dalam analisanya, konsep dialog peradaban bergeser seiring pergeseran zaman; corak dialog peradaban antara zaman modern berbeda dengan post-modern. Zaman post-modern sebagai metode baru berpikir, penetrasi universal, hubungan tanpa batas, koalisi teritorial dan revivalitas nasionalisme, telah mampu merubah konsep dialog peradaban berikut aplikasinya.
    Dampak tragedi 11 September 2001 kian merambah ke pelbagai bidang: politik, ekonomi, budaya, militer, dan pemikiran di belahan Dunia. Dunia pun dibuat ketar-ketir olehnya. Tragedi tersebut bisa menjelma menjadi sumbu provokatif yang dapat merangsang terjadinya benturan antarperadaban –Barat dan Timur [Islam]. Melihat hal itu, Sayyid Yasin gencar mendiskusikan wacana dialog peradaban dan menawarkannya sebagai solusi guna menghindari benturan tersebut.
    Sebelum memasuki ranah dialog, dia menggulirkan konsep peradaban di abad 21 serta mengilustrasikannya dengan merujuk buku The Social and Culture Dynamics karya Betrym Sorokin. Dia menemukan bahwa Sorokin membedakan konsep peradaban (civilization) dari kebudayaan (culture); peradaban didefinisikan sebagai teori yang menekankan pada perangkat dan produk materiil, sedang kebudayaan menurutnya adalah teori yang memprioritaskan nilai dan sisi riil.
    Hampir senada dengan Betrym Sorokin, Arnold Toynbee, filsuf sejarah, menegaskan bahwa peradaban dunia bersifat terbatas, sementara kebudayaan beraneka ragam dan unlimited. Namun Sayyid Yasin –dengan mengekspansi pelbagai konsep peradaban dan kebudayaan– menggusur disparitas konsep peradaban dan kebudayaan versi Betrym Sorokin dan Arnold Toynbee.
    Sayyid Yasin mendefinisikan “dialog peradaban sebagai ekspresi atas proses sejarah yang mengagas –setelah berakhirnya perang ideologi antara kapitalisme dan marxisme sepanjang abad 20– sisi keserasian antar peradaban besar dunia berdasarkan pada kerelaan sebagai asas manajemen masyarakat universal”.
    Selanjutnya, dia menukil pendapat Muhammad Khatami tentang beberapa fondasi filosofis-historis dialog peradaban: pertama, membentangkan terma dialog ke pelbagai aspek, baik filosofis, historis, serta menindaklanjuti teori-teori para pemikir; kedua, menguraikan makna hakiki dan metaforis dari terma dialog; ketiga, dialog pasca-Perang Dunia II di bidang kebudayaan, ekonomi, sosial, dan politik; dan keempat, dialog antarperadaban masa silam.
    Selain itu, Muhammad Khatami menawarkan beberapa syarat realisasi dialog peradaban. Pertama, sikap untuk berubah, kedua, visi, dan ketiga, inklusivitas. Dengan memenuhi tiga syarat tersebut, suatu peradaban akan tetap eksis. Sayyid Yasin menjelaskan lebih jauh syarat ketiga di atas. Menurutnya, peradaban yang mengklaim dirinya sempurna adalah peradaban statis dan dengan sendirinya akan binasa, karena tidak belajar dari peradaban lain dan tidak mengadapsi konsep-konsepnya.
    Melihat kegemilangan peradaban Barat, Sayyid Yasin merasa kecewa terhadap peradaban Arab Islam yang menyia-nyiakan waktu, seraya larut dalam perdebatan sekitar ‘teori penyerapan’ antarperadaban dan melahirkan dua kubu besar, yaitu, pertama, kubu ‘tradisionalis kustodian’ yang berpandangan bahwa, teori penyerapan akan menghanguskan orisinalitas kebudayaan suatu peradaban, kedua, kubu ‘reformis idealis’ yang menyerukan teori penyerapan seluas-luasnya.
    Dia juga menawarkan ciri-ciri baru harmonisasi universal, di mana dengan itu upaya modernisasi akan mampu melenyapkan reversi kaum fundamentalis. Pertama, toleransi budaya yang berasaskan relativitas dalam menghadapi rasisme, Eropa-sentris dan individualisme. Kedua, kemenangan relativitas pemikiran atas absolutisme ideologi. Ketiga, menggalakkan demokrasi di segala bidang. Keempat, merevival masyarakat domestik dan mereduksi negara-sentris. Kelima, merevival masyarakat sipil dalam menghadapi cengkraman negara di pelbagai bidang. Dan keenam, keseimbangan antara nilai-nilai materiil, spiritual dan humanis.
    Sayyid Yasin menilai, bahwa “dialog peradaban belum menunjukkan hasil yang signifikan, di samping karena konsep yang ditawarkan para filsuf, sejahrawan dan sosiolog belum jelas, juga batasan pembahasannya masih rancu, yang semestinya ditentukan dan diperjelas sehingga usaha untuk mencari titik temu dalam pelbagai hal bisa dicapai”.
    Apapun pendapat kita terkait dengan apa yang disampaikan oleh Sayyid Yasin ini, yang jelas buku ini sangat cocok bagi siapa pun yang memiliki antusiasme atau pemerhati masalah-masalah sosial yang menaruh harapan besar akan perdamaian dunia, terlebih lagi bila dikonsumsi oleh pihak yang sudah mempunyai basic tentang peradaban. Walaupun di dalamnya, penulis tidak membahas secara detail akar-akar, konsep dan pelbagai hal yang harus dijadikan landasan dialog peradaban. Karena di dalamnya lebih fokus menjelaskan mengenai isu-isu terkini dan pandangan para tokoh yang masih layak untuk didiskusikan lebih mendalam.
    Terbaca dari ulasan data dan gagasannya, penulis menaruh harapan besar terwujudnya dialog peradaban, sehingga tidak lagi sekedar wacana, akan tetapi bisa dikembangkan dan menjadi usaha riil dalam mengharmoniskan hubungan antar peradaban, khususnya peradaban Barat dan Timur (Islam). Dalam penilaian penulis, peradaban Barat telah menghegemoni dunia, seakan-akan ia menjelma sebagai “polisi tunggal dunia”. Sedangkan peradaban Timur terkesan mengisolir diri seraya mempertahankan jati diri konvensionalnya.
    Usaha penulis untuk merealisasikan beberapa gagasan di dalam karyanya ini, tentunya masih membutuhkan uluran pemikiran konstruktif-inovatif, sehingga benar-benar bisa dijadikan sumber acuan bagi generasi mendatang agar lebih peka dalam merespon pelbagai perkembangan yang senantiasa bergulir tanpa henti.
    Masih terkait dengan upaya membangun dialog peradaban, 19 Maret 2008 Muhammadiyah Online (www.muhammadiyah.or.id), menampilkan sebuah tulisan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif yang cukup membawa warna baru dalan konteks wacana atau gagasan mengenai hubungan antar peradaban. Dalam tulisan tersebut, Syafii Maarif menjelaskan, “Mohammad Khatami, sang reformis, kelahiran 29 September 1943 di Ardakan, Provinsi Yazd, jauh sebelum terpilih jadi presiden Iran untuk dua periode (1997-2001/2001-2995) dikenal sebagai seorang pemikir kontemplatif. Namanya telah melambung tinggi di dunia akademik global, sekalipun sebagai presiden dianggap kurang berhasil. Bagaimana mau berhasil, jika kekuasaannya dibatasi oleh sistem demokrasi peralihan, jika bukan demokrasi semu”.
    Masih menurut Syafii Maarif, “Seorang presiden Iran tak punya otoritas legal atas berbagai lembaga negara dan aparat keamanan: polisi, tentara, pengawal revolusioner, dan lain-lain; juga tidak atas radio negara, peradilan, penjara, dan sebagainya. Dalam sistem yang semacam ini, akan sangat sulit bagi seorang presiden untuk menjalankan mesin kekuasaannya secara efektif dan berdaya jangkau jauh. Di atas presiden masih bersemayam supreme leader (pemimpin tertinggi): Ali Khamenei yang punya hak kata putus. Itulah sebabnya Khatami tidak bisa memenuhi janjinya saat kampanye untuk memberi izin pendirian sebuah masjid untuk non-Syiah di Tehran, karena pemimpin tertinggi tidak memberi lampu hijau.”
    Terlepas dari itu, Khatami adalah seorang pembicara yang memukau melalui lensa filosofis yang artikulat. Jika Samuel P Huntington sejak 1993 melontarkan gagasan “benturan peradaban” yang menghebohkan dunia itu, Khatami membantahnya dengan menawarkan solusi “dialog peradaban” di forum PBB dan di fora bergengsi lainnya. Gagasannya mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan, karena disampaikan secara santun, mendalam, dan ditinjau dari banyak dimensi. Salah satu kumpulan pemikirannya diterbitkan Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, 2003, dua tahun sebelum ia melepaskan jabatan kepresidenannya untuk digantikan oleh Mahmoud Ahmadinejad, figur yang lebih dekat dengan kelompok garis keras, mantan wali kota Tehran.
    Bagi Khatami, jika dunia mau dijadikan kawasan yang adil, dialog peradaban harus dilakukan dalam posisi setara antara Barat dan Timur. Pendekatan kaum orientalis terhadap Timur, khususnya Islam, bukan dalam bingkai dialog, tetapi Timur telah dijadikan sasaran kajian Barat yang merasa dirinya superior. Ujungnya adalah penaklukan Timur oleh Barat dalam bentuk kolonialisme dan imperialisme yang sangat menyengsarakan rakyat jajahan dalam tempo yang lama. Khatami berdalil: “Dialog antara peradaban memerlukan kesediaan mendengarkan kepada dan mau mendengar peradaban dan kultur lain, dan pentingnya mendengarkan pihak lain sama sekali tidak kurang nilainya dari berbicara terhadap pihak lain.”
    Khatami juga mengkritik perkembangan Renaisans yang dinilainya sudah salah arah. Semula, katanya, Renaisans bukan untuk membangkitkan kembali kultur Yunani klasik, tetapi untuk merevitalisasi agama dengan menyuntikkan kepadanya sebuah bahasa baru dan gagasan segar. Dengan bahasa yang baru, penganut agama tidak boleh membelakangi dunia, tetapi harus menghadapinya.
    Tetapi karena sudah salah arah, Renaisans telah menyimpang dari tujuan semula. Pembukaan dunia malah berubah menjadi penaklukan dan penundukan yang kejam. Bukan saja alam yang ditaklukkan, apinya kemudian juga menyebar untuk membakar masyarakat manusia. Akibatnya kemudian, berlakulah dominasi manusia terhadap alam dan ilmu-ilmu kealaman, terhadap manusia dan kemanusiaan. Eropa sendiri telah menjadi mangsa karena terlalu bertumpu pada rasionalitas, melalui buah pemikiran para pemikir dan filosuf mereka.
    Di sinilah perlunya dialog dengan Timur yang dapat menyediakan prinsip keseimbangan dan saling pengertian. Timur memanggil Eropa dan Amerika untuk memberi tekanan lebih atas keseimbangan, ketenangan, dan kontemplasi dalam perbuatan mereka. Dengan demikian, memberikan sumbangan kepada tegaknya perdamaian, keamanan, dan keadilan di muka bumi. Pertanyaan kita adalah: apakah Barat dalam suasana mental yang masih congkak seperti sekarang ini punya telinga kearifan untuk mendengar Timur yang pernah dijajahnya?
    Jika Barat belum juga punya telinga untuk mendengar tuturan orang lain, di mata Khatami, yang berlaku bukan dialog, tetapi monolog. Dalam pada itu, Khatami juga mengimbau pihak Timur, khususnya umat Islam, agar mau membuka mata dan hati untuk mengapresiasi capaian-capaian Barat yang positif untuk membangun jembatan dialogis, demi tegaknya sebuah keseimbangan antara peradaban. Kesimpulan kita adalah; Barat dan Timur harus saling menghargai, dan watak Barat yang mau menang sendiri dan angkuh harus dibenamkan ke bawah debu sejarah; dunia sudah berubah!
    Khatami, yang pernah menjadi pemimpin Islamic Centre di Hamburg, Jerman sebelum kejayaan Revolusi 1979, melihat bahwa penggerak utama peradaban bukanlah dari fungsi ras dalam diri, akan tetapi pemikiran intelektual –bahwa perbedaan yang ada dalam berbagi peradaban itu merupakan hasil pemikiran dan bukan kultur semata. Dalam konteks menggagas kembali ide mengenai dialog peradaban, kita mesti mengapresiasi keunikan dan kecerdasan imajinasi Khatami tersebut.
    Walaupun ketika terjadi Revolusi 1979 di Iran, pengamat intelijen bahkan ahli strategi Amerika Serikat memperediksi bahwa Iran itu akan jatuh 2 atau 3 tahun lagi, namuni ternyata, realitas berbicara lain. Karena yang terjadi justru sebaliknya, ini merupakan awalan sekaligus lanjutan bagi kebangkitan dunia islam. Menurut Khatami, pada saat dunia tengah diributkan masalah kematian manusia akibat munculnya modernitas yang mencoba mengalahkan akar-akar tradisi dengan programnya, pembangunan, maka yang harus dilakukan bukanlah berdiam diri dan bertekuk lutut di hadapan peradaban Barat; tapi yang mesti dilakukan adalah menawarkan atau menyuguhkan proposal peradaban. Dalam konteks peradaban, gagasan ini kemudian dikenal dengan Dialog Peradaban. Gagasan-gagasan Khotami tersebut bisa dibaca dalam buku yang dalam edisi Indonesia diterjemahkan oleh Penerbit Mizan dengan judul Membangun Dialog Antarperadaban: Harapan dan Tantangan.
    Kemudian, apa yang mesti difokuskan oleh umat islam khususnya gerakan pemuda islam dalam menjemput impian itu? Kita mesti menyadari sebuah realita bahwa ada jarak yang terbentang jauh antara wacana pemikiran bahkan nilai islam dengan realitas umatnya, termasuk generasi mudanya. Sehingga semakin jauh jarak dan masih panjang waktu yang ditempuh umat ini sampai kepada takdir kejayaannya. Artinya, tesis yang mengatakan bahwa kemenangan merupakan hadiah yang pasti datang, akan terlambat bahkan tidak akan datang jika syarat takdirnya tidak dipenuhi secara matang.
    Untuk itu, sebelum melakukan langkah-langkah strategis lain, yang mesti dilakukan oleh generasi muda islam adalah tertuju kepada realitas itu, bahwa harus ada pemetaan yang jelas dan akurat tentang realitas umat, baik realitas historisnya maupun realitas kekiniannya, dan dengan melakukan perbandingan-perbandingan sejarah, (yang kemudian) dari situlah kita bisa merumuskan agenda-agenda kebangkitan yang mesti kita tunaikan.
    Dalam konteks itu, beberapa hal berikut menjadi layak untuk dijadikan sebagai agenda mendesak yang mesti kita fokuskan.

    Pertama; Penguasaan atas referensi keislaman
    Jika membaca kisah kenabian Muhamad SAW. dan generasi utama setelah beliau ternyata banyak pesan historis yang sangat luar biasa. Sehingga sampai saat ini kita bisa melihat dan merasakan bagaimana islam itu berkembang pesat, bahkan kita juga bisa menikmatinya secara tulus. Dan yang menjadi energi tangguh sekaligus sebagai tolak ukur kemajuan pada masa itu adalah penguasaan atas referensi utama keislaman. Coba kita bayangkan bagaimana cerdasnya ‘Aisyah ra. yang bisa menjadi referensi para sahabat yang lain ketika Rasulullah SAW. meninggal. ‘Aisyah ra menjadi referensi ilmu yang sangat luar biasa pada umur belasan tahun. ‘Aisyah ra. tentu tidak begitu saja menjadi referensi. Karena ’Aisyah ra. pasti memiliki kapasitas pengetahuan yang sangat luar biasa. Demikian juga sahabat Abu Bakar ra., Umar ra., Utsman dan Ali ra.
    Kisah berikut akan mengingtkan kita mengenai sebuah kekuatan yang menunjang ketangguhan peradaban islam pada zaman sahabat. Suatu saat Ali bin Abi Tholib ra. didatangi beberapa orang dan menanyakan mana yang lebih mulia antara ilmu dan harta. Ali ra. menjawab: ’Lebih mulia ilmu. Ilmu menjagamu, harta kamu harus menjaganya. Ilmu bila kamu berikan bertambah, harta berkurang. Ilmu warisan para Nabi, harta warisan Fir’aun dan Qarun. Ilmu menjadikan kamu bersatu, harta bisa membuat kamu berpecah belah….’. Dalam sejarah hidupnya Ali ra. –juga Abu Bakar ra., Umar ra., Ibnu Abbas ra. dan para sahabat yang lain—lebih menyibukkan diri mencari ilmu, berdakwah dan berjihad daripada sekedar mengumpulkan berkarung-karung uang atau emas. Utsman bin Affan ra. dan Abdurrahman bin ’Auf ra. yang terkenal dengan kekayaannya pun selalu ingin mendengar ilmu dari Rasulullah SAW., meskipun mereka adalah milyarder yang sukses dalam berbisnis.
    Generasi yang berilmu atau tradisi membangun masyarakat berilmu ini telah diproklamirkan Rasulullah SAW. semenjak ayat al-Quran yang pertama turun. Ayat Iqra’, bacalah, telah mengubah sahabat-sahabat Rasulullah Saw. dari orang-orang jahiliyah yang suka mabuk-mabukan, main perempuan, berleha-leha, menipu, egois dengan harta kekayaan menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Mengubah generasi-generasi Arab jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, menjadi pemimpin-pemimpin dunia yang disegani di seluruh kawasan dunia saat itu.
    Tradisi baca, tulis-menulis dan diskusi begitu hidup saat itu. Tiap ayat al-Quran turun, Rasulullah SAW. memerintahkan kepada sahabat dekatnya untuk menulis, Zaid bin Tsabit ra., Ali bin Abi Thalib ra. dan lain-lain. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang. Rasulullah SAW. bahkan menugaskan Abdullah bin Said bin al-Ash ra. untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah. Juga memberi mandat Ubadah bin as Shamit ra. mengajarkan tulis menulis ketika itu. Kata Ubadah ra., bahwa ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya, setelah mengajarkan tulis menulis kepada Ahli Shuffah. Sa’ad bin Jubair ra. berkata: “Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata:” Hapalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.” (Lihat Prof. Mustafa Azami, 2000)
    Semangat mereka dalam memburu ilmu pengetahuan makin tinggi, berkat pemahaman terhadap al-Quran yang banyak ayat-ayatnya mendorong agar umat islam senantiasa menggunakan akalnya. Ibnu Taimiyah rohimallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa banyak sahabat yang tinggal di asrama untuk mengikuti madrasah Rasulullah SAW. Menurut Ibnu Taimiyyah, jumlah orang yang tinggal di dalam Suffah (asrama tempat belajar), mencapai 400 orang.
    Menurut Prof. Azami, Rasulullah SAW. mempunyai sekitar 65 sekretaris yang bertugas menulis berbagai hal khusus. Khusus menulis al-Quran: Ali bin Abi Thalib ra., Zaid bin Tsabit ra., Utsman bin Affan ra. dan Ubay bin Ka’ab ra. Khusus mencatat harta-harta sedekah: Zubair bin Awwam ra. dan Jahm bin al Shalit ra. Masalah hutang dan perjanjian lain-lain: Abdullah bin al Arqam ra. dan al Ala’ bin Uqbah ra. Bertugas mempelajari dan menerjemahkan bahasa asing (Suryani): Zaid bin Tsabit ra. Sekretaris cadangan dan selalu membawa stempel Nabi: Handhalah ra. (Lihat “Kuttabun Nabi”, Prof. Mustafa Azami)
    Generasi selanjutnya, seperti Jabir ibn Abdullah ra. menempuh perjalanan sebulan penuh dari kota Madinah ke kota ‘Arisy di Mesir hanya demi mencari satu Hadits. Ibnu al-Jauzi ra. menulis lebih dari seribu judul. Imam Ahmad ra. pernah menempuh perjalanan ribuan kilomater untuk mencari satu hadits, bertani untuk mencari rezeki dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun. Imam al-Bukhari ra. menulis kitab Shahih-nya selama 16 tahun dan selalu sholat dua raka’at setiap kali menulis satu hadits, serta berdo’a meminta petunjuk Allah SWT. Sehingga karyanya menjadi contoh teladan, tujuan para ulama dan pemuncak cita-cita. Imam Nawawi ra. (wafat 676 H), penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu’, dan Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam.
    Dalam masalah tradisi ilmu ini, Prof. Wan Daud menyatakan bahwa kejayaan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung pada kuat atau tidaknya budaya ilmu pada bangsa itu. “Pembinaan budaya ilmu yang terpadu dan jitu merupakan prasyarat awal dan terpenting bagi kesuksesan, kekuatan dan kebahagiaan seseorang dan suatu bangsa. Suatu individu atau suatu bangsa yang mempunyai kekuasaan atau kekayaan tidak bisa mempertahankan miliknya, atau mengembangkannya tanpa budaya ilmu yang baik. Malah dia akan bergantung kepada orang atau bangsa lain yang lebih berilmu. Kita telah melihat sendiri betapa beberapa negara minyak yang kaya-raya terpaksa bergantung hampir dalam semua aspek penting kehidupan negaranya kepada negara lain yang lebih maju dari segi keilmuan dan kepakaran. Sedangkan unsur lain, yaitu harta dan tahta, bersifat eksternal dan sementara. Keduanya bukanlah ciri yang sejalan dengan diri seseorang atau suatu bangsa tanpa ilmu yang menjadi dasarnya. Sebaliknya jika ilmu terbudaya dalam diri pribadi dan masyarakat dengan baik, maka bukan saja bisa mempertahankan dan meningkatkan lagi keberhasilan yang ada, malah bisa memberikan kemampuan untuk memulihkan diri dalam menghadapi segala kerumitan dan tantangan,” papar Guru Besar ISTAC Malaysia ini.
    Hanya orang-orang yang rabun pemikirannya yang menyatakan bahwa kejayaan atau kemunduran suatu individu atau bangsa karena harta atau kekayaan materi semata. Bangsa Brunei, Kuwait dan Arab Saudi yang kaya raya, kenyataannya tidak menjadi bangsa yang hebat, maju atau disegani dunia. Orang-orang ‘Barat’ dengan pengetahuannyalah, yang ‘menyetir’, mengeksplorasi sumber-sumber daya alam yang kaya di Saudi, Kuwait dan lain-lain. Bahkan juga bisa dibilang ekonomi dan politiknya.
    Tentu, kejayaan ilmu sekuler, meski bisa menguasai teknologi dan peradaban manusia, ia tidak dapat memberikan kebahagiaan jiwa manusia. Karena landasan keilmuan mereka memang dibangun dari kegelisahan jiwa, keragu-raguan dan tidak pernah mengalami keyakinan. Sehingga kita lihat meski telah mengalami kemajuan teknologi, ‘Barat’ tidak dapat mengobati penyakit jiwa manusia. Banyak orang ‘Barat’ yang pintar tapi jahat atau pintar tapi curang, culas dan lain-lain. Seperti sistem ekonomi dan politik dunia yang bekerja saat ini pun yang dibangun dengan penjajahan atas Iraq, Palestina, Afghanistan dan pemiskinan negara-negara berkembang melalui World Bank, PBB, IMF dan lain-lain.
    Penguasaan individu atau masyarakat kepada ilmu pengetahuanlah yang akan mengantarkan kejayaan sebuah bangsa. Dalam konteks ini, teori Kuntowijoyo, mengenai pengilmuan islam, berada pada posisinya yang tepat. Peradaban Islam yang berdiri ribuan tahun telah membuktikan semuanya. Dan kini kita meninggalkan jejak, sejarah dan budaya kita sendiri, meniru-niru jejak ‘Barat’ yang mengagung-agungkan materi dan keduniaan. Padahal al-Quran mengingatkan bahwa persatuan atau kemajuan bangsa yang sejati adalah dengan aqidah Islam, bukan dengan harta benda semata. Allah SWT. berfirman,

    “Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Anfal: 63)

    Dalam kancah modern, tepatnya abad 20, kita bisa membaca sejarah perkembangan gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin. Salah satu keunggulan gerakan ini pada awal-awal pendiriannya adalah kontribusi tokohnya, Hasan al-Banna. Kontribusi beliau adalah mengubah wacana menjadi sebuah gerakan. Yang beliau lakukan adalah mengkaji ulang referensi utama islam: al-Qur’an dan as-Sunnah, untuk kemudian mencoba menemukan ruh islam dari kedua sumber tersebut. Setelah itu beliau mengkaji ulang sejarah kaum muslimin dan kemudian membandingkannya dengan sejarah-sejarah umat lain. Dari referensi normatif (al-Qur’an dan as-Sunnah) dan referensi emperis (sejarah peradaban islam dan peradaban lainnya serta realitas kekinian umat islam dan umat lainnya), beliau kemudian menyusun ulang sebuah anasir (semacam proposal) yang diperlukan oleh umat islam untuk bangkit kembali.
    Pelajaran penting dari fenomena-fenomena tersebut adalah bahwa dalam dunia yang penuh dengan kreasi ini, penuh dengan tantangan yang mengglobal seperti saat ini, yang harus kita lakukan adalah merasionalisasikan pemahaman yang kita yakini secara terbuka yang dilandasai oleh ‘penguasaan’ atas ilmu pengetahuan atau kemampuan ‘mendialogkan islam’ secara global dengan bahasa zamannya. Sehingga ketika melangkah itu dengan kepastian, ketika bersikap itu dengan ketegasan tanpa ragu sedikitpun. Dan peran ‘berani tampil’ ini merupakan langkah cerdas yang lebih kontekstual dengan kondisi manusia saat ini. Karena tampilannya adalah tampilan yang mengedepankan kewarasan intelektual dan bukan emosional semata. Untuk selanjutnya, biarlah dunia menonton dan segera menjadikan islam sebagai referensi utama peradabannya.
    Kita berharap, suatu saat dunia akan mencatat bahwa sebuah fenomena luar biasa yang terjadi di abad 21, pada saat globalisasi kapitalisme mulai runtuh, akan tumbuh sebuah peradaban yang diawali oleh membudayanya tradisi intelektual di kalangan umat islam, khusunya generasi mudanya. Suatu saat sejarah akan mencatat, ‘Barat’ takut dan bahkan bertekuk lutut di hadapan peradaban islam. Manusia dalam sejarah masa depan juga akan bertanya, apa penyebabnya? Maka sejarah akan memberikan jawaban dengan mengatakan ‘salah satu penyebabnya adalah ketegasan umat islam dalam bersikap. Ketegasan sikap ini dibentuk oleh kultur intelektual yang ‘menjelajahi’ ruang-ruang pikiran umat islam terutama mahasiswanya; generasi mudanya. Sehingga ketika mereka mengeluarkan sikap keumatan dalam konteks peradaban, itu dilakukan dengan mengambil intisari teori-teori keilmuan yang realistis dengan kebutuhan zamannya.’
    Yang jelas, kebangkitan umat islam akan tercatat oleh sejarah dengan berbagai dinamika yang memiliki syarat-syaratnya tersendiri; yang tanpa itu kebangkitan hanya sekedar menjadi wacana dan tidak akan pernah ada dalam realitas kehidupan dan sejarah. Untuk itu, yang mesti kita lakukan adalah merumuskan syarat-syarat itu, agar proposal kepemimpinan umat yang sering didengungkan bisa diwujudkan sesegera mungkin.

    Kedua; Penyiapan cadang kepemimpinan
    Penyiapan cadang kepemimpinan tentu mengarah kepada kaderisasi atau regenerasi dan penyolidan simpul-simpul umat dan anak bangsa. Mengenai kaderisasi kepemimpian cukup banyak hal yang mesti difokuskan. Tetapi sebagai gagasan awal penjelasan pertama bisa dijadikan sebagai rujukan; terutama sebagai upaya mengubah wacana menjadi gerakan.
    Yang jelas, generasi muda mesti menceburkan diri dalam realitas umat. Generasi muda harus membawa diri ke ruang-ruang komunitas umat secara langsung. Hidup bersama mereka, memberikan pengarahan atas apa yang mereka bingungkan, memberikan jawaban atas apa yang mereka tanyakan. Sehingga yang terjadi adalah pembentukan pola pikir, pola tingkah, pola sikap dan seterusnya; dan tidak berhenti pada komunikasi dan hubungan berdasarkan kepentingan sesaat.
    Adapun mengenai penyolidan simpul-simpul umat, ada banyak hal yang mesti kita pikirkan bersama. Kita perlu bersyukur bahwa selain sebagai negeri yang bermayoritas muslim terbesar, Indonesia juga memiliki banyak keunikan lain. Kita memiliki banyak komunitas, lembaga atau organisasi kemasyarakat islam, baik yang fokus dalam masalah-masalah sosial, pendidikan, kesehatan maupun yang lainnya. Baik yang berada di ruang lingkup masyarakat secara langsung maupun di ruang lingkup pelajar dan mahasiswa. Ini semua adalah kekayaan sekaligus sebagai khazanah yang sangat luar biasa. Kita tentu berharap semua elemen-elemen umat bersatu padu dalam bingkai yang sama yaitu ukhuwah islamiyah, dengan agenda bersama membangun peradaban baru dunia dengan islam, yang diawali dari penyatuan seluruh elemen umat dalam merekayasa kebangkitan negeri ini.
    Artinya, Indonesia harus menjadi inisiator sekaligus pelaku utama kebangkitan islam dalam merekayasa peta baru peradaban dunia. Jika ini yang menjadi titik tolak obsesinya, maka dalam waktu yang tidak lama kebangkitan islam akan menjadi kenyataan, dan itu berawal dari Indonesia. Negeri ini adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Karena itu, negeri ini idealnya mesti menjadi pelaku utama dalam meretas peran-peran besarnya sebagai juru bicara kebaikan-kebaikan Islam di belahan dunia.

    Ketiga; Penguatan diplomasi dan jaringan
    Kalau kita membaca sejarah kenabian Muhamad SAW., maka kita akan mendapatkan catatan penting bahwa kekuatan jaringan dan masifikasi diplomasi adalah dua hal yang menyatu dan tak terpisahkan dalam agenda perjalanan dakwahnya. Dengan dua kekuatan ini Rasulullah SAW. dan para sahabatnya mampu membangun sebuah peradaban besar sampai Madinah. Beliau dan para sahabatnya menjalin hubungan politis, ekonomis bahkan lintas budaya dengan berbagai suku dan tokoh-tokoh yang ada. Dari sini bisa kita pahami bahwa awal penyebaran islam diskenario oleh manusia-manusia yang sangat unggul dalam berdiplomasi dan memiliki keluasan jaringan. Sehingga dampaknya masih kita rasakan sampai saat ini.
    Dalam konteks ke-kini-an, terutama terkait dengan bacaan kita terhadap realitas dalam cita-cita merebut identitas global dengan Islam, maka hal ini menjadi penting dan harus menjadi pikiran seluruh elemen umat dan bangsa ini. Bangsa Indonesia, khususnya umat islam harus memulai dan lebih serius merambah ke ranah-ranah ini. Untuk itu jugalah, kemampuan berbahasa asing menjadi penting. Kita mesti terharu dan perlu bangga dengan diadakannya Lomba Debat Bahasa Arab se-Asean pada pertengahan Juli 2007 lalu di Malaysia yang diselenggarakan oleh Universitas Sains Islam Malaysia dengan tema “Menjadikan Bahasa Arab sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Diplomasi”. Waktu itu Indonesia diwakili oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Islam Negeri Malang Jawa Timur dengan prestasi juara III, setelah diungguli oleh ‘utusan’ kawakan intelektual muslim dari Universitas Islam Antara Bangsa yang sudah biasa dengan belasan bahasa Asing seperti Bahasa Arab, Inggris, dan Mandarin. Selain itu, kita juga mesti bangga dengan kunjungan aktivis mahasiswa muslim yang tergabung dalam Gabungan Mahasiswa Islam Se-Malaysia (GAMIS) ke KAMMI Daerah Bandung Jawa Barat, 3-5 Juli 2008 yang lalu. Walaupun pertemuannya sederhana, namun banyak hal yang dibicarakan, termasuk masalah pengkaderan dan obsesi gerakan pemuda islam dalam menata peta baru dunia. Ini merupakan awalan bagi pemuda dan mahasiswa muslim Asia Tenggara dalam menunjukkan identitas peradaban yang telah lama dilupakan. Ini juga menunjukkan bahwa ke depan aktivis gerakan pemuda dan mahasiswa muslim, harus mau melakukan komunikasi terbuka dengan gerakan pemuda dan mahasiswa muslim di tingkat dunia.
    Yang jelas, saat ini islam sudah mulai berkembang dan mengambil posisi strstegis dalam kancah dialog global. Islam sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas peradaban politik global yang sangat kental. Kita berharap fenomena semaraknya umat islam kembali kepada islam benar-benar menjadi kecemasan kolektif ’Barat’, setidaknya dengan kecemasan Lord Cambell di Inggris pada tahun 1902 tentang akan terbitnya matahari islam atau ketika Samuel P. Huntington mengingatkan masyarakat Barat akan ancaman konflik peradaban dalam skala masif antara ’Barat’ dengan Islam dan antara ’Barat’ dengan aliansi Islam-China, sebagaimana yang dijelaskan dalam bukunya The Clash of Civilization.
    Untuk mempertajam pemahaman kita mengenai beberapa hal di atas, alangkah baiknya jika kita merenungi pesan gerakan di balik keunikan firman Allah dalam Qs. al-Hasyr:13,

    “Sungguh eksistensi kalian sangat ditakuti di dalam sanubari mereka ketimbang (takut) pada Allah. Hal itu (tiada lain) karena mereka adalah kaum yang tidak faqih.”

    Ayat ini menurut Rijalul Imam (2008:5-6), menjelaskan bahwa ’eksistensi ummat yang disegani tersebut tiada lain karena ketidakfaqihan (ketidakmengertian) musuh-musuhnya. Musuh yang tidak memahami lawannya akan merasa takut pada lawannya. Dalam konteks peradaban -bisa dikatakan- bahwa peradaban yang tidak menguasai lawan peradabannya akan merasa takut pada lawannya yang menguasai peradabannya secara utuh.’
    Melalui ayat tersebut juga bisa dipahami bahwa rahasia kekuatan umat islam terletak pada mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari akhir ayat tersebut, yakni kefaqihan ummat pada agamanya. Kuncinya ada pada al-fiqh. Yang dimaksud al-fiqh di sini bukanlah fiqih dalam terminologi ilmu hukum Islam semata. Lebih dari itu, al-fiqh sesuai dengan makna dasarnya adalah al-fahmud-daqiq atau pemahaman yang mendalam mengenai substansi dan berbagai sisi agama dan peradabannya. Jadi mengetahui (al-‘ilm) saja tidak cukup, perlu ditingkatkan ke level memahami (al-fahm). Tapi memahami juga tidak cukup, perlu pendalaman hingga pada tingkat pemahaman yang mendalam (al-fiqh) atau al-fahmud-daqiq.

    Renungan Akhir
    Setiap masyarakat dan peradaban memiliki nilai-nilai yang diyakini. Kedudukan nilai dalam sebuah komunitas atau dalam tatanan global sekalipun bukan sekedar sebagai pemandu tetapi juga sebagai pemberi arti bagi kreativitas yang dilakukan. Nilai yang mengharmonisasikan keragaman yang terdapat dalam sebuah tatanan seharusnya menjadi sebuah panorama kehidupan yang indah. Posisi nilai yang begitu penting, maka ia selalu melekat kuat dalam kehidupan. Ia menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas hidup pengusungnya. Nilai yang sudah tertanam dalam jiwa dan mentradisi itu menjadi energi yang mendorong seseorang atau sebuah komunitas untuk selalu bertekad dalam menegakkan dan bahkan membelanya.
    Dalam konteks cita merebut identitas global, identitas nilai yang dimaksud adalah nilai ke-universalitas-an islam. Kemampuan untuk menyukseskan agenda ini adalah ujian sekaligus (seharusnya) menjadi fokus setiap elemen umat islam yang harus memilih jalan ini. Sehingga dengan demikian proposal meretas jalan kebangkitan Islam sebagaimana yang ditawarkan oleh Hasan al-Banna seperti yang disampaikan oleh Dr. Abdul Hamid al-Ghozali dalam bukunya ’Haula Asasiyat al Masyru’ al Islami Li Nahdhoh al-Ummah’ segera kita tunaikan. Untuk selanjutnya, biarkanlah sejarah yang akan bercerita, bahwa umat islam telah memberi hadiah peradaban gemilang kepada seluruh umat manusia di atas kemuliyaan islam yang sempurna; Allahu Akbar! []

  4. Kadir says:

    Terima kasih….yah…

  5. Kadir says:

    MEREKAYASA MASA DEPAN: SEBUAH REFLEKSI UNTUK AKSI

    (Itu buku baru ku)

  6. nida says:

    @ Kadir
    terimakasih tulisannya.. hanya saja web ini bisa untuk komentar tulisan-tulisan yang ada di web ini, jika And amau mengirimkan artikel, silakan dikirim via emai: komunikasi_um@ymail.com

  7. nida says:

    @Kadir

    Salam kenal.

  8. Kadir says:

    Salam kenal jugal
    Semoga menjadi generasi baru yang mampu menakluk masa depan dengan membangun tradisi membaca dan menulisl Oke. Rahin2 membaca ya

    Cp, : 085 320 230 299

  9. royyan julian says:

    amin…..

  10. Creatine says:

    Real superb visual appeal on this site, I’d value it 10 10.

  11. Philly photo booth, previously perceived mostly as a family vacation-occasion uniqueness, are experiencing a revival in craze these days. Then again Classic Photo Booths are generally virtually no longer relegated to shore walks and game facilities; instead, these are starting to be a strong extremely prominent fixture at cultural gatherings, which range from birthday celebration events and First Holy Communions to marriage ceremony and corporate parties.

  12. ahdklawjhdakw hdkawjhdaklwdh kahwdkawh kajwhdkaljwh akwdhkwadh

  13. lol, a different site that wont display correctly in K-Melon, bugger

  14. How a lot of an exciting piece of writing, continue creating companion 850427